Sore Hari, 31 Desember 2020 (Pukul 17.00)
Suara nada sambung telepon grup berbunyi, lalu satu per satu mengangkat.
Arumi: "Halo? Kalian di mana? Ibuku bolak-balik tanya nih, jadi pergi nggak?"
Syifa: "Jadi dong! Ini aku lagi dandan, Rum. Biar di foto kembang api nanti aku kelihatan cantik, nggak kucel kayak pas di sekolah."
Keyla: "Dandan terus kamu, Syif! Aku baru selesai cuci motor nih. Biar tunggangan kita kinclong pas jemput Tuan Putri Arumi."
Arumi: (Tertawa kecil) "Kalian lebay banget sih. Eh, tapi beneran ya, Key, bawa motornya pelan-pelan. Perasaanku nggak enak, mendung banget di luar."
Keyla: "Aman, Arum. Aku sudah hafal jalan tikus dari rumahku ke rumah kamu. Kita bakal hindari jalan protokol yang macet. Kamu tenang aja, duduk manis, siapin perut buat makan jagung bakar."
Syifa: "Oh iya, Rum! Kamu sudah pakai baju yang aku kasih bulan lalu belum? Yang warna putih itu?"
Arumi: "Sudah, Syif. Ini sudah aku pakai. Kenapa emangnya?"
Syifa: "Bagus! Biar kita kompak. Aku pakai baju pink, Keyla pakai jaket denim. Nanti kita foto di depan tugu, ya? Pokoknya malam ini harus jadi malam paling spesial buat kamu."
Keyla: "Iya, Rum. Syifa dari tadi heboh banget sama kadonya. Sampe nggak boleh aku sentuh sedikit pun."
Syifa: "Iya lah! Ini kan rahasia negara. Pokoknya, Rum, kalau nanti kamu lihat kadonya, kamu nggak boleh nangis ya?"
Arumi: "Ih, apa sih? Jadi penasaran. Ya udah, aku tunggu ya. Jam 8 tepat kalian harus sudah sampai depan gerbang."
Keyla: "Siap, Bos! Syifa, aku jalan ke rumahmu sekarang ya. Kita berangkat bareng dari sana."
Syifa: "Oke, Key! Hati-hati di jalan. Arum, see you ya! Happy Birthday sekali lagi buat sahabat terbaikku!"
Arumi: "Makasih ya kalian... Sayang banget sama kalian."
Keyla & Syifa (Serempak): "Sayang Arumi juga! Dadah!"
Malam Hari, di Perjalanan (Pukul 20.05)
Keyla membonceng Syifa. Suara angin kencang menerpa helm mereka.
Syifa: (Berteriak karena suara angin) "Key! Pelan-pelan dikit! Kado Arumi hampir lepas nih dari peganganku!"
Keyla: "Ini sudah pelan, Syif! Tapi di depan kayaknya ada macet, makanya aku ambil jalur agak tengah. Kamu pegangan yang kuat ya!"
Syifa: "Key, kok mobil di depan itu jalannya aneh banget? Kok goyang-goyang ke kanan ke kiri?"
Keyla: (Suaranya mulai panik) "Eh... iya! Syif, pegangan! Mobil itu mau masuk ke jalur kita!"
Syifa: "Keyla! Awas, Key! Kiri, Key, kiri!!!"
Keyla: "Nggak bisa, Syif! Ada trotoar—"
(Suara decitan rem yang panjang... lalu dentuman keras.)
Pagi Hari di Rumah Arumi (Pukul 07.00)
Arumi sedang duduk di depan TV bersama Ibunya. Suara pembawa berita terdengar datar namun menyakitkan.
Pembawa Berita: "...dua korban remaja putri meninggal dunia di tempat akibat benturan keras. Diketahui pengemudi mobil berinisial R sedang dalam pengaruh alkohol..."
Arumi: (Suaranya bergetar) "Bu... itu... itu jaket denim Keyla kan, Bu?"
Ibu: (Memeluk Arumi erat) "Sabar, Nak... Sabar..."
Arumi: "Nggak mungkin, Bu! Tadi malam Syifa bilang mau kasih kado. Dia bilang aku nggak boleh nangis... tapi kenapa dia bikin aku nangis kayak gini, Bu? Kenapa mereka tinggalin Arum?"