Perpustakaan kampus di sore hari selalu punya aroma yang khas, perpaduan antara kertas lama, pembersih lantai jeruk, dan rintik hujan yang mulai membasahi kaca jendela. Di sudut meja nomor dua belas, Arlan duduk mematung. Matanya tertuju pada buku Teori Arsitektur di depannya, namun pikirannya berada tiga meter di seberang meja—pada seorang gadis dengan kuncir kuda yang sedang serius mencatat sesuatu.
Kirana.
Nama itu sudah bergema di kepala Arlan selama tiga tahun terakhir. Tiga tahun yang penuh dengan percakapan basa-basi, bantuan meminjamkan catatan, dan tawa yang Arlan simpan rapat-rapat dalam memorinya.
"Lan, lo ngelamun lagi?"
Suara itu membuyarkan lamunan Arlan. Kirana sudah berdiri di depan mejanya, menenteng tas ransel kecilnya.
"Eh, Ra. Enggak, ini... cuma lagi mikir struktur bangunan ini agak ribet," dusta Arlan cepat.
Kirana terkekeh, suara yang selalu berhasil membuat jantung Arlan melakukan salto kecil. "Ya iyalah ribet, itu kan desain Zaha Hadid. Lo mau balik bareng nggak? Di luar hujan, gue bawa payung tapi cuma satu."
Arlan terdiam sejenak. Tawaran itu adalah berkah sekaligus kutukan.
Berdekatan dengan Kirana di bawah satu payung berarti ia harus menahan napas agar debar jantungnya tidak terdengar.
"Boleh, kalau lo nggak keberatan," jawab Arlan berusaha santai.
...Jarak Sepuluh Sentimeter...
Di bawah payung berwarna biru navy itu, dunia terasa menyempit. Aroma parfum vanila Kirana menyeruak, mengalahkan bau tanah yang basah. Mereka berjalan pelan menuju halte bus.
"Lan," panggil Kirana pelan.
"Ya?"
"Lo inget nggak waktu kita pertama kali ketemu di ospek?" Kirana menengadah, melihat rintik air yang jatuh di pinggiran payung. "Lo yang kasih gue air mineral waktu gue hampir pingsan karena kepanasan."
Arlan tersenyum tipis. "Gue inget. Lo pucet banget waktu itu, Ra. Gue pikir lo beneran mau tumbang."
"Makasih ya, Lan. Dari dulu sampai sekarang, lo selalu ada buat gue. Lo itu... sahabat terbaik yang pernah gue punya."
Sahabat.
Kata itu menghantam dada Arlan lebih keras daripada petir yang baru saja menyambar di kejauhan. Arlan hanya mengangguk kecil. "Santai aja, Ra. Namanya juga temen."
"Iya sih. Tapi kadang gue mikir, apa jadinya kalau gue nggak kenal lo ya?"
Kirana berhenti melangkah, menatap Arlan dengan mata bulatnya yang jernih. "Mungkin kuliah gue bakal berantakan."
Arlan ingin sekali mengatakan: Gue mau jadi lebih dari sekadar orang yang bantu kuliah lo, Ra. Namun, yang keluar dari mulutnya hanya, "Lo kan pinter, pasti bisa survive sendiri."
..Rahasia di Balik Sketsa..
Minggu-minggu berlalu. Arlan tetap menjadi Arlan yang pendiam, dan Kirana tetap menjadi matahari yang bersinar bagi siapa saja. Namun, bagi Arlan, sinar itu mulai terasa membakar.
Suatu sore di studio arsitektur, Arlan sedang menyelesaikan maketnya. Kirana duduk di dekatnya, sibuk menggambar sketsa wajah di buku catatannya.
"Lan, lo pernah jatuh cinta nggak?"
tanya Kirana tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya.
Tangan Arlan yang sedang memegang cutter terhenti. "Kenapa nanya gitu?"
"Ya... pengen tahu aja. Lo itu misterius banget soal perasaan. Nggak pernah cerita soal cewek, padahal banyak yang nanyain lo ke gue."
"Gue lagi fokus kuliah, Ra."
"Basi!" Kirana tertawa. "Pasti ada satu orang kan? Siapa sih? Kasih tahu gue dong, kali aja gue bisa bantu comblangin."
Arlan meletakkan alatnya. Ia menatap Kirana dalam-dalam. "Gue cinta sama seseorang yang nggak mungkin gue miliki, Ra."
Kirana menghentikan goresan pensilnya.
Ia menatap Arlan penuh selidik. "Kok nggak mungkin? Emang dia udah punya pacar? Atau dia suka sama orang lain?"
"Dia... terlalu berharga buat gue rusak hubungannya hanya karena ego gue," ucap Arlan lirih.
Kirana terdiam. Ada kilat aneh di matanya yang tak bisa Arlan artikan. "Lo pengecut, Lan. Kalau lo sayang, ya bilang. Masalah ditolak atau nggak, itu urusan belakangan. Yang penting lo lega."
"Nggak semudah itu, Ra. Ada hal-hal yang lebih baik tetep jadi rahasia supaya kita nggak kehilangan apa yang udah ada sekarang."
...Undangan yang Menyakitkan...
Waktu tidak pernah menunggu siapapun.
Wisuda tinggal menghitung bulan. Arlan sudah memantapkan hati untuk menyatakan perasaannya tepat di hari kelulusan nanti. Ia sudah menyiapkan sebuah kotak kecil berisi miniatur bangunan yang ia rancang sendiri—rumah impian yang di dalamnya terdapat inisial nama mereka.
