Aku tahu kau sudah terlalu hancur untuk diperbaiki...
Mereka bilang waktu bisa menyembuhkan, tapi bagaimana jika waktu tiba-tiba berhenti berdetak?
***
Matvey terbaring di tempat tidurnya dalam keadaan tidak sadar, botol-botol kosong berserakan di lantai, bau rokok memenuhi ruangan, dan asapnya masih terlihat samar-samar di udara.
Sejak hari kepergian orang yang dia cintai, setiap hari terasa seperti neraka baginya.
Setiap pagi dia terbangun dengan beban yang menindih dada, sebuah pengingat terhadap kenyataan pahit bahwa orang tercintanya sudah tidak ada di dunia yang sama. Matahari tetap terbit meski dunianya sudah runtuh.
Cinta yang dulu menjadi sumber kekuatannya, kini berubah menjadi sumber kehancurannya.
Enam tahun bukanlah waktu yang singkat, masa depan yang sudah dia rencanakan bersamanya harus runtuh dalam sekejap mata.
Dan Matvey mulai merusak dunianya sendiri, merusak dirinya dengan alkohol dan nikotin, karena hanya dengan cara itu setidaknya dia bisa lari dari kenyataan pahit, setidaknya dia bisa melupakannya meskipun hanya untuk sejenak.
.
.
.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, waktu berlalu dengan cepat sejak kecelakaan mobil yang merenggut nyawa kekasih hatinya.
Tapi Matvey masih melewati hari-hari monoton nya tanpa semangat hidup, meskipun setidaknya dia masih memiliki kesadaran untuk tetap bekerja dan tetap berpenghasilan.
Bahkan teman-teman dan keluarganya sudah menyerah untuk membawa kembali Matvey yang dulu, Matvey yang ceria dan penuh canda. Kini hanya raganya saja yang ada, jiwanya masih terjebak di jurang kehampaan.
Mereka hanya bisa berharap suatu saat nanti akan ada keajaiban yang bisa merubah kembali kehidupannya.
Hingga suatu hari....
"𝘈𝘬𝘶 𝘑𝘢𝘯𝘦,𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶?"
"𝘔𝘢𝘵𝘷𝘦𝘺"
Matvey bertemu dengan Jane.
***
Aku sedang berada disebuah cafe diajak oleh Evelyn, tadinya aku pikir hanya kami berdua, hanya sekedar hangout, nongkrong sambil minum kopi, tapi ternyata Evelyn mengajak beberapa temannya, yang beberapa di antaranya tidak aku kenal.
Tapi ada satu pria yang menarik perhatianku, dia duduk di sebelahku, saat kami saling canda sambil bermain beberapa game, dia hanya berceloteh sendiri, memberikan pertanyaan-pertanyaan absurd yang entah dia tujukan pada siapa.
"Jika pada akhirnya kita semua akan mati, bukankah itu artinya kita semua sedang sekarat saat ini?"
Salah satu pertanyaannya yang membuatku gatal, tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menggubrisnya.
"Iya, kita semua sedang sekarat, mungkin besok kau tiba-tiba tergelincir dari tangga dan langsung menuju akhirat? Siapa yang tahu." Jawabku sekenanya sambil mengangkat bahu.
"Oh begitu ya." Jawabnya singkat.
"Aku Jane, dan kau?" Aku memperkenalkan diri padanya agar setidaknya kami bisa mengobrol hal lain.
"Matvey". Jawabnya singkat padat dan jelas.
"Ok Matt, senang bertemu denganmu."
"Yah."
.
.
.
Itu awal mula pertemuan kami, siapa sangka pria dingin itu akhirnya menjadi pacarku hanya dalam hitungan minggu setelah kami sering bertemu.
Tidak ada yang menyangka memang, dengan kepribadian kami yang agak bertolak belakang, dia yang kalem dan aku yang hyper.
Pada awalnya aku hanya merasa gatal untuk menggodanya, untuk bisa mencairkan topeng es nya dan membuatnya terus berceloteh.
Dan senyum tipisnya saat aku menggodanya memberiku kepuasan tersendiri, bahwa tuan berdarah dingin ini sebenarnya tidak sekaku exterior nya, dan dia terlihat jauh lebih baik saat tersenyum, hanya saja... mata itu.
Mata yang hampa, topeng es nya memang sedikit mencair dengan senyum tipisnya itu, hanya saja senyumannya itu tidak ikut terpancar dari sorot matanya.
Tapi seiring waktu, senyum tipisnya berubah menjadi tawa, binar dimatanya mulai tampak, dan terkadang aku sering memergokinya sedang menatapku dengan tatapan yang intens saat aku berceloteh ria.
Dan aku hanya berpura-pura tidak menyadari tatapannya, tapi suatu waktu aku menatapnya balik dan mata kami pun bertemu, dia tidak memalingkan pandangannya, sebaliknya, tatapannya justru semakin dalam menusuk hingga kedalam jiwaku, ada kerinduan disana, hasrat dan harapan.
Dan pada momen itu dia berkata,
"Jadilah pacarku!"
