Emily sedang berada dititik terendahnya, dia yang tadinya hidup dalam kemewahan harus kehilangan segalanya dalam sekejap.
Dia berjalan tanpa tujuan dan berhenti di atas jembatan, hujan turun rintik-rintik, menusuk kulit Emily yang hanya dibalut kaos tipis yang kini kusut dan bernoda.
Beberapa hari yang lalu, ia adalah putri mahkota dari sebuah dinasti bisnis. Namun, pengkhianatan dari orang kepercayaan ayahnya dan konspirasi licik dari keluarga pesaing membuat segalanya lenyap, aset asetnya disita, ayahnya dipenjara, ibunya bunuh diri, dan adiknya yang masih kecil harus merasakan seperti apa rasanya kelaparan, sedangkan Emily dibuang ke jalanan dengan nama yang sudah tercemar fitnah.
Ia berdiri di atas jembatan, menatap arus sungai yang hitam di bawah sana. Bukan maut yang ia cari, melainkan hening. Ia hanya ingin berhenti merasakan sakitnya pengkhianatan.
"Air itu terlihat sangat dingin bukan? Bagaimana jika kau merebut kembali semua yang menjadi milikmu dan membuat mereka yang mengkhianati mu berada diposisi mu sekarang? Alih-alih terjun ke sungai yang dingin itu dan mati sia-sia."
Suara yang berat itu mengirimkan aura dingin dan hangat secara bersamaan, Emily menoleh, dan dia melihat sesosok pria dengan setelan serba hitam, matanya berwarna abu-abu, dan kulitnya putih pucat.
Lucius, iblis kolektor jiwa, dia melihat keputusasaan dari dalam diri Emily, dan tentu saja bukan simpati yang ingin dia tawarkan, melainkan sebuah transaksi.
***
"Aku bisa mengembalikan martabat keluargamu dan menghancurkan mereka yang menertawakan tangisanmu."
Emily sadar siapa yang ada dihadapannya saat ini, semua yang menimpanya membuatnya mengabaikan peringatan alam bawah sadarnya untuk lari, sebaliknya Emily berkata.
"Dan harganya?"
Lucius menarik sudut bibirnya, sebuah senyum tipis yang tidak mencapai matanya yang sedingin es. Ia melangkah mendekat, sepatu bot kulitnya tidak mengeluarkan suara sedikit pun di atas aspal jembatan yang basah.
"Jiwamu."
Lucius memperhatikan keraguan yang tersisa di mata Emily dengan tatapan lapar. Baginya, jiwa yang hancur karena pengkhianatan adalah hidangan yang paling lezat, penuh dengan bumbu amarah dan keputusasaan.
Keraguan itu hanya hinggap sejenak di benak Emily, tatapannya kini berubah hampa, tidak ada emosi di dalamnya, Lucius memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Emily, namun sekarang dia sendiri tidak dapat menebaknya.
Hening yang mencekam menyelimuti mereka, hanya interupsi rintik hujan yang menghantam permukaan sungai. Lucius, yang telah hidup selama ribuan tahun dan menyaksikan ribuan manusia memohon di kakinya, merasakan sesuatu yang asing, antisipasi.
Biasanya, manusia akan menangis, gemetar, atau setidaknya menunjukkan gairah balas dendam yang membara.
Namun, Emily justru menjadi seperti cermin yang datar dan gelap. Ia tidak lagi memancarkan ketakutan, namun ia juga tidak memancarkan cahaya.
Perlahan Lucius mengulurkan tangan, telapak tangannya menghadap ke atas, membiarkan rintik hujan menembus bayangannya yang tampak tidak nyata.
Emily menatap tangan Lucius yang pucat, lalu beralih kembali ke mata abu-abu sang iblis. Tidak ada lagi binar putri mahkota yang lugu dan naif, yang tersisa hanyalah tekad yang murni dan mengerikan.
Emily meraihnya, dia meletakkan tangannya diatas tangan Lucius.
Begitu telapak tangan Emily menyentuh telapak tangan Lucius, rintik hujan seolah membeku di udara, waktu seakan terhenti, dari perpaduan tangan mereka, Emily merasakan aliran dingin yang menjalar perlahan ke sekujur tubuhnya hingga menusuk jantung.
Emily tidak menarik tangannya meski ia merasa jantungnya berdenyut semakin pelan dan nafasnya mulai tercekat. Ia hanya menatap lurus ke dalam mata abu-abu Lucius dan mendengar ucapan terkahir Lucius sebelum akhirnya Emily kehilangan kesadarannya.
"Kau tahu bahwa iblis tidak pernah menawar."
***
Saat Emily membuka matanya kembali, dia mendapatkan dirinya terbaring di atas ranjang putih besar dikamar nya.
Kaos kumal yang sebelumnya dikenakan Emily kini berubah menjadi piyama yang biasa dia pakai saat tidur.
