Mereka bertiga sudah saling mengenal sebelum kata dewasa punya arti. Rendra, Sinta, dan Bagas tumbuh di satu gang sempit, berbagi radio rusak, mimpi besar, dan satu rahasia yang tidak pernah dibicarakan setelah lulus SMA. Waktu berjalan, membawa mereka ke rumah masing-masing, pasangan masing-masing, dan luka yang mereka rawat dengan diam.
Setiap Minggu sore, mereka berkumpul di rumah Rendra. Meja kayu panjang itu menjadi saksi rutinitas yang tampak rapi. Anak-anak duduk berjajar. Istri dan suami tersenyum seperlunya. Tidak ada yang benar-benar hadir.
Rendra selalu memulai percakapan dengan nada mengatur.
Kita harus makan tepat waktu. Anak-anak butuh disiplin.
Sinta tersenyum, suaranya ringan tapi rapuh.
Kamu masih sama, Ndra. Hidup bukan barak.
Bagas mengaduk teh terlalu lama.
Kadang yang bikin rusak bukan kekacauan, tapi tekanan yang kelihatan sempurna.
Rendra tidak suka kalimat itu. Ia percaya hidup harus lurus. Ia menikahi perempuan yang tidak ia cintai sepenuhnya karena merasa itu keputusan paling aman. Sinta tahu itu. Bagas lebih tahu lagi.
Dua puluh lima tahun lalu, di bangku SMA, mereka duduk bertiga di tribun lapangan basket. Sinta berada di tengah. Rendra di kiri, Bagas di kanan. Sinta tertawa lepas, membuat dua laki-laki itu jatuh cinta dengan cara berbeda.
Rendra mencintai dengan rencana.
Setelah lulus kita kuliah. Aku kerja. Kamu aman.
Bagas mencintai dengan keberanian.
Kalau kamu jatuh, aku yang nangkap.
Sinta memilih diam. Ia mencintai Bagas, tapi menerima Rendra. Ia memilih aman, bukan jujur. Pilihan itu membentuk hidup mereka.
Kini, di usia empat puluhan, kebohongan itu kembali meminta bayarannya.
Suatu Minggu, Maya, anak Sinta, pingsan di kamar mandi. Ambulans datang. Rumah mendadak gaduh. Di rumah sakit, dokter bicara pelan tapi jelas. Overdosis ringan. Obat penenang dicampur alkohol.
Sinta duduk membeku.
Aku gagal jadi ibu.
Bagas menatap lantai.
Kamu terlalu lama bertahan.
Rendra tidak mengerti.
Bertahan dari apa
Sinta menatapnya tajam untuk pertama kali.
Dari hidup yang kalian sebut wajar.
Di rumah, malam itu, Rendra membuka ponsel istrinya. Pesan-pesan lama muncul. Nama Sinta berulang. Isinya bukan rayuan, melainkan tangisan. Tentang kesepian. Tentang pernikahan yang dingin. Tentang malam-malam di mana ia ingin pergi tapi tidak tahu ke mana.
Rendra gemetar. Ia mendatangi pertemuan Minggu berikutnya dengan kepala penuh.
Sejak kapan kamu jadi tempat curhat istriku
Sinta tidak langsung menjawab. Ia menggulung lengan bajunya. Lebam lama dan baru bertumpuk.
Sejak suamiku mengira tangannya lebih sah daripada suaraku.
Bagas berdiri. Wajahnya pucat.
Hentikan.
Rendra menatapnya.
Kamu tahu
Bagas mengangguk.
Aku tahu sejak lama. Aku yang antar Sinta ke klinik. Aku yang simpan uang darurat. Aku juga yang tahu Maya mulai pakai pil dari temannya.
Rendra merasa lantai runtuh.
Kenapa kamu tidak bilang
Bagas tertawa pahit.
Karena aku juga bersalah.
Sunyi panjang.
Bagas melanjutkan dengan suara rendah.
Aku tidak pernah berhenti mencintai Sinta. Bahkan setelah ia menikah. Bahkan setelah aku menikah. Aku kira diam adalah bentuk pengorbanan. Ternyata diam adalah bentuk kekerasan.
