Tiga puluh keping, Bukan kayu, Bukan plastik. Arip memandang tumpukan bambu wulung yang sudah dipotong melingkar sempurna. Diameternya tiga puluh sentimeter. Seperti piring makan, tapi ringan seperti kapas. Dia tidak tidur. Matanya merah, berurat, seperti peta jalan setapak yang buntu. Di sudut kamar, botol lem kayu sudah kosong melompong, terguling seperti mayat serdadu di medan perang.
"Naga itu nggak cuma terbang, Rip," suara ayahnya dari balik pintu, serak, batuk-batuk kecil. "Naga itu harus berenang di udara."
Arip tidak menoleh. Jempolnya sibuk mengamplas pinggiran keping bambu yang ke-27. Srat, Srat, Srat. Debu bambu masuk ke hidungnya. Bersin, Dia menyeka ingus dengan punggung tangan yang lengket lem.
Naga Layangan telah Berantai. Satu kepala, puluhan ekor. Kalau satu keping saja miring satu derajat? Tamat. Seluruh rangkaian itu akan meliuk seperti cacing kepanasan, lalu menghantam bumi dengan dentum yang akan menertawakan semua kerja kerasnya selama sebulan ini.
Dia mengambil sehelai kain parasut sisa pabrik. Warna jingga. Warna peringatan. Dia memotongnya. Pola lingkaran. Jari-jarinya gemetar saat memasukkan benang nilon pengikat antar keping. Jaraknya harus presisi. Satu jengkal, tiga jari. Tidak boleh lebih. Tidak boleh kurang. Hidup Arip sekarang diukur dengan jengkal dan jari, bukan lagi jam atau menit.
Kepala naga itu masalahnya. Bukan lagi kertas minyak murahan. Arip menggunakan styrofoam yang dikuliti, lalu dilapisi serat kaca. Ringan tapi keras. Dia membentuk rahang yang terbuka lebar. Taring-taring dari tusuk sate yang diruncingkan.
Dia mengecatnya. Merah tua. Hitam legam di sekitar mata. Mata itu... Arip memasang bola pimpong yang dibelah dua. Di dalamnya, dia menaruh lampu LED kecil dan baterai kancing.
"Biar mereka tahu siapa yang punya langit malam ini," bisiknya.
Suaranya hilang di tenggorokan yang kering. Dia belum minum sejak ashar. Hanya kopi hitam yang sudah dingin dan dikerubuti semut. Semut-semut itu seolah ikut membangun naga bersamanya, berbaris di atas meja kayu yang penuh goresan pisau tajam.
Dia memasang balance. Dua utas benang di kiri, dua di kanan. Kumis naga itu bukan cuma hiasan. Itu adalah sensor. Itu adalah kemudi. Arip menarik-narik benang itu. Monster ini mulai punya bentuk. Di lantai kamar yang sempit, naga itu melungker, menunggu nyawa yang hanya bisa diberikan oleh angin tenggara yang sangat kencang.