Angin muson timur menderu di atas hamparan savana Doro Ncanga, membawa debu vulkanik sisa-sisa amukan Tambora berabad silam. Di sini, di bawah langit Sumbawa yang melengkung biru pucat, semesta seolah sedang memamerkan kemahabesarannya. Savana itu adalah permadani emas yang tak bertepi, tempat kuda-kuda liar berlari mengejar bayang-bayang awan, dan tempat di mana takdir seringkali ditenun dari benang-benang kasta yang tajam.
Lalu Samawa berdiri mematung di atas bukit berbatu. Rambutnya yang legam berkibar liar, serupa ilalang yang tumbuh di celah-celah cadas. Ia adalah anak seorang penggembala kerbau, pemuda yang kulitnya telah dikeraskan oleh garam laut dan dipanggang oleh matahari Tana Samawa. Di tangannya, sebatang seruling bambu digenggam erat, namun nadanya telah lama hilang sejak ia menyadari siapa yang ia cintai.
Di hadapannya, Lala Rarang berdiri dengan keanggunan yang menyakitkan mata. Ia adalah putri tunggal seorang Datu, pemilik ribuan ternak dan tanah yang batasnya hanya bisa dilihat oleh elang. Nama "Rarang" berarti indah, dan ia memang seindah embun pagi yang bertengger di pucuk daun jati. Namun, di tanah ini, keindahan seringkali menjadi penjara. Ralin—begitu ia akrab dipanggil—adalah daun yang halus, hijau, dan rapuh, sementara Samawa hanyalah ilalang liar yang dianggap merusak pemandangan taman istana.
"Ayahku telah menyiapkan kuda pacu terbaik untuk hantaran pertunanganku, Samawa," suara Ralin bergetar, lebih tipis dari desir angin di daun asam. "Minggu depan, aku akan dibawa ke seberang Teluk Saleh."
Samawa menatap cakrawala, tempat laut dan langit beradu dalam garis yang kabur. "Kenapa cinta kita harus diukur dengan jumlah kerbau di kandang, Ralin? Apakah matahari pernah bertanya pada tanah, apakah ia pantas disinari? Kita bernapas dengan udara yang sama, tapi kenapa kasta membangun tembok yang lebih tinggi dari puncak Tambora?"
Ralin melangkah mendekat, mengabaikan duri-duri kecil yang menusuk kain sarung tenunannya. "Sebab kita hidup di dunia manusia, Samawa. Bukan di dunia angin. Di sini, marga adalah harga mati, dan kehormatan adalah darah."
Konflik itu pecah di rumah panggung besar milik keluarga Lala Rarang. Tiang-tiang kayu jati kuno itu seolah ikut bergetar saat sang Ayah, Datu Mangku, menghempaskan keris pusakanya ke atas meja kayu. Suaranya menggelegar, mengalahkan suara deburan ombak di kejauhan.
"Kau adalah darah biru, Ralin! Kau adalah marwah dari leluhur kita!" bentak Datu Mangku. Matanya merah, penuh murka yang tertahan. "Anak penggembala itu tak punya rumah selain padang rumput. Dia tak punya nama selain nama hewan ternaknya. Berani sekali kau membiarkan daun suci ini disentuh oleh tangan yang berlumur lumpur kerbau?"
"Samawa bukan sekadar penggembala, Ayah! Dia adalah jiwa dari savana ini. Dia tahu cara bicara dengan kuda, dia tahu kapan hujan akan turun hanya dari bau tanah!" balas Ralin dengan keberanian yang nekat.
"Dia tetaplah ilalang!" Datu Mangku mendekat, bayangannya menelan tubuh mungil Ralin. "Ilalang itu liar. Dia mengganggu pertumbuhan tanaman utama. Dan jika ia tidak bisa dicabut, maka ia harus dibakar. Pilihannya hanya dua: kau menikah dengan putra Bupati, atau pemuda itu akan ditemukan menjadi bangkai di dasar jurang."
Ralin luruh ke lantai. Ia merasa seperti sehelai daun yang tertusuk ujung ilalang yang tajam. Cinta yang ia kira akan menjadi pelindung, justru menjadi belati yang mengancam nyawa orang yang ia puja.
Malam itu, savana Doro Ncanga bermandikan cahaya bulan sabit yang tajam seperti celurit. Samawa dan Ralin bertemu untuk terakhir kalinya di titik terjauh padang rumput, di mana pohon-pohon bidara berdiri bengkok laksana siluet hantu.