Namun, sore itu di kafe biasa, Kirana datang dengan wajah yang berseri-seri.
"Lan! Gue punya kabar baik!"
Arlan tersenyum. "Kabar apa? Beasiswa lo tembus?"
Kirana menggeleng. Ia menyodorkan sebuah ponsel. Di layarnya, terlihat foto Kirana bersama seorang pria—kakak tingkat mereka yang sudah bekerja di perusahaan ternama. Mereka tampak sangat bahagia.
"Gue sama Kak Dimas... kita jadian semalam," ucap Kirana dengan nada riang yang menusuk telinga Arlan.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Arlan. Suara bising kafe menghilang, menyisakan kesunyian yang mencekik.
Arlan memaksakan sebuah senyuman—senyuman paling palsu yang pernah ia buat seumur hidupnya.
"Wah... selamat ya, Ra. Dia cowok baik. Gue ikut seneng."
"Makasih, Lan! Akhirnya ya... gue nggak jomblo lagi. Lo kapan?" Kirana menyenggol bahu Arlan.
"Gue? Tenang aja, masih banyak antrean," canda Arlan, meski hatinya terasa seperti dihancurkan oleh palu godam.
Malam itu, Arlan pulang dan menatap maket rumah impiannya. Ia mengambil miniatur itu, lalu meremasnya hingga hancur. Inisial 'A' dan 'K' yang terukir di sana kini patah menjadi dua.
Kata-kata yang Tak Pernah Sampai
Hari wisuda tiba. Kirana tampak cantik dengan kebaya berwarna pastel dan toga yang membingkai wajahnya. Dimas ada di sana, merangkul pundaknya dengan bangga.
Arlan berdiri di kejauhan, memegang sebuah surat di saku toganya. Surat yang berisi semua pengakuan yang ia tulis selama berbulan-bulan.
Kirana melihatnya dan melambaikan tangan. Ia berlari kecil menuju Arlan.
"Lan! Kita lulus!" Kirana memeluk Arlan erat. Sebuah pelukan perpisahan yang terasa sangat dingin bagi Arlan.
"Selamat ya, Ra. Sukses di tempat kerja yang baru," bisik Arlan.
"Lo juga, Lan. Jangan lupain gue ya? Jangan jadi sombong kalau udah jadi arsitek hebat."
"Nggak akan, Ra."
Arlan merasakan surat di sakunya. Ia sempat ingin memberikannya, namun saat melihat Dimas berjalan mendekat dan mengecup kening Kirana, Arlan menarik kembali tangannya.
"Ra, gue duluan ya. Orang tua gue udah nunggu," pamit Arlan.
"Oh, oke! See you, Lan!"
Arlan berbalik arah. Ia berjalan menjauhi kerumunan yang bersuka cita. Di dekat tempat sampah besar di belakang gedung pertemuan, ia mengeluarkan surat itu. Ia tidak membacanya lagi. Ia merobeknya menjadi potongan-potongan kecil dan membiarkannya terbang terbawa angin.
Dalam diam gue mencintai lo, dan dalam diam pula gue harus merelakan lo.
..Penyesalan yang Terlambat..
Lima tahun kemudian.
Arlan sudah menjadi arsitek sukses. Ia sedang membereskan barang-barangnya untuk pindah ke kantor cabang di luar negeri. Di sela-sela tumpukan buku lama, ia menemukan sebuah buku catatan kecil milik Kirana yang tertinggal saat mereka mengerjakan tugas akhir dulu.
Arlan membukanya dengan tangan bergetar. Lembar demi lembar berisi catatan kuliah, hingga ia sampai di halaman paling belakang.
Ada sebuah sketsa wajah. Wajah Arlan.
Di bawah sketsa itu, ada tulisan tangan Kirana yang sangat ia kenal:
"Untuk Arlan, si Arsitek Kaku. Gue selalu nunggu lo bilang sesuatu, Lan. Gue sengaja deket sama Kak Dimas supaya lo cemburu, supaya lo sadar kalau gue juga punya perasaan yang sama. Tapi lo diem aja. Lo selalu jadi sahabat yang terlalu baik sampai gue takut kalau gue yang melangkah duluan, gue bakal ngerusak pertemanan kita. Hari ini gue nyerah, Lan. Gue bakal coba buka hati buat Dimas. Semoga lo nemu bahagia lo sendiri."
...
Arlan terduduk lemas di lantai. Air mata yang ia tahan selama bertahun-tahun akhirnya jatuh membasahi kertas kusam itu.
Ternyata, mereka adalah dua orang yang sama-sama pengecut. Dua orang yang saling mencintai namun terlalu takut untuk kehilangan, hingga akhirnya mereka benar-benar kehilangan satu sama lain selamanya.
Di luar, hujan kembali turun. Sama seperti sore itu di perpustakaan, namun kali ini, tidak ada lagi payung biru dan aroma vanila yang menemaninya.
🤎Catatan: Terkadang, kejujuran yang menyakitkan jauh lebih baik daripada keheningan yang membunuh perlahan. Jangan biarkan "diam" menjadi penyesalan terbesar dalam hidupmu.🤎
.
.
.
.
●●●●hai semua yang baca jika kalian suka silahkan tinggalkan jejak ^^
Maaf bila ada salah kata pada penulisan saya. Saya minta maaf. Karena saya hanya manusia biasa yang tak luput dari masalah.
Terimakasih semua. Lopeyou ^*^
Oke lagi! Silahkan follow jika kalian ingin membaca karya saya!
Bye bye
Sehat selalu semua!!
Arigatou!!
●●●●●