Nada suaranya yang menuntut masih terngiang di kepalaku. Tapi matanya mengatakan sesuatu yang berbeda. Tatapannya saat dia mengucapkan kata-kata yang menuntut itu menatapku seolah-olah hanya ada aku di alam semestanya, dan gravitasinya menarikku kedalamnya.
Siapa yang sanggup untuk menolak tuntutan dengan penuh hasrat dan ketulusan seperti itu??
Dan cintanya....
Cinta semacam ini ... obsesi manis... mengamankan perasaan satu sama lain, memberi kepastian tanpa akhir, dia memperlakukanku dengan cara yang tidak pernah aku ketahui bahwa aku membutuhkannya.
Dan semenjak itu dia menjadi bagian dari kehidupanku.
***
Sudah lebih dari lima bulan aku bersama Matvey, hari hari yang kami lalui penuh dengan tawa dan kasih sayang, aku mencintainya dan aku tahu dia juga mencintaiku sama besarnya, tidak ada sedikitpun keraguan terlintas di benakku.
Tapi akhir-akhir ini dia sering menghilang tanpa kabar, awalnya hanya 1 hari, tapi lama-kelamaan, dia bisa menghilang sampai berhari-hari.
Tentu aku marah, tetapi permohonan maafnya, kata-kata manis dan perlakuan hangatnya, mampu melelehkan amarahku yang tadinya hampir meluap.
Dan seperti itu aku bagaikan anjing penurut yang mengibas-ngibaskan ekornya jika berhadapan dengannya, aku tidak pernah benar-benar sanggup untuk melontarkan amarah dihadapan wajah tampannya yang selalu terlihat sendu itu.
Tapi aku sadar, jika terus seperti ini hubungan kami tidak akan bisa bertahan lama, entah kepercayaan ku yang akan pudar secara perlahan, atau mungkin rasa cintaku yang akan mulai menghilang.
Jadi kali ini aku putuskan untuk berbicara serius dengannya.
"Matvey darling, apa kau sedang menyusun naskah proklamasi yang baru di perusahaanmu, sampai-sampai kau tidak bisa menghubungiku selama tiga hari?" Tanyaku sarkastik.
"No? Hanya menyusun data seperti biasa sayang." Jawabnya polos berpura-pura tidak mengerti kalimat sarkastik dibalik pertanyaanku.
Dan tepat sebelum aku mau mencecarnya dengan pertanyaan sarkas lain, dia melanjutkan kata-katanya, "Kau ingat saat pertama kali kita mulai berkencan? aku menceritakan tentang masalalu ku padamu, tentang kecelakaan mobil yang merenggut nyawa mantan pacarku."
"Ya, tentu saja, dan apa hubungannya dengan pertanyaanku tadi hmm?"
Bagaimana mungkin aku bisa lupa, dia menceritakan kisah tragis itu dimalam hari tepat setelah kami resmi berpacaran, bahkan belum satu hari pun berlalu.
Dan setelah mendengar apa yang terjadi padanya dimasa lalu, aku putuskan untuk tidak mempertanyakan tentang mantannya itu, dan aku tidak mau mengungkit tentang kejadian itu, aku tidak mau dia mengenang kenangan pahitnya, masa kini nya sekarang bersamaku, biarlah orang yang sudah tiada, berada di ketiadaan nya dan menghilang selamanya.
Mungkin kedengarannya egois, tapi siapa yang mau insekyur dan cemburu dengan hantu?
"Sepertinya aku mulai mengalami efek samping dari kecelakaan itu, kepalaku sering sakit akhir-akhir ini, dan aku sering ketiduran setelah minum obat, sepertinya dokterku mencampur obat tidur kedalam resep nya, tapi sekarang aku sudah lebih baik, see... i'm here now." Ucapnya seolah tanpa beban sambil merentangkan kedua tangannya.
"APA? DAN KAU BARU MEMBERITAHUKU SEKARANG?"
Jujur aku murka, aku ingin sekali mengangkat kerah bajunya dan membantingnya ke tanah, bisa bisanya dia tidak memberitahu hal sepenting ini kepadaku.
"Hanya sakit kepala sayang, aku tidak mau membuatmu khawatir."
"Dan kau pikir aku tidak khawatir saat kau tidak memberi ku kabar selama tiga hari???"
"Sorry honey, aku janji tidak akan membuatmu khawatir lagi." Ucapnya sambil menarikku perlahan kedalam pelukannya.
Aku hanya terdiam didalam dekapannya, seakan aku tidak punya energi lagi untuk mendebat perkataannya, dan hanya membiarkan diriku terhanyut di kehangatannya sambil merasakan irama detak jantungnya.
Sampai akhirnya aku tersadar bahwa ucapannya itu hanyalah sebuah kebohongan yang manis.
Ya, dia tidak menepati janjinya, dia semakin sering menghilang dan membuatku khawatir.
Rasanya aku seperti sedang menggenggam pasir, semakin erat aku mencoba menahan, semakin banyak yang hilang di sela jari.
