Tidak semua rumah ditinggalkan karena kosong.
Beberapa ditinggalkan karena masih terlalu penuh.
Aku kembali ke rumah itu saat hujan turun tanpa suara petir. Jalan setapaknya sudah ditumbuhi lumut, dan pintu kayunya berdecit seperti mengeluh saat aku dorong. Bau tanah basah bercampur sesuatu yang lebih lama—bau kenangan yang tidak sempat dikubur.
“Cuma sebentar,” gumamku pada diri sendiri.
Atau mungkin… pada sesuatu yang mendengar.
Jam dinding di ruang tengah masih tergantung. Jarumnya berhenti di pukul 02.17.
Waktu yang sama dengan malam terakhir aku di sini.
Langkah kakiku pelan, tapi lantai tetap berderit—seakan rumah ini mengenal berat tubuhku. Aku melewati cermin besar di lorong. Bayanganku ada, tapi sedikit terlambat mengikuti gerakanku. Aku berhenti. Bayangan itu ikut berhenti… terlalu lama.
“Capek, ya?” bisikku, mencoba tertawa.
Lampu kamar menyala sendiri.
Aku membeku.
Di atas tempat tidur, sprei putihnya rapi. Padahal aku ingat jelas—malam itu aku meninggalkannya kusut, basah oleh air mata yang tidak jadi jatuh. Di meja kecil, ada buku catatan tua. Sampulnya cokelat, sudutnya mengelupas.
Itu tulisanku.
Aku membukanya.
Halaman terakhir bertanggal hari ini.
“Kalau aku kembali, jangan biarkan aku lupa.”
Napas tercekat di tenggorokan. Aku tidak menulis ini hari ini. Aku tidak mungkin—
Langkah kaki terdengar dari lorong. Bukan langkahku. Lebih ringan. Lebih pelan.
“Siapa di sana?” suaraku bergetar.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Seseorang berdiri di ambangnya.
Dia mirip aku.
Terlalu mirip.
Matanya menatapku dengan kelelahan yang aku kenal—kelelahan yang selalu kusembunyikan dari orang lain. Bibirnya bergerak, tapi suaranya terdengar langsung di kepalaku.
Kamu akhirnya pulang.
“Aku… cuma mampir,” kataku. “Aku sudah pergi dari sini.”
Dia tersenyum tipis. Senyum yang tidak marah, tidak juga sedih.
Hanya menunggu.
Kamu pergi, tapi aku tinggal. Seseorang harus mengingat semuanya, kan?
Dinding kamar berbisik. Nama panggilanku merayap di udara, diulang-ulang seperti doa yang salah alamat. Aku mundur selangkah.
“Aku nggak mau ingat lagi,” kataku lirih. “Aku mau hidup.”
Dia mendekat. Tidak ada suara langkah.
Tangannya menyentuh dadaku—dingin, tapi tidak menyakitkan.
Kalau begitu, katanya lembut,
biarkan aku yang tinggal di sini. Tapi jangan bilang rumah ini kosong… tanpa aku.
Lampu berkedip. Jam dinding di luar berdetak sekali—02.18.
Aku terbangun di mobil, hujan masih turun. Rumah itu di kejauhan tampak gelap dan diam. Seperti rumah kosong biasa.
Di saku jaketku, ada sobekan kertas kecil.
Tulisan tanganku.
“Aku mengingat agar kamu bisa melanjutkan.”
Sejak malam itu, aku tidak pernah kembali.
Tapi kadang, saat pukul 02.17,
aku merasa ada yang terjaga…
menyebut namaku dengan suara yang sangat mirip denganku.