Selamat jalan, sahabatku.
Kini kamu telah bertemu dengannya dan bahagia di sisi-Nya.
Namaku Fahrana.
Setelah memarkirkan motorku di area parkir yang telah disediakan, langkah kakiku semakin kupercepat menuju bangunan kafe.
Sesekali aku merapikan rambutku yang sedikit berantakan sebelum mendorong pintu kafe perlahan.
Mataku langsung berkeliling, mencari sosok yang pasti sudah menungguku.
Dia sahabatku, Namanya Soraya. Aku biasa memanggilnya Aya.
Dugaanku benar. Aya sudah duduk manis di meja yang biasa kami tempati setiap kali datang ke kafe itu.
“Hey, Ay… maaf ya, aku lama?” sapaku sambil mendekat dan merangkulnya.
Aya hanya tersenyum tipis lalu menggeleng.
“Nggak kok, Rana. Aku juga baru sampai. Santai aja.”
Aku duduk di hadapannya. Entah kenapa, sejak saat itu aku merasa ada yang berbeda dari Aya hari itu.
Wajahnya yang memang sudah cantik terlihat semakin bersinar. Ada aura lain yang sulit kujelaskan.
Keanehan pertama yang kusadari adalah pakaiannya.
Aya mengenakan baju milik almarhumah ibunya.
Padahal setahuku, Aya pernah bilang semua baju ibunya sudah dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.
“Lho, itu baju ibu kamu?” tanyaku setengah bercanda.
“Iya,” jawabnya pelan. “Lagi kangen ibu banget, Na.”
Bukan cuma itu.
Di kafe, Aya memesan dua gelas susu putih dingin.
Aku sampai melongo kaget.
Sejak kapan Aya minum susu putih? Apalagi dingin. Setahuku, dia paling tidak suka susu putih, dalam bentuk dan suhu apa pun. Jangankan sampai dua gelas,satu sedotan juga dia tidak suka.
Aku pun bertanya lagi.
Namun Aya hanya mengulang jawaban yang sama,
“Lagi kangen ibu banget, Na. Dulu waktu kecil, ibu selalu nyuruh aku minum susu putih. Padahal aku jelas-jelas nolak.”
Semakin lama, rasa aneh di hatiku makin menguat.
Tapi sebagai sahabatnya, aku hanya bisa mendengarkan semua ceritanya.
Soraya sedang merindukan ibunya.
Namun ternyata, itu belum semuanya.
Tiba-tiba Aya menanyakan soal sebuah foto.
“Rana, kamu masih ada nyimpan fotonya Rendra kan di HP kamu?”
Aku terdiam.
“Kemarin HP aku error, yang aku ceritain itu, Na! Semua foto hilang,” lanjutnya. “Aku nggak punya satu pun foto Rendra lagi, Na.”
Aku terperanjat. Rendra.
Aku ingat nama itu. Rendra adalah teman dekat Aya di dunia maya.
Tapi foto itu dikirim Aya dua atau tiga tahun yang lalu.
Aku sendiri ragu foto tersebut masih tersimpan di galeri ponselku.
Aku bergumam pelan, setengah ragu, mengatakan mungkin saja foto itu sudah terhapus.
Dan saat itulah, ehhh Aya menangis. Sesenggukan.
Tangis yang benar-benar menyayat hati.
Karuan aku panik. Bergegas mengutak-atik galeri ponselku.
Dan Alhamdulillah… fotonya masih ada.
Begitu kutemukan, wajah Aya langsung berubah.
Senyumnya merekah, matanya berbinar bahagia.
Aku segera mengirimkan foto Rendra yang sedang menunduk ke ponsel Aya.
Hari itu, pertemuanku dengan Aya meninggalkan rasa ganjil di dalam hati.
Namun aku berusaha menepisnya.
Aku bahkan sempat melupakan semua keanehan itu ketika kami berpisah di depan kafe.
“Ketemu lagi ya, Na,” katanya sambil tersenyum.
“Insya Allah, tapinya." Ujarnya terkekeh kecil.
Hanya tiga hari setelah pertemuan aku dengan Aya.
Hari itu, entah pukul berapa.
Aku bahkan belum sempat melirik jam beker di atas nakas.
Yang pasti, malam sudah larut.
Rasanya aku baru saja terlelap, kelelahan setelah pulang dari luar kota.
Tiba-tiba... aku terbangun. Napasku tersengal, Aku mimpi buruk.
Aya!
Aku memimpikan dia.
Sahabatku itu berdiri beberapa langkah dariku, melambaikan tangan sambil tersenyum.
Kami mengenakan seragam SMA, seperti dulu. Terlalu nyata, tapi terasa janggal.
“Mimpi yang aneh,” batinku, sambil memijat pelipis yang mendadak berdenyut.
Aya pasti baik-baik saja, bisikku,
mencoba menepis perasaan tak enak yang perlahan merayap.
Lagi pula, sore tadi kami masih sempat saling berkirim pesan.
Kesadaranku belum sepenuhnya pulih ketika pintu kamarku diketuk pelan dari luar.
Lalu terdengar suara lembut bunda memanggil namaku.
“Rana, Nak…”
“Iya, Bund,” sahutku, bangkit dari tempat tidur dan melangkah membuka pintu.
Namun belum sempat aku bertanya, bunda tiba-tiba memelukku erat.