Aku berhenti bertanya "kenapa" dan "ke mana", karena ketidakhadirannya adalah jawaban yang paling jujur. Dia tidak sedang tersesat, dia hanya tidak ingin ditemukan olehku.
Di tengah malam, teleponku berdering dan melihat namanya terpampang dilayar, jantungku berdebar kencang, setelah lama dia tidak memberi kabar, kenapa baru hari ini, dan di jam segini.
Aku memencet tombol jawab dan mendekatkan teleponku ke telinga, untuk beberapa detik aku tidak berkata apa-apa, begitupun dengan orang yang berada dibalik telepon, hanya hening...
Dan setelah keheningan yang terasa lama itu, aku putuskan untuk memencet tombol tutup, tapi sebelum jariku menyentuh layar aku mendengar suara perempuan.
"Apa benar ini dengan Jane?" Tanya perempuan itu.
Tanganku bergetar, dengan suara parau aku menjawabnya, "Ini dengan siapa?" Tanyaku balik.
Bukannya menjawab, hanya isak tangis yang terdengar dari balik telepon, dan kata-kata berikutnya yang keluar dari wanita itu, membuatku langsung berlari menuju tempat yang dia sebutkan di telepon.
****
Aku melihatnya terbaring di atas ranjang putih, diujung tempat tidurnya ada papan bertuliskan namanya, usia dan juga penyakit yang sedang dideritanya.
Mataku terpaku pada tulisan "kanker jantung" di papan itu, pipiku mulai terasa basah oleh air mataku yang mulai tak terkendali.
Wanita yang tadi meneleponku adalah ibu Matvey, dia menceritakan kronologi bagaimana Matvey sampai berada dirumah sakit ini.
Katanya sepeninggal mantannya itu, Matvey mulai kecanduan alkohol dan rokok, fakta yang cukup mengejutkan bagiku karena setahuku dia adalah pria dengan pola hidup yang cukup sehat, dia bilang dia tidak suka merokok dan tidak kecanduan minuman, dan bahkan dia sering pergi ke gym.
Ibunya bilang dia memang sudah berhenti dari kebiasaan buruknya, dia tidak tahu apa penyebab pastinya, lebih tepatnya tidak peduli yang penting dia sangat bersyukur karena akhirnya anaknya bisa kembali ke kehidupan normalnya.
Matvey juga tidak pernah cerita kalau dia sudah memiliki kekasih baru, dia hanya terlihat lebih ceria dan lebih dekat dengan keluarga.
Dan seminggu yang lalu Matvey tiba-tiba jatuh pingsan, keluarganya langsung membawanya kerumah sakit ini dan langsung shock mendengar perkataan dokter bahwa anaknya selama ini sudah mengidap kanker jantung, dan dia sudah mulai memasuki stadium akhir dan kini terbaring koma.
Tangis ibunya membuncah dia tidak sanggup melanjutkan ceritanya dan hanya menyerahkan sebuah buku note kecil, yang dia ambil dari atas meja dikamar Matvey.
Aku membukanya perlahan, dan melihat foto-foto ku ditempel disana, di atasnya bertuliskan "My lovely Jane", aku tersenyum dan mulai membuka halaman selanjutnya, isinya terlihat seperti sebuah puisi, aku membacanya dengan hati bergetar.
𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘪,
𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢
𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯,
𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘩𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯.
𝘛𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘬𝘶.
𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘢-𝘴𝘦𝘭𝘢 𝘫𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘮𝘱𝘢.
𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯.
𝘉𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘶𝘯𝘫𝘶𝘯𝘨
𝘥𝘪 𝘫𝘦𝘯𝘥𝘦𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢,
𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢
𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢.
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘸𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘮𝘶,
𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘥𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢
𝘋𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.
𝘋𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘬𝘶,
𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩
𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘶𝘩
𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢
Aku buka lagi lembar berikutnya, kini aku melihat sebuah pesan.
𝘔𝘺 𝘑𝘢𝘯𝘦...
𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘮𝘶, 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵, 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘫𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘮 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪.
𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢𝘬𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢𝘮𝘶, 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘢𝘧, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘶.
𝘔𝘺 𝘑𝘢𝘯𝘦... 𝘪 𝘭𝘰𝘷𝘦 𝘺𝘰𝘶... 𝘢𝘭𝘸𝘢𝘺𝘴
Aku terjatuh luruh ke lantai yang dingin, kedua lutut ku membentur ubin dengan suara tumpul yang tak lagi ku hiraukan.
Di dalam dekapanku, sebuah buku kecil yang kupeluk erat. Jemariku mulai memutih, mencengkeram sampul buku itu dan berusaha memeluk sisa-sisa kenangan atau mungkin janji-janji yang kini hanya menjadi tumpukan kertas mati.
Mataku terpejam rapat, dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti. Ada badai yang mengamuk di dalam dadaku, sebuah jerit pilu yang meronta ingin keluar, namun hanya tertahan di pangkal tenggorokan dan menjadi isak yang tercekat.
Hatiku terasa seperti disayat sembilu secara perlahan, perih, panas, dan meninggalkan luka menganga yang tak kasat mata.
GC RUMAH MENULIS - CINTA SEPANJANG HIDUP