Ayah bilang bahwa sabar itu seperti lautan lepas,
diam, tak bisa melakukan apa-apa meski disepelekan oleh seribu manusia.
Dan di kejauhan, rembulan menggantung bulat dan pucat,
seolah sedang menahan napas agar tidak pecah oleh sunyi.
Ayah bilang, laut tidak pernah benar-benar diam.
Ia hanya memilih berbicara dengan cara yang tidak semua orang sanggup mengerti.
Dulu aku berdiri di sini,
di atas ribuan pasir pantai,
bersama lelaki yang mengajarkanku banyak hal—
tentang sabar, tentang pulang, tentang menerima.
Sekarang aku berdiri di tempat yang sama.
Sendirian.
Tanpa genggaman tangan.
Tanpa suara yang memanggil namaku pelan.
Bahkan tanpa tawa lepas yang dulu terasa wajib,
seolah bahagia adalah sesuatu yang harus terus diperagakan.
Dulu aku ingat aku sangat menyukai lautan.
Aku suka caranya bernapas,
caranya tak tergesa,
caranya selalu kembali.
Tapi sekarang rasa suka itu hilang
saat ia menelan lelaki itu.
Lelaki yang sangat berarti bagiku.
Lelaki yang seharusnya menua,
bukan menghilang.
Samudera merebutnya dariku.
Dan aku benci itu.
Aku benci karena aku tidak bisa berbuat apa-apa.
“Lautan itu akan menjadi rumah,” ayah pernah bilang.
“Ruang terakhir untuk beberapa manusia.
Mereka menutup mata mereka dan perlahan tidur.”
Waktu itu aku cuma mengangguk.
Aku tidak tahu kalau suatu hari, kalimat itu akan pulang kepadaku
dengan cara yang paling menyakitkan.
Dan suatu saat, ayah bilang,
mama, aku dan ayah, akan seperti itu juga.
Aku ingat dadaku terasa sesak.
Bukan karena takut,
tapi karena capek membayangkan kehilangan yang terus berulang.
Dulu aku mengira rumah yang ayah maksud
adalah rumah yang tak menciptakan jarak antara kita.
Rumah yang selalu hangat.
Rumah yang tidak pergi.
Namun…
sepertinya aku salah.
Di beberapa tahun yang datang,
lagi-lagi aku kembali.
Berdiri di sini.
Di tempat yang sama,
dengan hidup yang sudah jauh berbeda.
Aku ingat aku menamai tempat ini Samudera Rembulan.
Aku tak punya alasan pasti.
Aku hanya butuh nama
untuk sesuatu yang terlalu penuh di dadaku.
Nama untuk tempat tak bernama.
Walau tak terukir di papan apa pun,
setidaknya terukir di hati.
Tempat ini adalah saksi
bagaimana aku tumbuh perlahan,
bagaimana aku belajar tertawa sambil menyimpan kehilangan,
bagaimana aku belajar hidup tanpa benar-benar melupakan.
Walau aku tak menyukai lautan,
aku selalu kembali.
Karena rinduku terlalu berat
untuk dibawa ke mana-mana.
Di suatu ketika aku berkata,
dengan suara yang hampir menyerah,
“Jika kau memang bisa mendengar dan berbicara,
maka tunjukkan itu di hadapanku sekarang.”
Aku tidak berharap apa-apa.
Aku hanya ingin merasa tidak sendirian.
Tak lama, ombak kecil datang ke arahku.
Menyentuh kakiku.
Pelan.
Hampir seperti sentuhan yang menenangkan.
Aku tersenyum.
Dan lupa bahwa seharusnya aku membencinya.
Mungkin memang tak seharusnya aku berusaha membenci.
Mungkin capek juga menyimpan marah
pada sesuatu yang tak pernah berniat menyakitiku.
Malam ini aku merasa lautan menjawab.
Bukan dengan kata-kata,
tapi dengan kehadiran.
Mungkin ayah bukan diambil olehnya.
Mungkin ayah memilih.
Memilih tempat terindah
untuk beristirahat.
Dan untuk segala kesedihanku yang engkau saksikan wahai samudra,
aku rasa... aku harus bilang terima kasih.
Karena setidaknya kau mendengarkan
ketika manusia memilih diam.