Suara lonceng Gereja Katedral dan gema azan dari Masjid Istiqlal seringkali bertemu di udara Jakarta yang pengap, melebur menjadi satu harmoni yang aneh namun menenangkan. Bagi Renata, bunyi-bunyian itu adalah latar belakang hidupnya selama lima tahun terakhir. Ia adalah seorang arsitek muda dengan mata yang selalu mencari simetri, namun hatinya justru terjebak dalam asimetri perasaan yang paling rumit: cinta beda iman.
Laki-laki itu bernama Adrian. Seorang fotografer lepas yang mengenal sudut-sudut kota sebaik ia mengenal ayat-ayat dalam kitab sucinya. Mereka bertemu dalam sebuah proyek restorasi bangunan tua. Adrian yang religius namun moderat, dan Renata yang taat pada agamanya sendiri.
Selama tiga tahun, mereka adalah "definisi tanpa status" yang paling sempurna. Mereka berbagi kopi, berbagi mimpi tentang desain masa depan, hingga berbagi duka saat proyek mereka tertunda. Namun, ada satu dinding transparan yang tak pernah bisa mereka tembus: ambang pintu rumah ibadah masing-masing.
"Ren," panggil Adrian suatu sore di sebuah kafe di kawasan Menteng. Sinar matahari senja jatuh tepat di wajahnya, menciptakan siluet yang membuat jantung Renata berdegap tak keruan. "Ibuku bertanya lagi soal kita."
Renata menyesap latte-nya yang sudah mendingin. "Lalu kamu jawab apa?"
"Aku bilang, kita masih melihat ke arah yang sama, tapi berjalan di trotoar yang berbeda."
Kalimat itu menyayat, meski diucapkan dengan nada lembut. Renata tahu kemana arah pembicaraan ini. Mereka saling mencintai, sangat mencintai. Namun, Adrian tidak pernah memintanya untuk pindah agama. Adrian menghargai Renata lebih dari ia menghargai keinginannya sendiri untuk memiliki perempuan itu.
"Aku tidak akan memintamu mengkhianati Tuhanmu hanya untuk bersamaku, Ren," lanjut Adrian, suaranya parau. "Karena jika kamu bisa mengkhianati Tuhan yang menciptakanmu, apa jaminannya kamu tidak akan mengkhianatiku nanti?"
Hari itu, mereka sepakat untuk berhenti. Tanpa pertengkaran, tanpa drama. Hanya air mata yang jatuh dalam diam di dalam taksi masing-masing saat perjalanan pulang. Mereka berhenti mencoba, karena mereka tahu bahwa memaksa berarti menghancurkan salah satu dari prinsip dasar hidup mereka.
Perjalanan Sunyi
Setahun berlalu. Renata menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Namun, ada yang berubah dalam dirinya. Perpisahan dengan Adrian ternyata bukan hanya meninggalkan lubang berbentuk seorang laki-laki, melainkan lubang tentang eksistensi spiritual.
Ia mulai sering memperhatikan bagaimana Adrian dulu begitu tenang saat menghadapi masalah. Ia teringat bagaimana Adrian selalu izin pamit sejenak di tengah rapat untuk bersujud. Ada sebuah kedamaian yang tidak Renata temukan di tempat lain.
Bukan karena Adrian, ia meyakinkan dirinya sendiri. Ia mulai membaca. Ia mulai bertanya. Ia mencari tahu tentang Islam bukan sebagai syarat untuk menikah dengan Adrian—karena mereka sudah tidak lagi berkomunikasi—melainkan sebagai pencarian jiwa yang haus.
Hingga suatu malam, di kamar apartemennya yang sepi, Renata bersujud. Bukan di depan altar, melainkan menempelkan dahi ke lantai, mengikuti naluri yang selama setahun ini ia pelajari. Ia merasakan getaran yang tidak bisa dijelaskan dengan logika arsitektur manapun.
Dua bulan kemudian, di sebuah masjid kecil yang tenang, Renata mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia menjadi mualaf. Air matanya tumpah, namun kali ini bukan air mata kehilangan, melainkan air mata kepulangan.
Pikiran pertamanya tentu saja: Adrian. Ia ingin berlari ke laki-laki itu. Ia ingin mengatakan, "Lihat, dinding itu sudah runtuh! Kita sekarang berada di trotoar yang sama!"
Namun, takdir tidak pernah sesederhana naskah film televisi.
Sosok di Balik Rak Buku
Di masa transisinya sebagai mualaf, Renata sering menghabiskan waktu di sebuah perpustakaan Islam milik sebuah yayasan. Di sana, ia bertemu dengan Faris.
Faris adalah pengelola perpustakaan tersebut. Orangnya pendiam, berkacamata, dan memiliki cara bicara yang sangat tertata. Tidak ada rayuan, tidak ada tatapan memuja seperti yang sering Adrian berikan. Faris murni seorang guru dan teman diskusi.
"Kenapa kamu memutuskan masuk Islam, Ren?" tanya Faris suatu kali saat mereka sedang menyusun buku-buku sejarah peradaban Islam.
"Awalnya karena penasaran dengan kedamaian seseorang," jawab Renata jujur. "Tapi akhirnya karena aku menemukan logika yang paling masuk akal bagi hatiku."
Faris mengangguk pelan. "Banyak orang masuk Islam karena cinta pada manusia, lalu kecewa saat manusia itu berubah. Tapi kamu masuk saat kamu justru kehilangan orang yang kamu cintai. Itu adalah hidayah yang mahal."