Sinta menangis.
Aku memilih Rendra karena takut kehilangan segalanya. Tapi aku kehilangan diriku sendiri.
Rendra akhirnya duduk.
Aku menikah karena merasa harus. Aku kira cinta bisa dipelajari. Aku salah.
Anak-anak mendengar dari balik pintu. Aldo, anak Rendra, masuk dengan mata merah.
Kalian pikir kami tidak tahu. Ayah memerintah. Ibu menghilang. Tante Sinta selalu menangis. Om Bagas selalu menahan marah. Kami belajar bohong dari kalian.
Rafi, anak Bagas, mengeluarkan plastik kecil dari tasnya. Serbuk putih.
Aku cuma mau kepala ini diam.
Itulah plot twist yang tak mereka duga. Bukan perselingkuhan. Bukan kekerasan. Melainkan warisan luka yang berpindah generasi.
Malam itu, segalanya runtuh.
Sinta melapor dan pergi.
Bagas masuk rehabilitasi bersama anaknya.
Rendra duduk sendiri di rumah yang terlalu rapi.
Beberapa bulan kemudian, mereka bertemu lagi. Tanpa pasangan. Tanpa kepura-puraan.
Bagas berkata pelan.
Kalau waktu bisa diulang, aku akan jujur.
Sinta mengangguk.
Aku juga.
Rendra menutup mata.
Kita tidak bisa mengulang. Tapi kita bisa berhenti mewariskan.
Cinta segitiga itu tidak pernah selesai.
Namun untuk pertama kalinya, mereka berhenti berdusta.
Dan itu lebih menyakitkan dari kehilangan apa pun.
---
Waktu tidak menyembuhkan apa pun. Ia hanya memberi jarak agar luka tampak lebih rapi. Rendra belajar itu setelah rumahnya terlalu sunyi. Jam makan malam tetap sama, meja tetap bersih, tetapi tidak ada suara. Istrinya pergi tanpa drama, membawa koper kecil dan kelelahan besar. Ia tidak menuduh. Itu yang paling menyakitkan.
Rendra mulai pulang lebih cepat. Duduk di ruang tamu. Menatap foto keluarga yang belum ia turunkan. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali ia bertanya dengan sungguh-sungguh pada anaknya. Bukan tentang nilai. Bukan tentang jadwal. Tentang perasaan.
Aldo pulang suatu malam dengan langkah ragu.
Ayah masih marah
Rendra menggeleng pelan.
Ayah bingung
Aldo duduk. Lama.
Aku pikir jadi seperti ayah itu aman. Tapi sekarang aku takut jadi ayah
Kalimat itu lebih tajam dari tuduhan apa pun. Rendra menyadari, disiplin yang ia banggakan telah menjadi tembok. Ia membangun rumah, tapi lupa jendela.
Di tempat lain, Sinta tinggal di rumah singgah perempuan. Ia tidur bersama kenangan. Setiap malam, lebamnya terasa gatal seperti ingin bercerita. Ia menulis surat yang tidak pernah ia kirim. Untuk ibunya yang dulu berkata perempuan harus tahan. Untuk dirinya yang menuruti.
Suatu sore, Maya datang menemuinya.
Aku benci kamu pergi
Sinta menahan napas.
Aku pergi supaya kamu tidak belajar bertahan di tempat yang salah
Maya menunduk.
Aku pakai pil karena aku ingin berhenti merasa. Aku kira itu caranya
Sinta memeluk anaknya. Untuk pertama kalinya tanpa rasa takut akan langkah kaki di belakang.
Kita belajar merasa sama-sama. Pelan-pelan
Bagas menjalani rehabilitasi bukan hanya dari zat, tetapi dari rasa bersalah. Rafi duduk di sampingnya di sesi keluarga. Anak itu akhirnya bicara, kalimatnya pendek-pendek seperti belajar berjalan.
Aku lihat ibu pergi malam itu
Aku dengar ayah banting pintu
Aku kira aku penyebabnya
Bagas memejamkan mata.
