Di layar televisi 14 inci yang bersemut, Erdian menatap wajah Aura Marshalina. Artis lawas itu kembali menjadi buah bibir nasional setelah melakukan operasi plastik total di Korea Selatan. Wajahnya kini kencang, dagunya lancip, dan matanya berbinar bak pualam. Ia kini duduk di kursi megah sebagai juri utama ajang pencarian bakat "Golden Voice Indonesia".
"Dia sangat cantik, ya?" bisik Siti, perempuan 55 tahun itu menatap layar tanpa berkedip. Suami dan anaknya mengiyakan. Mereka asyik menonton TV sambil menyuapkan nasi garam ke mulut.
Erdian hanya diam. Dadanya sesak tiap kali melihat sang juri dan artis itu bicara soal "kejujuran dalam berkarya". Di tangan Erdian, ada sebuah foto kusam yang ia temukan di dasar lemari tua milik Siti. Foto Aura dua puluh tahun lalu—wajah aslinya sebelum pisau bedah menyentuhnya—dengan perut buncit yang besar. Di belakang foto itu tertulis: “Maafkan Mama, anakku. Kau adalah aib yang harus kukubur agar mimpiku tetap bersinar.”
Erdian pernah bertanya tentang potret itu kepada orangtuanya, Siti dan Darmin berujar, “Itu memang foto Aura Marshalina, nduk! Dulu budemu kan penggemar beratnya, dan saat Aura pulang kampung, dia memberikan foto itu kepada budemu!”
Ya, daerah ini memang tempat artis Aura dilahirkan. Tapi agak aneh kalau foto pribadi diberikan kepada penggemar. Terlebih ada tulisan di balik foto itu yang mengganjal. Erdian iseng berselancar dan mencari tahu lewat internet, artis Aura hanya menikah sekali dan bercerai. Anaknya cuma satu, perempuan yang lahir tahun 2012. Sedangkan foto itu dicetak tahun 2006.
Entah kenapa, terbersit dalam pikiran Erdian untuk nekat ke Jakarta. Ia berencana menjadi penyanyi! Meski ia tahu suaranya pas-pasan, bahkan cenderung sumbang, ia mendaftar ajang nyanyi tersebut. Ia tidak mencari juara; ia mencari sesuatu yang entah apa.
Dengan pakaian lungsuran yang pudar, Erdian berdiri di atas panggung megah itu. Lampu sorot menyilaukan matanya. Di depannya, Aura Marshalina menatapnya dengan pandangan aneh, seolah-olah keberadaan Erdian mengotori lantai panggungnya yang mahal.
"Nama?" tanya Aura dingin.
"Erdian, dari Desa Sukamaju, Kabupaten B" jawabnya gemetar.
Erdian mulai bernyanyi. Suaranya pecah, sumbang, dan datar. Penonton mulai tertawa. Juri lain menutup telinga.
"Cukup!" bentak Aura. Ia tertawa sinis, tawa yang dilatih untuk terlihat elegan di depan kamera. "Kamu sadar tidak punya bakat? Terimakasih sudah mencoba menghibur kami disini. Pulanglah, Nak. Jangan mimpi jadi bintang jika suaramu belum dilatih lebih baik!”
Erdian tidak bergerak. Ia mendekat ke meja juri, mengabaikan sekuriti. Ia menghampiri meja juri dan meletakkan foto kusam itu di hadapan Aura.
"Aku memang tidak punya suara merdu seperti anda! Tapi aku adalah bayi yang kau buang dua puluh tahun lalu di bawah pohon beringin desa kami," bisik Erdian lewat mikrofon yang masih menyala.
Seluruh studio mendadak hening. Aura pucat pasi. Filter kecantikannya seolah luntur seketika. Foto itu tertangkap kamera dan terpampang besar di layar raksasa. Wajah Aura yang asli, yang sangat mirip dengan wajah Erdian saat ini.
Aura gemetar, tapi ia bukan wanita amatir. Ia mematikan mikrofonnya dan berbisik sangat tajam, "Kau ini siapa? Jangan bicara macam-macam ya!”
Aura tertawa lirih, sebuah tawa yang penuh trauma. Erdian terbangun dari mimpinya, keringat dingin membasahi kaos lusuhnya. Nafasnya memburu. “Ya Allah, mimpi apa aku ini? Kok aneh bisa bermimpi sperti itu?” bisiknya pada kegelapan kamar berdinding bambu. Ia kaget bukan main!
Mimpi itu terasa begitu nyata. Rasa malu di panggung, silau lampu sorot, dan tatapan nanar dari Aura Marshalina—wanita yang wajahnya kini "sempurna" berkat pisau bedah—terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Namun, yang paling menghantuinya bukan komentar sang artis, melainkan angka.
Erdian bangkit, menyalakan lampu minyak yang temaram. Ia kembali membuka lipatan foto kusam itu. Jarinya gemetar meraba tulisan di balik foto: “Maafkan Mama, anakku. Kau adalah aib yang harus kukubur agar mimpiku tetap bersinar.”
