Langkah kaki Arip menghantam tanah kering. Dung, Dung, Dung. Tanah lapang di belakang pabrik tekstil itu sudah penuh. Bau debu bercampur dengan bau amis selokan. Angin bertiup kencang, menggoyang-goyangkan daun pohon talas hingga mereka tampak seperti tangan-tangan yang melambai minta tolong.
"Arip! Lu bawa apa itu? Merah-merah kayak kolor emak lu!" teriak Ujang, disusul tawa pecah dari gerombolan bocah ingusan.
Arip tak menjawab. Bibirnya tertutup rapat. Dia melihat ke atas. Di sana, tinggi sekali, si Jabrik sedang menari. Warna kuning mencolok dengan ekor panjang yang mengejek. Dia tampak tenang. Stabil. Seperti pemangsa yang tahu bahwa mangsanya akan datang sendiri.
Arip mulai memasang tali pancingan atau temali. Tiga titik ikat. Atas dua, bawah satu. Harus pas. Kalau terlalu atas, layangan akan menamcap, menusuk bumi. Kalau terlalu bawah, dia hanya akan mengambang malas seperti kerbau kekenyangan.
"Tolong pegangin, Jang," perintah Arip singkat.
Ujang, meski tadi mengejek, maju juga. Dia memegang ujung bawah layangan merah itu. Arip berjalan mundur. Mengulur benang gelasan. Jarak sepuluh meter. Dua puluh meter. Angin datang! Sebuah pusaran kecil menerbangkan debu dan plastik bekas.
"Sekarang!"
Ujang melepas. Arip menyentak. Wusss!
Si Merah meloncat. Dia tidak sekadar terbang; dia menerjang udara. Bambunya melengkung sempurna. Kertas merahnya bergetar hebat menghasilkan suara prepet-prepet yang nyaring. Arip menarik benang dengan ritme yang terjaga. Satu tarikan panjang, lalu ulur sedikit. Layangannya menanjak, memanjat tangga-tangga angin yang tak terlihat.
Sekarang mereka sejajar. Si Merah dan Si Kuning. Di bawah, kerumunan mendadak diam. Hanya ada suara angin dan gesekan benang pada kaleng penggulung.
Koh Ahong di ujung sana, berdiri di atas gundukan tanah, mulai beraksi. Dia memberikan tarikan pendek-pendek. Teknik jepret. Benangnya seolah-olah menjadi cambuk di udara. Si Kuning menukik, mencoba mencari celah untuk menimpa benang Arip.
Arip merasakan getaran itu di jarinya. Benang gelasan itu berbicara padanya. Dia merasakan tekanan udara, dia merasakan beban Si Kuning yang mencoba menekan.
Jangan ditarik, Rip. Jangan sekarang, batinnya sendiri.
Dia malah mengulur. Srrrruuuuuut. Benang keluar dari kaleng dengan kecepatan tinggi. Kulit jempolnya mulai berasap—atau mungkin hanya imajinasinya—tapi panasnya nyata. Si Kuning mengejar, mengikuti arah uluran Arip. Inilah jebakannya.
Saat benang mereka bersilangan—sebuah tanda silang maut di langit biru—Arip mendadak berhenti mengulur. Dia menjepit benang dengan dua jari, lalu dengan seluruh tenaga bahunya, dia melakukan betotan satu arah.
"MAAAAKAN!" teriak Arip.
Dunia seolah melambat.
Benang bertemu benang. Gesekan beling melawan beling. Percikan api yang tak terlihat tapi terasa panasnya hingga ke ulu hati. Suara sing yang nyaring terdengar samar di antara deru angin.
Tiba-tiba... tegangan itu hilang.
Benang di tangan Arip mendadak ringan. Kosong. Untuk sepersekian detik, jantungnya berhenti. Apakah dia yang putus?
Tapi kemudian, teriakan itu meledak.
"PUTUUUUUUS! JABRIK PUTUUUUUS!"
Di langit, Si Kuning milik Koh Ahong limbung. Dia kehilangan kendalinya. Dia berputar-putar tak tentu arah, tertiup angin menjauh menuju hutan jati, sehelai kertas yang baru saja kehilangan jiwanya. Sementara Si Merah? Dia masih di sana. Tegak. Gagah. Menantang matahari seolah berkata bahwa dialah penguasa baru hari ini.
Arip terduduk di tanah. Tangannya gemetar. Ada garis merah tipis di telunjuknya, darah mulai merembes keluar. Perih. Tapi saat dia menatap ke atas, ke arah layangan merah yang masih menari itu, rasa perih itu berubah menjadi rasa manis yang paling murni.