Tidak ada anak yang menyebabkan perpisahan. Orang dewasa yang gagal bicara
Terapis meminta mereka menulis masa lalu. Bagas menulis tentang Sinta. Tentang tribun basket. Tentang janji yang tidak pernah ia ucapkan. Tentang keberanian yang selalu datang terlambat.
Ia juga menulis satu rahasia yang belum pernah ia bagi. Pada malam kelulusan, sebelum Sinta memilih Rendra, Bagas pernah melakukan satu hal bodoh. Ia mencuri uang ayahnya untuk kabur bertiga. Rencana itu gagal. Ayahnya memukulnya. Bukan sekali. Sejak itu Bagas belajar bahwa cinta harus diam agar tidak mengundang kekerasan.
Rahasia itu akhirnya keluar saat mereka bertemu kembali di sebuah kafe kecil. Tanpa pasangan. Tanpa anak. Tiga orang yang tersisa dari reruntuhan.
Bagas berbicara dengan suara datar.
Aku tidak hanya takut kehilangan kamu, Sin. Aku takut jadi seperti ayahku
Sinta menatapnya lama.
Aku memilih Rendra karena aku takut miskin. Takut sendirian. Takut dicap bodoh. Kita semua memilih karena takut
Rendra menyela.
Dan aku memilih karena ingin terlihat benar
Sunyi mengikat mereka. Bukan sunyi canggung, melainkan sunyi pengakuan.
Plot twist berikutnya datang dari tempat yang tidak mereka duga. Dari ibu Rendra yang jatuh sakit. Di ranjang rumah sakit, perempuan tua itu memegang tangan Rendra dan berkata lirih.
Ayahmu dulu memukulku. Aku bertahan demi kamu
Rendra tercekat.
Kenapa ibu tidak pergi
Perempuan itu tersenyum lelah.
Karena dulu tidak ada yang menyuruh pergi. Karena aku pikir cinta itu menahan
Rendra keluar dari rumah sakit dengan langkah goyah. Ia mengerti sekarang. Kekerasan adalah bahasa yang diwariskan saat kata-kata dilarang.
Ia menemui Aldo malam itu.
Ayah minta maaf. Bukan karena salah satu hal. Tapi karena banyak hal yang tidak ayah dengar
Aldo menatap ayahnya.
Aku mau dengar kamu juga
Sinta menghadapi masa lalu lain. Ia menemui ayahnya di kampung. Lelaki itu masih dengan nada perintah.
Perempuan harus tahu batas
Sinta berdiri tegak.
Batas itu bukan di tubuhku. Tapi di tangan orang lain
Ia pulang dengan napas lega. Luka lama tidak sembuh, tetapi tidak lagi menguasai.
Bagas mendapat kabar buruk. Mantan istrinya meninggal karena overdosis. Rafi menangis tanpa suara. Bagas memeluknya lama.
Kita tidak bisa menyelamatkan semua orang. Tapi kita bisa berhenti menambah korban
Mereka bertiga kembali ke gang lama. Rumah-rumah mengecil. Lapangan basket kosong. Tribun berkarat. Sinta duduk di tengah seperti dulu.
Rendra berkata pelan.
Kalau aku jujur waktu itu
Bagas menyahut.
Kalau aku berani
Sinta menggeleng.
Kita bukan gagal karena salah pilih. Kita gagal karena tidak selesai
Mereka tidak kembali bersama. Tidak ada rekonsiliasi romantis. Itu bukan ceritanya. Yang terjadi adalah perpisahan yang jujur. Persahabatan yang dewasa. Cinta yang diakui tapi tidak dituntut.
Anak-anak mereka tumbuh dengan cerita yang berbeda. Tentang orang tua yang mengaku salah. Tentang keberanian pergi. Tentang meminta bantuan.
Dan pada suatu Minggu sore yang lain, meja kayu itu kembali terisi. Tidak lengkap. Tidak rapi. Tapi nyata. Mereka makan tanpa aturan. Tertawa tanpa kewajiban. Diam tanpa takut.
Asmara Gen X mereka tidak pernah bahagia seperti film. Tetapi akhirnya tidak lagi menyakiti.
Dan itu, bagi mereka, adalah akhir yang layak.