Awan kelabu menggantung rendah di atas permukaan laut yang tenang, seperti selimut kabut tipis yang menyembunyikan rahasia kedalaman laut. Di tepi pantai sebuah pulau terpencil, sebuah rumah kayu reyot berdiri kokoh di antara rerumputan tinggi yang bergoyang mengikuti hembusan angin laut. Dari dalam rumah itu terdengar bunyi pena besi yang bergesekan dengan kertas — suara yang telah menjadi irama harian bagi perempuan yang sedang menulis di sana.
Iris menatap laut melalui celah jendela kayu yang lapuk akibat cuaca. Tangannya yang ramping menggenggam pena besi dengan erat, sementara matanya yang lembut mengikuti setiap gerakan ombak yang menyapu bibir pantai dengan lembut. Di mejanya, tumpukan buku catatan bergelimpangan — semuanya penuh dengan tulisan tangannya yang rapi: tentang warna laut saat senja yang memercik seperti warna jingga keemasan, matahari terbenam menghias langit dengan warna merah bata dan oranye keemasan, tentang aroma garam yang terbawa angin, dan tentang sosok lelaki yang selalu mendayung perahunya melintasi lautan luas itu.
"Sky," bisiknya lembut sambil menuliskan nama itu di halaman terbaru bukunya, di antara catatan tentang ombak dan langit.
Iris telah tinggal di pulau ini selama tiga tahun. Orang-orang di desa terdekat menyebutnya "perempuan tinta" karena ia selalu terlihat membawa buku dan pena besi di mana pun ia pergi, mencatat setiap detail dunia di sekelilingnya. Namun, tak seorang pun tahu bahwa sebagian besar halaman catatannya adalah tentang lelaki bernama Sky — seorang petualang yang sering singgah di pulau ini untuk mengisi persediaan makanan dan air sebelum melanjutkan perjalanannya menjelajahi lautan tak bertepi.
Pertama kali mereka bertemu, Iris sedang duduk di atas batu besar yang menjulang ke laut, mencatat bagaimana matahari terbenam menghias langit dengan warna merah dan oranye. Tiba-tiba, sebuah perahu kayu muncul dari balik kabut tebal, didayung oleh lelaki dengan rambut hitam yang kusut dan mata seperti elang. Saat perahu menyusuri bibir pantai, mata lelaki itu secara tidak sengaja menyentuh pandangan Iris. Dalam sekejap, Iris merasa seperti terkena kilat — ada sesuatu di dalam tatapan lelaki itu yang membuat hatinya berdebar kencang dan membuatnya tidak bisa bergerak sejenak.
Sejak itu, setiap kali Sky datang ke pulau, Iris selalu mencari kesempatan untuk melihatnya dari jauh. Ia mengamati cara Sky bekerja dengan tangguh saat memperbaiki perahunya, bagaimana ia berbicara dengan penduduk desa dengan suara yang dalam namun lembut, dan bagaimana ia selalu menghabiskan waktu sendirian di atas batu besar yang sama tempat Iris sering duduk.
Ia menulis tentangnya dalam buku catatannya:
"𝘓𝘢𝘶𝘵 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘮𝘶, 𝘚𝘬𝘺. 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘺𝘶𝘯𝘨, 𝘰𝘮𝘣𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵. 𝘒𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘦𝘴𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘨𝘶𝘴. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘨𝘶𝘮𝘪𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘫𝘢𝘶𝘩, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘨𝘶𝘮𝘪 𝘨𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘨𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘢𝘪𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩."
Iris tidak pernah berani mendekati Sky secara langsung. Ia merasa dirinya terlalu biasa — hanya seorang perempuan yang menghabiskan hari dengan menulis cerita dan catatan, tidak punya pengalaman petualangan atau cerita menarik yang bisa ia bagi seperti Sky. Sementara Sky adalah orang yang hidup penuh dengan petualangan dan kebebasan. Ia takut bahwa jika mereka benar-benar berbicara dan saling mengenal lebih dekat, kesan indah yang ia miliki tentangnya akan hancur lenyap. Jadi, ia memilih untuk tinggal di bayang-bayang, mencatat setiap jejak langkahnya dengan tinta yang tak pernah habis.
Suatu hari, saat Sky lagi berada di pulau untuk mengisi persediaan, Iris melihatnya sedang berbicara dengan seorang pemuda yang wajahnya mirip dengan dia. Pemuda itu memiliki mata yang lebih gelap dan tatapan yang misterius yang sulit ditebak apa yang ada di dalam pikirannya. Nantinya, Iris tahu bahwa pemuda itu adalah Orion, adik tiri Sky yang selalu mengikutinya dalam diam tanpa pernah banyak bicara.
Saat Orion menoleh ke arah tempat Iris bersembunyi di balik rerumputan tinggi, matanya berbinar dengan sesuatu yang membuat Iris merasa tidak nyaman dan bulu kuduknya merinding. Ia cepat-cepat pergi dari sana dan kembali ke rumahnya, namun perasaan aneh itu tetap mengikutinya sepanjang hari. Meski begitu, pikirannya segera kembali ke Sky — pada bagaimana ia tersenyum saat berbicara dengan anak-anak desa, pada bagaimana rambutnya terbentang tertiup angin laut, dan pada bagaimana dia selalu melihat ke arah laut seperti sedang mencari sesuatu yang hilang.
Di malam hari, ketika bulan mulai muncul di atas langit gelap, Iris kembali menulis di buku catatannya:
"𝘒𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘬𝘶𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘚𝘬𝘺. 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨. 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘪𝘯𝘤𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘣𝘶𝘩 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘶𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘳𝘪."
Ia menutup buku dengan lembut dan menatap lautan yang sudah gelap gulita. Di kejauhan, cahaya lilin dari perahu Sky masih terlihat berkilau seperti bintang jatuh yang meluncur perlahan di atas permukaan laut yang tenang. Iris tersenyum perlahan sambil menyentuh lembaran buku yang baru saja ditulisnya, tidak menyadari bahwa malam itu akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya — dan bahwa jejak tinta yang ia tinggalkan dengan penuh cinta akan menjadi satu-satunya petunjuk bagi orang yang dicintainya untuk menemukan kebenaran yang tersembunyi di balik lautan yang luas itu.