Si Kuning milik Koh Ahong tak lagi perkasa. Dia limbung. Menukik ke sebelah timur, ke arah pemukiman padat yang atap-atap sengnya berkilat seperti gigi hiu. Dan di bawah? Neraka pecah.
"GATENG! GATENG!"
Suara itu bukan teriakan manusia. Itu adalah lolongan serigala lapar. Puluhan bocah beberapa bahkan tidak memakai alas kaki melompat dari pematang sawah. Mereka membawa galah bambu panjang dengan ujung dahan pohon salak yang berduri. Senjata para pemburu layangan putus.
Arip masih memegang benangnya. Merasakan Si Merah yang masih menari sombong. Tapi matanya terkunci pada Si Kuning yang jatuh. Benang gelasan Koh Ahong yang putus itu menjuntai panjang, ribuan meter nilon mahal yang meliuk-liuk di udara seperti ular naga sedang sekarat.
"Rip! Kejar, Rip! Itu gelasannya mahal, nilon Jepang!" Ujang berteriak sambil menyambar sandalnya yang putus sebelah.
Arip bimbang, Menarik layangannya sendiri butuh waktu. Menggulung ratusan meter benang ke kaleng biskuit itu bukan perkara detik. Tapi Si Kuning? Dia jatuh ke arah 'Wilayah Hitam'. Gang-gang sempit di balik pabrik tahu yang baunya asam menusuk hidung. Tempat di mana hukum rimba berlaku. Siapa yang pegang benang duluan, dia yang punya.
Sreet!
Arip membuat keputusan gila. Dia tidak menggulung benang Si Merah. Dia mengikatkan kaleng biskuitnya ke sebuah pohon kamboja tua di pinggir lapangan. Biarlah Si Merah berjaga di atas sana, sendirian, menjadi monumen kemenangannya.
Lalu, dia lari.
Langkah kakinya menghantam tanah keras. Brak. Buk. Sruk. Dia melompati selokan yang airnya hitam pekat. Jantungnya berdegup, bukan di dada, tapi di telinga. Deg, Deg, Deg. Napasnya mulai pendek, terasa seperti menghirup debu yang dibakar.
Di depannya, Si Kuning tersangkut di kabel listrik. Bergetar, Tercekik tegangan tinggi. Kertasnya robek, mengeluarkan suara kresek-kresek yang menyedihkan. Tapi benangnya? Benangnya menjuntai turun ke tengah gang.
Di sana sudah ada Maman.
Maman bukan bocah. Dia remaja tanggung dengan bekas luka parang di lengan kiri dan mata yang selalu tampak merah karena kurang tidur atau mungkin karena hal lain. Di tangannya, seuntai benang Si Kuning sudah tergulung kasar di telapak tangan yang dibalut kain perca.
"Punya gua," suara Maman berat. Serak seperti gesekan amplas pada kayu jati.
Arip berhenti tiga meter di depannya. Keringat menetes dari ujung hidungnya, jatuh ke tanah, menghilang dalam debu. Paru-parunya meronta meminta oksigen, tapi dia menahannya. Jangan terlihat lemah. Jangan terlihat takut.
"Gua yang motong. Gua yang punya hak," Arip berujar. Kalimatnya pendek. Matanya menatap lurus ke arah gulungan benang di tangan Maman.
Maman meludah. Cairan kental berwarna kemerahan bekas mengunyah sirih atau mungkin gusi berdarah mendarat tepat di antara mereka. "Lu yang motong di langit. Di sini, bumi punya gua. Lu mau ambil? Lewatin gua dulu."
Tangan Maman merogoh saku celana kusamnya. Sesuatu berkilat. Bukan pisau, Hanya sebuah cutter karatan yang ujungnya sudah tumpul, tapi cukup untuk merobek kulit remaja mana pun.
Arip melihat sekeliling masih Sepi. Hanya ada suara mesin pabrik tahu yang menderu di kejauhan. Bau kedelai basi menguar kuat. Di atas mereka, layangan Si Kuning yang robek masih tersangkut di kabel, seolah-olah sedang menertawakan ketololan dua orang manusia di bawahnya yang memperebutkan bangkai.
Arip tidak maju tapi dia tidak mundur. Dia meraba sakunya yang kosong. Dia hanya punya tangan kosong yang kapalan dan sisa-sisa dendam yang belum tuntas.
Lalu, dia melihat ke atas. Ke arah layangannya sendiri, Si Merah, yang masih terbang tinggi di lapangan sana, terikat di pohon kamboja. Di ketinggian itu, Si Merah tampak damai. Tak peduli pada lumpur. Tak peduli pada Maman. Tak peduli pada cutter karatan.