"Ayo lari, Samawa. Bawa aku ke mana saja. Ke dalam hutan Tambora, ke gua-gua bawah tanah, atau biarkan kita tenggelam di laut lepas," isak Ralin, memeluk punggung Samawa yang kokoh.
Samawa membalikkan badan, memegang kedua bahu Ralin. Matanya berkaca-kaca. "Jika kita lari, Ayahmu akan membakar seluruh desa penggembalaku. Dia akan menghancurkan hidup orang-orang yang tak bersalah demi egonya. Aku tidak bisa membiarkan ilalang lain ikut binasa karena satu ilalang yang keras kepala ini."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Hiduplah, Ralin. Menikahlah. Jadilah daun yang tetap hijau di pohonmu yang tinggi. Biarkan aku yang menjadi ilalang yang layu dan terlupakan."
Tiba-tiba, suara derap kaki puluhan kuda membelah kesunyian malam. Cahaya obor menyambar-nyambar dari kejauhan, tampak seperti naga api yang merayap di atas savana. Datu Mangku tidak datang untuk bernegosiasi. Ia datang dengan amarah yang haus akan pembuktian kekuasaan.
Para pengawal mengepung mereka. Samawa ditarik kasar, tubuhnya dihujani pukulan dan tendangan. Ia tidak melawan. Ia hanya menatap Ralin dengan tatapan yang seolah berkata, 'Jangan menangis, ini adalah harga yang harus kubayar.'
Datu Mangku turun dari kudanya, memegang cambuk kuda yang terbuat dari kulit banteng. Ctar! Cambuk itu mendarat di punggung Samawa. Sekali, dua kali, hingga kain bajunya koyak dan darah segar mengalir membasahi rumput savana.
"Ampun, Ayah! Berhenti!" Ralin menjerit, mencoba melindungi tubuh Samawa dengan tubuhnya sendiri.
"Lihatlah, Ralin! Inilah pahlawanmu!" Datu Mangku meludah ke samping. "Seorang pecundang yang bahkan tak bisa melindungi dirinya sendiri. Seret dia! Buang ke perbatasan!"
Malam itu, cinta mereka tamat di bawah injakan kuku kuda dan lecutan cambuk. Samawa dibuang dalam keadaan hancur, sementara Ralin diseret pulang menuju pernikahan yang baginya adalah sebuah eksekusi jiwa.
Sepuluh tahun berlalu. Savana Sumbawa tetaplah indah sekaligus kejam.
Lala Rarang kini dikenal sebagai istri pejabat yang terhormat. Ia tinggal di sebuah rumah mewah dengan taman bunga yang tertata rapi. Namun, tak pernah ada yang melihatnya tersenyum. Matanya selalu kosong, seolah-olah jiwanya tertinggal di sebuah padang rumput sepuluh tahun yang lalu. Ia adalah daun yang dipaksa tetap menempel pada dahan emas, namun batinnya telah menguning dan mati.
Suatu sore, kabar duka datang dari kaki Gunung Tambora. Kebakaran hebat melanda savana akibat kemarau panjang yang ekstrim. Di tengah puing-puing abu hitam, penduduk menemukan kerangka seorang pria. Di samping kerangka itu, ditemukan sebuah seruling bambu yang sudah menghitam namun masih utuh. Pria itu—yang selama bertahun-tahun hidup sebagai pengelana gila di savana—ditemukan meninggal dalam posisi memeluk tanah, seolah-olah ia sedang mendekap jantung bumi.
Di kota, saat berita kebakaran itu sampai ke telinga Ralin, ia tidak menangis. Ia hanya berjalan perlahan menuju balkon rumahnya, menatap ke arah gunung yang jauh di utara. Ia merasakan dadanya sesak, seolah-olah duri ilalang yang dulu menusuknya kini telah menembus jantungnya sepenuhnya.
Keesokan paginya, pelayan menemukan Lala Rarang telah tiada. Ia meninggal di kursinya, dengan pandangan lurus menatap savana yang jauh di ufuk. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat seikat rumput ilalang kering yang ia simpan selama sepuluh tahun di dalam kotak perhiasannya.
Cinta mereka tak pernah mendapatkan izin dari bumi, maka langit mengambilnya kembali. Di padang savana Doro Ncanga, saat angin bertiup kencang, orang-orang masih sering mendengar suara seruling yang lirih. Mereka bilang itu adalah suara Lalu Samawa yang sedang memanggil daunnya yang telah luruh. Karena pada akhirnya, di hadapan maut, tak ada lagi darah biru atau lumpur kerbau. Yang ada hanyalah abu yang sama, terbang bebas di atas tanah Sumbawa yang megah dan sunyi.