"Ambil," kata Arip tiba-tiba.
Maman mengerutkan kening. "Apa?"
"Ambil gelasannya. Ambil bangkai layangannya. Gua nggak butuh."
Arip berbalik. Dia berjalan menjauh. Langkahnya pelan, tidak lagi terburu-buru. Di belakangnya, dia mendengar Maman menggerutu, mungkin bingung, mungkin merasa menang tapi sekaligus merasa kalah karena tak ada perlawanan.
Arip kembali ke lapangan. Lapangan sudah mulai sepi karena matahari hampir tenggelam, berubah warna menjadi oranye gelap yang menakutkan. Dia mendekati pohon kamboja. Kaleng biskuitnya masih di sana. Si Merah masih di sana, mengambang di langit yang mulai mendingin.
Dia mulai menggulung. Pelan. Teratur.
Sret, Sret, Sret.
Benang gelasan itu kembali ke rumahnya. Sensasi kasar di jarinya terasa seperti sebuah percakapan.
Kenapa kau tinggalkan Si Kuning? tanya angin. Karena dia sudah mati, jawab hati Arip.
Layangan yang putus adalah masa lalu. Benang yang tersangkut di kabel adalah jeratan. Arip menyadari satu hal saat melihat Si Merah turun perlahan menuju pelukannya. kemenangan sejati bukan tentang berapa banyak layangan yang kau rampas dari langit, tapi tentang bagaimana kau menjaga layanganmu tetap terbang tanpa harus menjadi budak dari apa yang sudah kau jatuhkan.
Si Merah mendarat di tangannya. Bambunya masih hangat terkena sisa matahari. Kertasnya masih kencang. Arip mengelusnya seperti mengelus pipi seorang kekasih.
"Besok kita terbang lagi," bisiknya.
Malam datang dengan jangkrik yang berisik. Di kamar sempitnya, Arip tidak langsung tidur. Lampu tempel minyak tanah menari-nari, melemparkan bayangan raksasa di dinding. Di depannya, bambu-bambu baru sudah menunggu.
Dia mengambil pisau tajamnya.
Krak.
Serutan pertama jatuh. Dia tidak lagi memikirkan Si Kuning atau si Maman. Dia sedang memikirkan sebuah desain baru. Sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang bisa membawa jiwanya lebih tinggi lagi, melampaui atap pabrik tahu, melampaui kabel listrik, melampaui segala dendam yang membuatnya sempat ingin berkelahi demi seuntai benang bekas.
Dunia mungkin berantakan. Hidupnya mungkin seperti kalimat-kalimat yang terputus ini. Fragmen yang Kacau atau Penuh luka. Tapi selama ada bambu untuk diraut, kertas untuk ditempel, dan angin untuk dikejar, Arip tahu dia punya cara untuk tetap utuh.
Dia mulai meraut lagi. Fokus. Tajam.
Sret, Sret, Sret.
Malam itu, di sebuah sudut kampung yang terlupakan, seorang arsitek langit sedang bekerja. Tanpa cetak biru. Hanya bermodalkan insting dan seutas benang yang tak akan pernah benar-benar putus dari jiwanya.