Pagi itu, langit di atas Jakarta tampak mendung, seolah-olah awan pun enggan menyaksikan apa yang akan terjadi di dalam gedung SMA mentereng itu. Bagi Arka, gerbang sekolah yang biasanya menjadi simbol masa depan, kini berubah menjadi gerbang neraka yang siap menelannya hidup-hidup. Sejak berita itu meledak—berita tentang ayahnya, seorang jenderal besar, yang terlibat dalam kasus pembunuhan ajudannya sendiri—dunia Arka runtuh tanpa sisa.
Arka berjalan menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik tudung hoodie hitam. Namun, langkah kakinya tidak cukup cepat untuk menghindari bisikan-bisikan yang tajam seperti sembilu. Di koridor, gerombolan siswa kelas dua belas sengaja memperkeras suara mereka saat Arka lewat. "Eh, lihat, anak pembunuh lewat. Hati-hati, jangan-jangan dia bawa pistol juga di tasnya," celetuk seorang siswa bertubuh tinggi yang dulu sering meminta tanda tangan ayahnya saat acara sekolah. Tawa pecah di koridor itu. Arka hanya bisa mengepalkan tangan di dalam saku, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga perih.
Di dalam kelas, situasinya jauh lebih buruk. Kursi Arka sudah penuh dengan coretan spidol permanen. Tulisan "ANAK PEMBUNUH", "DARAH DIBAYAR DARAH", dan "KEADILAN UNTUK BRIGADIR" menghiasi meja kayu yang dulu sering ia gunakan untuk belajar dengan tenang. Arka tidak mencoba menghapusnya. Ia hanya duduk, menatap kosong ke depan, sementara teman-teman sekelasnya memindahkan kursi mereka menjauh, menciptakan lingkaran kosong di sekelilingnya seolah-olah ia mengidap wabah mematikan.
Penyiksaan itu tidak berhenti pada kata-kata. Saat jam istirahat, Arka ditarik ke belakang kantin oleh tiga orang siswa. Mereka bukan orang asing; mereka adalah teman-teman satu tim basketnya dulu. Salah satu dari mereka mendorong Arka hingga punggungnya menghantam dinding bata. "Gimana rasanya punya bapak yang main hakim sendiri, hah? Apa rasanya makan dari uang hasil rekayasa kasus?" tanya mereka sambil tertawa sinis. Arka tidak menjawab. Ia hanya merasakan sebuah tamparan keras mendarat di pipinya, disusul dengan tumpahan kuah bakso panas di seragam putihnya. "Ini belum seberapa dibandingkan nyawa yang hilang gara-gara bapak lo!"
Setiap hari adalah pengulangan dari penderitaan yang sama. Di rumah, suasana tidak lebih baik. Rumah besar yang dulu penuh dengan ajudan dan pengawal kini terasa sepi dan mencekam. Ibunya lebih banyak mengurung diri di kamar, menangis hingga matanya sembab, sementara televisi di ruang tengah terus-menerus menyiarkan wajah ayahnya dalam balutan seragam dinas yang kini tercoreng. Arka merasa terjepit di antara dua dunia yang sama-sama hancur. Ia mencintai ayahnya sebagai seorang pahlawan keluarga, namun fakta di persidangan merobek-roek citra itu hingga tak berbentuk.
Malam itu, Arka duduk di balkon kamarnya. Ia membuka ponselnya, sebuah kesalahan besar yang selalu ia ulangi. Ribuan komentar di media sosial menyerang akunnya yang sudah ia kunci. Netizen tidak peduli bahwa ia hanyalah seorang remaja yang tidak tahu apa-apa. Mereka menghujat garis keturunannya, mengutuk masa depannya, dan meminta agar ia juga merasakan penderitaan yang sama dengan korban. "Anak haram jadah," tulis salah satu akun. "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, sebentar lagi dia juga bakal jadi monster," tulis yang lain.
Arka merasa udara di sekitarnya menipis. Dada sesak, bukan karena asma, tapi karena beban eksistensi yang terlalu berat. Ia merasa seperti sebutir debu di tengah badai yang tidak akan pernah berhenti. Logikanya mulai lumpuh. Jika ayahnya adalah penjahat terbesar di negeri ini, lalu apa gunanya ia hidup? Apakah ia akan selalu membawa label "anak pembunuh" ke mana pun ia pergi? Apakah ia akan pernah bisa bekerja, mencintai, atau sekadar bernapas tanpa dihantui oleh bayang-bayang ayahnya?
Ia berdiri di tepian balkon. Ketinggian itu seolah-olah memanggilnya, menawarkan sebuah solusi instan untuk menghentikan semua suara bising di kepalanya. Di bawah sana, aspal jalanan tampak hitam dan dingin. Arka memejamkan mata. Ia membayangkan jika ia melompat sekarang, semua rundungan itu akan berhenti. Headline berita besok mungkin akan berubah: "Anak Sang Jenderal Mengakhiri Hidup". Mungkin saat itu orang-orang akan merasa puas. Mungkin saat itu mereka akan berhenti menghujatnya.
Satu kakinya sudah berada di udara. Angin malam menyapu wajahnya yang basah oleh air mata. Namun, tepat saat ia akan melepaskan pegangannya, sebuah getaran terasa di saku celananya. Sebuah pesan singkat masuk. Arka gemetar saat merogoh ponselnya. Itu adalah pesan dari adiknya yang paling kecil, yang dikirim melalui ponsel pengasuhnya. Sebuah foto gambar tangan sederhana: dua orang laki-laki bergandengan tangan, dengan tulisan cakar ayam di bawahnya, "Mas Arka, jangan lama-lama di sekolah ya, aku mau main robot-robotan."
Tangis Arka pecah seketika. Tubuhnya merosot ke lantai balkon yang dingin. Ia meraung, melepaskan semua beban yang ia simpan sendirian selama berbulan-bulan. Ia menyadari satu hal di tengah kegelapan itu: jika ia pergi, ia hanya akan menambah daftar panjang kesedihan di keluarganya. Ia memang tidak bisa mengubah apa yang telah dilakukan ayahnya, dan ia tidak bisa menghentikan kebencian dunia. Namun, ia tidak boleh membiarkan kebencian itu menang.
Keesokan harinya, Arka datang ke sekolah dengan seragam yang rapi, meski meja kerjanya masih penuh coretan. Ia tidak lagi memakai hoodie untuk bersembunyi. Saat seseorang kembali melemparkan hinaan di koridor, Arka berhenti sejenak, menatap mata siswa itu dengan tenang namun tegas, lalu melanjutkan langkahnya. Ia tahu perjalanannya akan sangat panjang dan menyakitkan. Ia tahu dunia mungkin tidak akan pernah memaafkan ayahnya, dan mungkin tidak akan pernah benar-benar menerimanya.
Namun, Arka memutuskan untuk tetap hidup. Bukan karena ia merasa tidak bersalah, tapi karena ia ingin membuktikan bahwa ia bukan sekadar perpanjangan tangan dari dosa ayahnya. Ia adalah dirinya sendiri. Dan di balik semua hiruk-pikuk kasus hukum yang menyedot perhatian publik itu, ada seorang remaja yang sedang belajar untuk bangkit dari reruntuhan, mencoba mencari cahaya di balik bayang-bayang besar sang Jenderal yang telah jatuh. Ia akan terus berjalan, selangkah demi selangkah, membawa luka yang mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh, namun dengan tekad untuk tidak membiarkan kegelapan menguasai takdirnya.