Malah terlalu erat.
“Sabar ya, sayang… ikhlas.”
Aku tak langsung mengerti maksudnya.
Tapi detik berikutnya, dadaku sesak. Kakiku lemas, tubuhku luruh hingga aku terduduk di lantai.
Air mata tumpah tanpa aba-aba, lisanku gemetar beristigfar.
Tidak! Jeritku
Aku tidak percaya.
Bunda pasti salah.
Bunda pasti berbohong.
Aya… meninggal.
Aya tertabrak motor di depan gang rumahnya.
Ia tak tertolong saat dibawa ke rumah sakit.
Aya…
Ya Allah, Aya…
Hatiku menjerit pilu, hancur tanpa sisa.
Dan rasa perih itu semakin menjadi ketika tanganku gemetar mengaktifkan ponsel.
Satu per satu pesan masuk memenuhi layar.
Ucapan belasungkawa...
Doa...
Nama Aya berulang kali muncul di grup chat alumni sekolah.
Saat itu aku tahu...
mimpi tadi bukan sekadar mimpi tapi kenyataan.
Di rumah Aya…
Aku memeluk ketiga keponakan Aya yang menangis, memanggil nama tante kesayangan mereka berulang-ulang.
Hatiku tak kalah sakit. Sedih.
Dan sialnya, air mata ini seperti tak mengenal habis.
Aku menyembunyikan tangisku, mendekap erat tubuh-tubuh kecil itu, tepat saat keranda Aya diangkat untuk diantarkan ke peristirahatan terakhirnya.
Begitu banyak orang yang menyayangi Aya.
Tetangga, saudara-saudaranya, juga teman-temannya.
Semua datang dengan wajah kehilangan.
Aku menggandeng ketiga anak kecil berwajah sendu itu masuk ke dalam rumah.
“Rana.”
Aku menoleh. Mbak Amanda, kakak pertama Aya.
Dia pasti sangat kehilangan adik bungsu yang dirawatnya sejak kecil itu.
Aku melihat sendiri tatapan kosong bercampur duka di matanya.
Matanya bengkak,Terlalu banyak menangis.
Wajar…
Aku bisa merasakan apa yang Mbak Amanda rasakan.
“Ini ponsel Aya,” ucapnya pelan sambil menyodorkan benda itu.
“Rana pasti tahu sandinya, kan?”
Aku mengangguk lemah.
“Hapus semua akun media sosialnya ya, Na. Aplikasinya juga. Semuanya.”
Raut wajahnya mengeras menahan luka.
“Rana pasti paham maksud Mbak…”
Sekali lagi aku mengangguk.
“Mbak…” panggilku lirih.
“Boleh aku masuk ke kamar Aya untuk terakhir kali? Sebelum nanti dikosongkan?”
Mbak Amanda mengangguk, menepuk bahuku lembut, lalu berlalu pergi.
Aku menggenggam ponsel kesayangan Aya.
Bukan ponsel mewah, tapi benda itu
adalah salah satu barang paling berharga bagi sahabatku.
Ceklek…
Kugenggam gagang pintu kamar Aya, lalu mendorongnya perlahan.
Dengan langkah hati-hati aku masuk.
Aroma parfum lembut khas Aya langsung menyergap hidungku.
Aku terduduk di tepi ranjangnya, rapi seolah baru saja dirapikan.
“Malam itu Aya berniat ke ATM sama Faruq,” suara kakak keduanya kembali terngiang di kepalaku.
“Ada temannya yang mau pinjam uang. Aya nggak ada simpan uang tunai jadi dia berniat ambil, katanya kasihan temannya lagi mendesak.”
“Motornya sudah berhenti…
lalu motor yang dikendarai pria mabuk itu menabraknya.”
“Aya dan Faruq terpental.
Kalau Faruq cuma jatuh…
tapi Aya tidak.”
Aku tergugu.
Kupeluk kerudung dan mukena Aya yang tergeletak di atas ranjang.
Tangisku pecah.
“Aku kadang capek, Na,” suara Aya kembali hadir, seperti kaset yang diputar ulang.
“Aku kerja buat siapa, sih? Buat sendiri cukup… aku nggak punya ibu.”
“Kayak ada yang kurang.”
“Aku kangen ibuku, Na.”
“Seandainya ibu masih ada, aku bakal bawa ibu ke mana pun. Pokoknya ibu harus bahagia sama aku.”
“Astagfirullah… astagfirullah, Aya…”
jeritku tertahan.
Dan tangisku semakin menjadi ketika mataku menangkap sesuatu di atas meja, bersebelahan dengan Al-Qur’an Aya.
Sebuah bingkai foto.
Aku meraihnya.
Menatapnya dengan dada yang kian sesak.
Kolase foto Aya dan Rendra.
Rendra! bukan dua mantan Aya sebelumnya.
“Datanglah ke dalam mimpi Rendra mu, Ay…” bisikku lirih.
“Aku nggak sanggup menyampaikannya.”
Kubuka ponsel Aya.
Dengan sandi yang sudah kuhafal di luar kepala.
Jariku bergerak cepat.
Menghapus satu per satu media sosialnya.
Aplikasi yang biasa ia gunakan.
Semuanya.
“Selamat jalan, Soraya sahabatku…”
“Surga tempatmu di sana.”
S E L E S A I