Matahari itu bukan bola api. Dia adalah pemangsa. Dia menjilat tengkuk Arip, mengubah keringatnya menjadi kerak garam yang perih di sela pori-pori. Di tangannya, sebilah bambu petung yang tadinya bisu di rumpun gelap kini sudah mulai bicara. Krak, Srak. Pisau raut di tangan kanan Arip menari, bukan, dia sedang berkelahi. Serutan tipis sehalus sayap laron jatuh ke lantai tanah, menumpuk, menggunung seperti dosa-dosa kecil yang diabaikan.
"Terlalu gemuk di sayap kiri," gumamnya. Suaranya pecah, kalah oleh deru angin yang mulai mengintip dari balik celah gedek rumahnya.
Arip tidak melihat bambu. Dia melihat keseimbangan. Dia melihat bagaimana serat-serat itu akan melengkung, menantang gravitasi, dan menertawakan bumi. Jempolnya meraba. Licin, Masih ada sisa kulit hijau yang keras. Harus hilang apa, Apa harus rata. Kalau tidak? Dia akan berputar di udara seperti gasing gila, lalu bruak, mencium genteng tetangga dengan cara yang paling memalukan.
Dia mengangkat kerangka itu menyeimbangkannya di atas ujung telunjuk. Miring ke kiri, Sedikit lagi. Pasang rautnya bekerja kembali. Sret, sret, sret. Dunia luar sana riuh sejali. Teriakan bocah-bocah, "Gateng! Gateng!", menyusup lewat jendela. Tapi Arip? Dia di sini. Di ruang gelap yang berbau lem kanji dan kertas minyak. Baginya, langit adalah meja taruhan dan layangan ini adalah harapan terakhirnya.
Kertas minyak warna merah darah itu terbentang. Arip mengoleskan lem kanji dengan jari telunjuk lengket dan dingin. Seperti lendir siput tapi ini adalah perekat mimpi. Dia menempelkan kertas ke rangka bambu dengan presisi seorang ahli bedah. Tak boleh ada kerut. Satu kerutan adalah lubang bagi angin untuk menusuk dari belakang. Satu kerutan berarti kekalahan.
Dia mengelus permukaan kertas itu. Srat, Srat, srat. Bunyinya renyah. Seperti suara kerupuk yang baru digoreng.
Lalu, ritual yang paling sakral yaitu Benang.
Di pojok kamar, sebuah kaleng biskuit karatan menyimpan harta karunnya. Gelasan 'Elang Hitam'. Benang itu tidak hanya hitam tapi dia berkilau. Serbuk beling yang ditumbuk halus, dicampur dengan lem kayu dan bahan rahasia, menyelimuti serat nilon itu. Arip menyentuhnya pelan. Kulit jarinya yang sudah kapalan tidak berdarah, tapi dia tahu, satu sentakan salah, benang ini bisa membelah daging hingga ke tulang.
"Hari ini, kita potong si Jabrik," bisiknya pada layangan merah itu.
Si Jabrik. Layangan besar milik Koh Ahong yang sudah seminggu ini merajai langit pemukiman. Layangan yang sudah "memakan" selusin korban. Benangnya setajam silet, teknik tarikannya secepat kilat. Tapi Arip punya sesuatu yang tidak dimiliki Koh Ahong yaitu dendam yang diraut rapi menjadi sebuah kerangka bambu.