Emily mengerjapkan matanya, dia menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi ukiran emas, pemandangan yang seharusnya tidak mungkin dia lihat lagi.
Emily bangkit dari tempat tidurnya, dengan dada berdegup kencang dia melihat kalender kecil yang terletak di atas meja dipan disamping tempat tidurnya.
10 Januari 2025
Tangan Emily bergetar, tanggal itu tepat satu tahun sebelum kejadian malang yang menimpa keluarganya terjadi, sebelum para pengkhianat itu mengambil alih perusahaan ayahnya.
"Selamat kembali ke masa lalu Emily."
Emily mendengar suara berat yang sama saat ia berada di atas jembatan, dan saat Emily menoleh, dia melihat pria yang sama, yang meminta jiwanya sebagai harga untuk pembalasan dendamnya.
"Apakah... aku benar-benar kembali ke masa lalu?" Tanya Emily ragu.
"Apa kau meragukan kemampuan Lucius yang agung?"
Bukannya menjawab Emily hanya mendesah, dan dia mulai bergerak menuju kamar mandi.
.
.
.
Setelah kembali ke masa lalu Emily mulai menyusun rencana balas dendamnya dengan bantuan Lucius.
Takdir buruk yang tadinya menimpanya, kini berbalik menimpa para pengkhianat di perusahaannya dan para pesaing bisnisnya.
Ayahnya tidak dipenjara, ibunya masih hidup, dan adiknya masih melanjutkan sekolahnya.
Keluarganya sama sekali tidak menyadari tragedi apa yang akan menimpa mereka jika Emily tidak mengorbankan jiwanya untuk mereka.
Saat Lucius mendampingi Emily melancarkan pembalasannya, dia menyadari sesuatu yang ganjil, Emily melakukan semuanya dibalik layar, seakan-akan dia tidak ingin keluarganya menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang berada di ambang kehancuran.
Lucius terbiasa dengan kontrak yang didasari dengan kebencian. Namun Emily melakukannya sebagai bentuk pengorbanan.
Lucius bahkan menemani Emily mendonasikan sebagian dana yang didapatnya kepada panti asuhan yang dulu di danai rivalnya.
"Kau harusnya menghancurkan warisan mereka, bukan malah memperbaikinya, untuk apa kau setuju mengorbankan jiwamu kalau kau sendiri tidak menikmatinya?" Tanya Lucius dengan nada frustasi.
Namun jawaban Emily membuat Lucius tertegun.
"Apa kau tahu? Jika saja waktu itu aku tidak sebodoh dan senaif itu... keluargaku tidak akan hancur, jadi anggap saja aku menukarkan jiwaku untuk memperbaiki kesalahanku sendiri." Emily menoleh ke arah Lucius dan melanjutkan kata-katanya.
"Aku sudah menghancurkan mereka, anak-anak di panti asuhan ini tidak seharusnya ikut menanggung dosa mereka, dan aku tidak ingin berubah menjadi monster seperti mereka,yaah.. meskipun mungkin aku sama buruknya dengan mereka karena bergandengan tangan dengan iblis." Ucap Emily sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya pada Lucius.
Lucius, sang kolektor jiwa yang tak punya hati, merasakan sesuatu yang berbeda didalam dadanya, sesuatu yang asing.
***
Setelah keadaan di perusahaan ayahnya sudah stabil, Emily kini sedang duduk di kursi meja kerjanya, suasana di ruangannya sangat hening, hanya terdengar goresan pena Emily di atas kertas dokumen yang membutuhkan tanda tangannya.
Lucius duduk di atas sofa yang berada di sebrang meja Emily, mata abu-abu nya terpaku pada Emily, dia mengamati Emily dari mulai jemarinya yang lentik dan merayap maju sampai ke bagian leher Emily, bagaimana kulit porselen Emily terlihat begitu menawan saat berada dibawah cahaya lampu.
Lucius adalah seorang iblis, tentu dia tahu apa yang dimaksud dengan tujuh dosa besar: kesombongan, ketamakan, hawa nafsu , amarah, iri hati, kerakusan dan kemalasan. Semua itu ada pada diri manusia.
Tujuh dosa besar tersebut merupak komoditas bisnis bagi Lucius. Selama ribuan tahun Lucius memanen jiwa-jiwa yang busuk karena kesombongan atau menghasut mereka yang buta karena ketamakan dan juga dosa lainnya. Tapi dia tidak pernah terinfeksi olehnya.
Namun malam ini, saat matanya terpaku pada lekuk leher Emily, sesuatu yang asing mulai bergejolak di dalam dirinya.
Untuk pertama kalinya dalam keabadiannya, Lucius merasakan tarikan magnetis dari Hawa Nafsu.
"Emily."
"Hmmm." Saut Emily tanpa memalingkan pandangannya dari dokumen.
"Kau tidak takut padaku?"