"Foto ini tahun 2006," gumam Erdian. "Aku lahir tahun 2006. Kata Ibu, aku lahir saat fajar menyingsing di bawah pohon beringin karena tak sempat dibawa ke bidan."
Otaknya mulai menghubungkan benang-benang merah yang mustahil. Aura Marshalina berasal dari desa ini. Ia menghilang selama setahun pada 2006 sebelum akhirnya meledak sebagai diva dan bintang film di Jakarta. Di internet, anak Aura hanya satu, perempuan lahir tahun 2012.
Lalu siapa bayi malang tahun 2006 ini? Siapa "aib" yang harus dikubur itu?
Keesokan harinya, suasana meja makan terasa lebih dingin dari biasanya. Hanya ada singkong rebus dan segelas teh tawar. Di sudut ruangan, TV 14 inci itu kembali menampilkan wajah Aura yang sedang tertawa cantik di sebuah infotainment.
"Bu, Pak..." suara Erdian pecah, membelah kesunyian. "Bude yang mengidolakan Aura itu... namanya siapa?"
Gerakan tangan Siti yang hendak menyuap singkong terhenti di udara. Darmin, sang ayah, mendadak tersedak.
"Kenapa tanya itu lagi, nduk? Sudah Bapak bilang, Bude-mu itu sudah lama merantau ke Malaysia dan tidak ada kabar," sahut Darmin tanpa berani menatap mata anaknya.
"Lalu kenapa fotonya ada di lemari terkunci paling bawah? Terbungkus kain kafan sisa?" cecar Erdian, suaranya naik satu nada. "Dan kenapa wajah juri Aura Marshalina di foto tahun 2006 ini... mirip sekali denganku? Kenapa telinganya punya tanda lahir yang sama denganku?"
Erdian menggebrak meja. Singkong rebus itu terpental. Siti mulai terisak. Kebohongan yang mereka rawat selama dua puluh tahun mulai retak, meneteskan nanah kenyataan.
"Cukup, Erdian! Jangan terus mencari penyakit!" teriak Darmin, namun suaranya bergetar hebat.
"Penyakit apa, Pak? Penyakit karena aku ingin tahu siapa yang membuangku?" Erdian berdiri, matanya memerah. "Aku bermimpi semalam. Aku berdiri di panggung, dan wanita di TV itu mengusirku seolah aku sampah. Apakah itu karena aku memang sampah yang dia buang di bawah pohon beringin?!"
Mendengar kata "pohon beringin", Siti luruh ke lantai. Ia memegang kaki Erdian sambil menangis histeris.
"Maafkan kami, Nak... Maafkan kami..." tangis Siti pecah. "Malam itu hujan lebat sekali. Kami hanya buruh tani miskin yang tidak punya anak. Lalu kami dengar tangisan bayi di bawah beringin tua perbatasan desa. Di sana ada wanita muda, wajahnya hancur oleh air mata, dia mengenakan baju panggung yang robek-robek..."
Darmin terduduk lemas di kursi kayu yang reyot. "Wanita itu adalah Aura. Dia bukan memberikan foto itu pada Bude-mu. Dia meninggalkan foto itu bersama tumpukan uang di samping tubuhmu yang kedinginan. Dia bilang dia harus pergi ke Jakarta, dia bilang anak itu hasil... hasil paksaan orang kuat di kota, dan dia tidak bisa membawamu jika ingin membalas dendam."
Dunia Erdian seolah runtuh. Suara bising di kepalanya jauh lebih sumbang daripada nyanyiannya di mimpi tadi.
"Jadi... dia benar-benar ibu kandungku? Dan dia menyebutku 'aib'?" tanya Erdian lirih, setiap katanya terasa seperti silet yang mengiris lidah.
"Kamu bukan aib bagi kami, Erdian. Tapi bagi dia... kamu adalah bukti masa lalunya yang kelam sebelum dia mengubah wajahnya menjadi orang lain," ucap Siti sesenggukan.
Erdian menatap ke layar TV. Aura Marshalina sedang tersenyum sangat manis, memamerkan gigi putihnya dan perawatan kecantikannya yang mahal. Erdian mengepalkan tinju. Rasa ingin tahunya telah terjawab, namun menyisakan luka yang lebih lebar dari samudera.
"Dia mengubah wajahnya agar dunia lupa," bisik Erdian dengan nada dingin yang mengerikan. "Tapi aku adalah wajah aslinya yang masih hidup. Dan aku akan pastikan, suatu hari nanti, dia akan melihat wajah ini di panggung yang paling megah."
Erdian pergi dari rumah reyot itu. Ia benci kepada orangtua kandungnya yang begitu tega, terutama ibunya yang telah membuangnya! Erdian berlari menahan isak tangis yang menyesakkan dada. Hatinya hancur berkeping-keping!