Renata tertegun. Faris seolah bisa membaca lembaran masa lalunya tanpa perlu ia ceritakan secara detail.
Selama berbulan-bulan, Faris menjadi mentor bagi Renata. Faris mengajarinya cara membaca Al-Qur'an dari nol, menjelaskan filosofi di balik setiap ibadah, dan yang paling penting: Faris tidak pernah sekali pun mencoba mendekatinya secara romantis. Mereka tidak pernah berkencan. Tidak ada nonton bioskop, tidak ada makan malam romantis di bawah lampu kota. Hubungan mereka murni profesional dan spiritual.
Hingga suatu hari, sebuah undangan sampai ke tangan Renata lewat pesan singkat. Undangan pernikahan.
Nama mempelai laki-lakinya adalah Adrian.
Hati Renata mencelos. Ternyata, selama ia berproses menemukan Tuhan, Adrian juga telah berproses untuk melanjutkan hidup. Adrian akan menikah dengan seorang perempuan pilihan ibunya, seorang Muslimah sejak lahir yang kabarnya sangat baik.
Renata terduduk di lantai perpustakaan. Ia menangis sesenggukan. Ironi ini terlalu pahit. Ia sudah menjadi mualaf, ia sudah berada di "sisi" yang sama, namun pintu itu sudah tertutup rapat. Ia terlambat.
Lamaran Tanpa Pacaran
Melihat Renata yang hancur, Faris hanya berdiri di ambang rak buku. Ia tidak mendekat untuk memeluk, ia tahu batasnya.
"Kamu sedih karena kehilangan dia, atau karena merasa usahamu menjadi mualaf sia-sia?" tanya Faris dengan suara yang datar namun menusuk.
Renata mendongak, matanya sembab. "Aku tidak menyesal jadi mualaf. Tapi... kenapa takdir sebercanda ini? Aku berubah untuk bisa bersamanya, dan saat aku sudah berubah, dia tidak ada lagi."
"Kamu salah, Renata," Faris melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak dua meter. "Kamu berubah untuk Tuhanmu. Jika kamu berubah untuk Adrian, maka hari ini kamu pasti sudah kembali ke agamamu yang lama karena kecewa. Tapi nyatanya tidak, kan? Kamu tetap ingin salat magrib nanti?"
Renata terdiam. Benar. Ia tidak punya keinginan untuk meninggalkan Islam meskipun Adrian menikah dengan orang lain.
"Renata," Faris memanggil namanya dengan nada yang berbeda. "Saya tidak tahu cara memuji perempuan. Saya juga tidak tahu cara mengajak jalan-jalan atau berkencan seperti laki-laki lain. Tapi saya sudah memperhatikanmu selama delapan bulan ini."
Renata menahan napas.
"Saya melihat caramu berjuang mempelajari agama ini. Saya melihat ketulusanmu. Jika kamu bersedia, saya ingin mendatangi orang tuamu. Bukan untuk mengajakmu berpacaran, karena saya tidak melakukan itu. Saya ingin memintamu menjadi istri saya. Menjadi teman seperjalanan saya menuju-Nya."
Renata terpaku. Faris—laki-laki yang bahkan tidak pernah mengiriminya pesan teks selain urusan jadwal perpustakaan—baru saja melamarnya.
"Kenapa aku?" bisik Renata.
"Karena saya tidak butuh seseorang yang sudah sempurna agamanya, saya butuh seseorang yang mau berjuang bersama saya. Dan saya melihat pejuang itu ada di matamu."
Akhir yang Berbeda
Pernikahan itu berlangsung sederhana di masjid tempat Renata bersyahadat dulu. Tidak ada pesta mewah, hanya akad yang khidmat dan makan siang bersama keluarga serta teman-teman dekat.
Renata mengenakan gaun putih bersih dengan hijab yang senada. Ia tampak cantik, jauh lebih tenang daripada saat ia masih bersama Adrian dulu.
Di pojok ruangan, ia melihat sosok yang akrab. Adrian datang bersama istrinya. Adrian tersenyum ke arah Renata—senyum tulus seorang sahabat yang ikut bahagia. Mereka tidak sempat bicara banyak, hanya bersalaman sekilas. Istri Adrian menjabat tangan Renata dengan hangat, tak tahu bahwa perempuan di depannya adalah masa lalu suaminya.
Saat Adrian berlalu, Faris mendekati Renata dan menyerahkan segelas air putih.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Faris lembut.
Renata menatap suaminya. Faris bukan laki-laki yang memberikan debar-debar liar seperti Adrian dulu. Namun, Faris memberikan rasa aman yang berakar jauh ke dalam bumi. Bersama Faris, Renata tidak perlu takut akan perbedaan, karena setiap langkah mereka kini dimulai dengan bismillah yang sama.
"Aku tidak apa-apa," jawab Renata sambil tersenyum. "Aku baru sadar, Tuhan memang tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi Dia memberikan apa yang kita butuhkan."
Renata menoleh ke arah kiblat, menyadari satu hal: Ia mungkin kehilangan cinta manusia yang ia puja dalam perbedaan, namun ia menemukan cinta Sang Pencipta dalam sebuah penyatuan yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Ia menjadi mualaf bukan untuk menjemput masa lalu, melainkan untuk membangun masa depan bersama laki-laki yang memilih untuk memuliakannya tanpa pernah memacarinya.
Matahari sore itu bersinar cerah, menembus jendela masjid, menyinari dua tangan yang kini bersatu dalam ikatan yang halal. Sebuah akhir yang tidak sesuai rencana manusia, namun sempurna dalam rencana Tuhan.