Matahari di langit Timor tidak pernah mengenal rasa iba. Ia memanggang tanah berbatu di sebuah desa terpencil di NTT hingga retakannya melebar seperti luka yang tak kunjung sembuh. Di bawah naungan pohon asam yang meranggas, Bastian duduk memeluk lututnya. Di tangannya, selembar ijazah SD yang sudah kusam terkena debu adalah satu-satunya harta yang ia punya, sekaligus surat pemakaman bagi mimpinya.
"Bapak tidak kuat lagi, Bas," suara itu parau, datang dari dalam gubuk beratap rumbia yang sudah miring.
Bastian masuk ke dalam. Di atas balai-balai bambu, bapaknya terbaring dengan kaki yang membengkak akibat infeksi luka di ladang setahun lalu. Tanpa biaya medis, luka itu membusuk, memakan separuh nyawa lelaki tua itu. Ibunya sudah lama tiada, menyerah pada demam berdarah saat Bastian masih belajar mengeja.
"Sekolahmu... berhenti saja dulu," lanjut Bapak dengan mata berkaca-kaca.
Bastian tidak menjawab. Ada sesuatu yang patah di dalam dadanya, lebih sakit daripada rasa lapar yang mengepung perutnya setiap malam. Ia baru saja diterima di SMP satu-satunya di kecamatan, yang jaraknya harus ditempuh dengan berjalan kaki tiga jam membelah bukit. Tapi hari ini, seragam putih-biru yang ia idamkan resmi menjadi khayalan.
Bastian mulai bekerja. Anak berusia dua belas tahun itu menjadi kuli angkut batu karang di pesisir pantai. Setiap hari, di bawah sengatan matahari yang mencapai 40°C, ia memanggul bongkahan batu tajam di pundaknya yang ringkih. Kulitnya yang legam kini penuh dengan goresan luka permanen. Hasilnya? Hanya cukup untuk membeli segenggam jagung bose dan obat pereda nyeri murah untuk Bapak.
Suatu sore, Bastian berpapasan dengan teman-teman SD-nya yang baru pulang sekolah. Mereka tertawa, mengenakan seragam bersih, membawa buku-buku yang aromanya sangat Bastian rindukan. Bastian refleks menyembunyikan tangannya yang pecah-pecah dan kotor di balik punggung. Ia menunduk, tak berani menatap mata mereka. Dunia seolah terbagi dua: mereka yang memiliki masa depan, dan Bastian yang hanya memiliki hari ini untuk bertahan hidup.
Bulan berganti bulan, keadaan tak kunjung membaik. Hujan yang turun justru membawa petaka. Gubuk mereka bocor di mana-mana. Lantai tanah berubah menjadi lumpur. Infeksi kaki Bapak menjalar hingga ke paru-paru. Setiap malam, Bastian terjaga mendengarkan batuk Bapak yang menyesakkan dada, seolah nyawa lelaki itu sedang ditarik paksa oleh udara malam yang dingin.
"Bas... maafkan Bapak..." bisik Bapak suatu malam dengan suara yang hampir hilang.
"Bapak diam saja. Besok Bastian bawa Bapak ke puskesmas," bohong Bastian. Ia tahu tak ada uang sepeser pun. Bahkan untuk makan esok hari, ia harus berhutang pada juragan batu.
Pagi itu, tak ada suara batuk. Hening yang mencekam menyambut Bastian saat ia bangun. Ia menyentuh tangan Bapak; dingin, sekaku batu karang yang ia panggul setiap hari. Bapak telah pergi dalam diam, meninggalkan dunia yang terlalu keras untuk ia tinggali.
Bastian tidak menangis kencang. Air matanya sudah kering terbakar matahari pesisir. Ia memakamkan bapaknya di samping kubur ibunya, tanpa nisan, hanya tumpukan batu karang—hasil keringatnya sendiri.
Kehilangan Bapak bukan akhir dari kesedihan, melainkan awal dari kehancuran yang lebih dalam. Sebulan setelah pemakaman, Bastian jatuh sakit. Tubuhnya yang kurang gizi tak mampu lagi memikul beban batu karang. Juragan batu memecatnya karena ia dianggap terlalu lemah dan lamban.
Kini, Bastian terduduk di depan gubuknya yang mulai rubuh. Ia lapar, sangat lapar. Perutnya melilit hingga ia harus membungkuk menahan sakit. Ia melihat ke arah bukit, tempat sekolah itu berada. Di sana, mungkin teman-temannya sedang belajar tentang cita-cita. Sementara di sini, Bastian hanya belajar tentang bagaimana cara mati secara perlahan.
Hujan turun lagi, menderas. Gubuknya tak lagi mampu melindunginya. Bastian meringkuk di pojok ruangan yang basah, memeluk ijazah SD-nya yang kini basah kuyup dan tintanya mulai luntur. Tidak ada keajaiban. Tidak ada orang kaya yang datang menolong. Tidak ada beasiswa yang turun dari langit.
Yang ada hanya seorang anak kecil, sendirian di sudut NTT yang terlupakan, menunggu malam menjemputnya dalam keadaan perut kosong dan hati yang hancur total. Di bawah langit hitam, Bastian memejamkan mata, membiarkan dinginnya air hujan membungkus tubuhnya yang mulai menyerah pada keadaan yang tak pernah memihaknya.