"Hah? ppfftt- " Pertanyaan Lucius yang tiba-tiba itu membuat Emily mendongak dan tertawa renyah.
Lucius berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Emily, dia memutarkan kursi Emily agar menghadap padanya dan menempatkan kedua tangannya di lengan kursi, mengunci Emily di tempat duduknya.
Tawa Emily berhenti, mata mereka saling mengunci, hati Emily berdegup kencang saat tangan Lucius mulai bergerak menelusuri lengannya dan berhenti tepat di lekuk lehernya.
"Kau harusnya takut padaku." Suara Lucius terdengar lirih ditelinga Emily.
Tanpa melepaskan tatapan matanya, Emily meraih tangan Lucius yang masih menempel dilehernya dan memindahkannya ke pipinya, dan membiarkan wajahnya bersandar sepenuhnya ditangan dingin Lucius.
"Apa lagi yang harus ku takutkan? Jiwaku milikmu, apa kau menginginkan ragaku juga?"
"Jika iya?"
"Maka ambillah."
Kalimat Emily bukan sekedar izin, tapi penyerahan diri yang mutlak.
Mata abu Lucius menggelap, Lucius mencondongkan tubuhnya ke depan. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa mili, nafas Emily yang hangat kontras dengan aura dingin yang terpancar dari tubuh Lucius. Ibu jari Lucius yang masih menempel di pipi Emily, perlahan bergerak turun, menelusuri bibir Emily, beberapa saat kemudian bibir mereka pun bertemu.
***
Satu tahun sudah hampir berlalu, waktu Emily hanya tinggal beberapa menit lagi.
"Kau tahu waktumu tidak banyak lagi bukan?" Tanya Lucius pada Emily yang sedang berdiri di balkon rumah keluarganya sambil menatap lampu-lampu kota dengan wajah damainya.
Emily membalikan badannya dan tersenyum pada Lucius, "Lucius... terimakasih untuk semuanya."
Melihat senyum Emily, dada Lucius kembali merasakan getaran aneh, dia tidak ingin senyum itu menghilang, dia tidak ingin melihat rona di pipi Emily memucat, dia tidak ingin kehangatan ditubuh Emily berubah dingin dan kaku.
Lucius tidak ingin mengambil jiwa Emily.
Dia ingin memilikinya. Yang dirasakan Lucius bukanlah sekadar keinginan fisik yang dirasakan manusia rendahan, dia ingin memiliki Emily seutuhnya.
Lucius mendekat, jarak diantara mereka hilang, ia menatap mata Emily dan memanggil namanya, "Emily..."
"Aku sudah siap." Emily mengulurkan tangannya dengan telapak tangan menghadap ke atas, seperti saat pertama kali Lucius menawarkan perjanjian kepadanya di atas jembatan.
Lucius menempelkan telapak tangannya di atas telapak tangan Emily, dan menggenggamnya.
"Aku pernah bilang bahwa iblis tidak pernah menawar"
Emily tidak mengerti apa yang diucapkan Lucius, dia hanya berantisipai jika rasa dingin yang menjalar akan mulai memasuki tubuhnya dan kali ini menghentikan jantungnya, tapi rasa dingin itu tidak kunjung datang.
"Dan kau tahu, bahwa iblis itu egois."
Emily merasakan sesuatu yang hangat dari tangan Lucius mulai menjalar keseluruh tubuhnya, tapi semakin lama rasa hangat itu berubah menjadi rasa panas yang membara, jantung Emily seperti ditusuk dan diletakkan di atas bara api.
Emily ingin berteriak, tapi suaranya tertahan di tenggorokan yang terasa seperti menelan lava. Di dalam dadanya, jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak wajar, yang semakin lama semakin melemah, sampai detaknya terhenti, dan rasa panas yang membara itupun menghilang.
Emily pikir dia sudah mati saat ini, tapi dia melihat bahwa dia masih berada di balkon rumahnya, tapi dia merasakan sesuatu yang berbeda, inderanya menajam, dan tubuhnya terasa sangat ringan, ia menatap Lucius dengan wajah yang bertanya-tanya.
"Emily, aku tidak akan membiarkan jiwamu hancur, dan kau akan menghabiskan sisa kontrakmu dalam keabadian, bersamaku."
Lucius menarik Emily ke dalam pelukannya, melingkarkan lengannya di pinggang ramping gadis itu. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Emily, menghirup aromanya yang kini tidak lagi berbau fana.
Emily tidak pernah menyangka jika menit terakhirnya akan berubah menjadi keabadian. Ia telah bersiap untuk kegelapan, untuk kehampaan setelah balas dendamnya usai. Namun di sini ia berdiri, di pelukan sang iblis yang rela membagi keabadiannya.
"Maka ajari aku cara hidup dalam keabadian ini, Lucius." Ucap Emily pelan, tangannya kini melingkar di leher sang iblis, menariknya lebih dekat.
TEMA 1 - GC RUMAH MENULIS