— “ANAK YANG SELALU DIANGGAP BAIK-BAIK SAJA”
Sejak kecil, semua orang sepakat pada satu hal tentangku:
aku ceria.
Aku mudah tertawa, mudah diajak bicara, dan jarang membuat masalah.
Di sekolah, aku dikenal sebagai anak yang “enak diajak ngobrol”.
Di rumah, aku dikenal sebagai anak yang “ngerti keadaan”.
Tidak ada yang tahu bahwa dua label itu tumbuh dari tempat yang sama:
aku terlalu cepat belajar menahan diri.
Keluargaku tidak selalu sehangat sekarang.
Ada masa-masa yang hanya aku yang mengingatnya, karena adikku belum cukup besar untuk memahami apa yang terjadi.
Aku menjadi saksi, bukan karena ingin, tapi karena tidak ada pilihan lain.
Di pihak keluarga ayah, aku sering merasa seperti tamu.
Bukan karena mereka jahat, tapi karena caraku dipandang selalu berbeda.
Wajahku terlalu mirip ibu, kata mereka.
Dan entah kenapa, itu cukup untuk membuat jarak.
Aku tidak pernah membenci siapa pun.
Aku hanya belajar mengamati.
Sejak kecil, aku lebih sering mendengar daripada bicara.
Orang-orang di rumah bercerita padaku—tentang lelah, tentang kecewa, tentang hidup yang tidak sesuai rencana.
Aku menyimaknya dengan serius, seolah aku cukup besar untuk memahaminya.
Mungkin sejak itu aku berhenti menangis.
Bukan karena aku kuat.
Tapi karena emosiku seperti disimpan di tempat yang terlalu dalam untuk dijangkau.
Aku jarang tersenyum dengan perasaan yang benar-benar murni.
Kalau aku tersenyum, itu karena situasinya mengharuskan.
Terakhir kali aku merasa mengekspresikan emosi tanpa berpikir panjang,
mungkin saat aku masih sangat kecil—
sebelum aku tahu bahwa tidak semua perasaan aman untuk dikeluarkan.
Aku anak yang peka.
Terlalu peka.
Aku bisa merasakan perubahan nada suara,
menangkap kesedihan yang tidak diucapkan,
mengerti lelah yang disembunyikan orang lain.
Kepekaan itu membuatku mudah memahami.
Dan juga mudah dimanfaatkan.
Aku pernah mengalami perundungan sejak kecil.
Bukan yang besar dan dramatis—
tapi cukup sering untuk membuatku belajar:
diam lebih aman.
Banyak orang mengira aku kuat.
Saking kuatnya, tidak pernah ada yang benar-benar bertanya,
“kamu sebenarnya gimana?”
Aku punya ingatan yang kuat.
Termasuk tentang hal-hal yang ingin dilupakan orang lain.
Aku tidak menyebutnya trauma.
Bukan karena tidak menyakitkan,
tapi karena kata itu terasa terlalu besar dan sering disalahgunakan.
Kadang, saat seseorang terlalu mudah melempar kata “trauma”,
aku merasa tidak nyaman.
Terutama jika orang itu sendiri meninggalkan luka yang besar.
Katanya waktu menyembuhkan.
Tapi bagiku, waktu hanya berjalan.
Lukanya tetap tinggal, hanya berubah bentuk.
Setiap kali orang-orang bercerita padaku,
ada perasaan aneh yang muncul:
aku merasa jahat.
Karena aku jarang menceritakan diriku sendiri.
Kalaupun aku bercerita,
aku memilih momen-momen yang aman—
dan bahkan momen itu pun biasanya tentang orang lain.
Bukan karena aku tidak jujur.
Ketulusanku nyata.
Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya membuka diri tanpa merasa bersalah.
Di balik wajah yang terlihat tenang,
ada banyak hal yang kupendam sendiri.
Bukan karena aku tidak percaya orang lain,
tapi karena aku sudah terlalu lama dilihat sebagai “yang paling bisa mengerti”.
Aku tidak menyalahkan orang tuaku.
Aku tahu mereka juga membawa luka masing-masing.
Dan aku memahaminya.
Tapi dampak masa kecil itu masih hidup di dalam diriku,
terutama dalam caraku merasakan emosi.
Aku pernah mencoba bercerita pada satu orang.
Aku pikir, mungkin kali ini aku akan didengar.
Tapi respons yang kuterima justru membuatku menyesal telah membuka mulut.
Sejak itu, aku memilih diam.
Karena rasanya percuma berbicara
jika tidak benar-benar ada yang mendengar.
Pelan-pelan, aku mengunci emosiku sendiri.
Awalnya berat.
Lalu terbiasa.
Lalu berubah menjadi tembok.
Aku jarang menangis.
Bukan karena tidak ingin,
tapi karena tubuh dan pikiranku seperti sudah lupa caranya.
Terlalu lama sendiri membuatku merasa aneh
saat ada seseorang yang tiba-tiba benar-benar peduli.
Aku tidak pernah menceritakan ini pada banyak orang.
Waktu kecil, aku sering datang ke sekolah dengan tubuh yang tidak baik-baik saja.
Bekasnya cepat hilang, jadi tidak banyak yang memperhatikan.
Pernah suatu kali ada yang bertanya kenapa pipiku terlihat berbeda.
Aku bilang aku jatuh.
Alasan aku sering terlihat mengantuk,
atau memilih tidak ikut istirahat,
bukan karena aku malas.
Tubuhku hanya sedang berusaha bertahan.
Ada satu orang yang tahu.
Satu orang sejak SD yang sekarang satu SMP denganku.
Dia tidak tahu banyak tentang hidupku,
tapi soal luka-luka itu—
dia tahu.
Dan entah kenapa, itu cukup.
Aku bahkan sempat merasa bangga.
Bangga karena tidak ada yang menyadari emosiku.
Bangga karena semua orang mengira aku sudah berdamai dengan semuanya.
Padahal sebenarnya aku hanya terlalu terbiasa menyimpannya sendirian.
Sampai suatu hari,
ada orang yang membenciku karena mengira aku tidak punya luka.
Aku tidak marah.
Bukan karena itu tidak menyakitkan,
tapi karena aku sendiri tidak tahu bagaimana rasanya marah.
Meski jujur,
mendengarnya tetap terasa aneh—
seperti dituduh hidup di versi diriku yang tidak pernah ada.
Aku menulis ini sambil berkali-kali berhenti.
Menghapus.
Mengetik ulang.
Aku tidak menceritakan semuanya.
Karena ini saja sudah cukup berat.
Terlalu banyak yang tersimpan,
sampai aku sendiri bingung harus mulai dari mana.
Mungkin aku memang anak yang selalu dianggap baik-baik saja.
Dan mungkin,
itulah luka yang paling sulit dijelaskan.
Catatan Karakter
Aku tidak meminta dimengerti oleh semua orang.
Aku hanya ingin sekali saja,
tidak perlu berpura-pura kuat.
Catatan Penulis
Ada anak-anak yang tumbuh terlalu cepat
karena tidak pernah diberi ruang untuk rapuh.
Cerita ini untuk mereka—
yang terlihat baik-baik saja,
tapi belajar hidup dengan sunyi sejak kecil