Judul: Burger, Hujan, dan Sepatu yang Menyerah
Hari ini aku berangkat ke sekolah seperti biasa, pakai seragam sesuai jadwal. Nggak ada yang aneh—atau setidaknya aku kira begitu.
Sampai sekolah, ada acara ini-itu (skip, karena ya… ribet). Yang jelas, aku kebagian presentasi.
Aku satu kelompok sama orang-orang yang menurutku biasa aja. Bukan musuhan, tapi asing. Kayak saling tau nama tapi nggak tau cerita hidup.
Yang bikin aneh: ketua kelompokku ramah banget ke aku. Asli. Padahal biasanya cuek. Dan entah kenapa… pas aku perhatiin, dia tuh lucu. Bukan lucu lebay, tapi lucu yang bikin mikir, “kok baru ngeh ya?”
Lanjut ke jam istirahat.
Pas banget, aku lagi main game simulasi dagang burger. Fokus banget ngatur pelanggan, stok, sama uang.
Eh, tiba-tiba makan siang dibagi.
Dan menunya… burger.
Aku diem.
Ini kebetulan atau semesta lagi bercanda?
Abis itu aku ibadah, lalu balik lagi ke kelas. Seperti biasa, sepatu aku taruh di rak. Tapi hidup emang hobi bikin plot twist—ujan turun. Deras.
Sepatuku?
Kehujanan. Basah. Menyerah total.
Akhirnya aku mutusin buat nggak pakai sepatu sama sekali. Yup. Nyeker. Ke mana-mana.
Mau gimana lagi.
Masuk ke praktik tes golongan darah. Satu kelompokku random banget, kelakuannya bikin ketawa terus. Mood-ku naik lagi, padahal kakiku dingin kena lantai.
Dan yang bikin aku makin heran: dia—yang tadi presentasi—malah jadi sering ikut ke mana aku pergi. Kayak tiba-tiba selalu ada di sekitar. Bahkan sempat deketin ketua kelompok juga. Aku bingung, tapi ya… aku nggak masalah. Rasanya biasa aja. Atau mungkin pura-pura biasa.
Akhir hari, aku pulang.
Nenteng sepatu.
Jalan kaki dari sekolah sampai rumah.
Tanpa alas. Lumayan jauh, tapi entah kenapa nggak kesel. Capek iya, tapi hati malah ringan.
Hari ini aneh.
Ada senengnya.
Ada sialnya (sepatu, jelas).
Tapi kalau dipikir-pikir, hari ini tetep layak disimpan di kepala.
Karena nggak setiap hari bisa ketawa gara-gara hal random, makan burger pas main game burger, dan pulang nyeker sambil mikir,
“Yaudah lah… hidup emang gini.”
— Tamat