Kisah lelaki feminim yang hidup di desa, ia tak lagi dapat bergerak leluasa apa lagi ia baru pindahan. Kemana ia akan pergi, seakan raganya bingung menempatkan. Dimana ia berada, ia berada di tempat rumah yang sepi. Bahkan tetangga sebelah takkan menjumpainya atau pun untuk bertamu. Sungguh malang nasibnya seakan menjadi lelaki introvret.
Sebuah kaca yang berdebu, lelaki itu membersihkannya. "Uhuk uhuk, berdebu sekali rumahku". Kata lelaki itu.
Ia melihat ke sekeliling rumahnya, dan merasakan suasana seakan menyekiknya. Tarik napas dalam dalam. " Sungguh desa yang misterius". Pikirnya.
Ia menyadari bahwa keberadaanya haruslah dapat bersosialisasi dengan tetangganya. Tanpa rasa ragu ia kembali masuk rumah dan tidak mau menampakkan wajahnya.
"Pria aneh". "Dia tetangga baru disini, katanya baru pindah". Ucap para warga yang berjalan di depan rumahnya.
Setiap hari ayah dan ibunya menjenguknya, akan tetapi lelaki feminim itu tak kunjung mendapatkan teman. Ayah dan ibunya menatap dan bertanya. "Apa kamu baik baik saja tinggal dirumah ini". Tanya ayahnya.
"Ah, ayah. Aku sangat bosan dirumah sendiri". Jawab anaknya.
"Ada sebuah hadiah kecil untuk menemanimu". Ucap ayahnya.
Seekor kucing yang gemuk, sanat lucu sekali. Ayahnya berharap anaknya tidak akan sendiri lagi. "Terima kasih ayah, aku akan ajak di jalan jalan". Jawab anaknya.
Sebuah alasan untuk berjalan di luar rumah. Lelaki feminim itu merasa terintimidasi oleh beberapa orang yang melihatnya. "Kenapa semua orang menatapku seperti itu". Pikirnya.
"Biarkan sajalah, aduuhh...ngeri sekali". Gumam lelaki feminim itu.
Keesokan harinya lelaki feminim merasa dirinya terintimidasi oleh aura lingkungan sekitar. Bagaimana ia bisa menjalani hidup seperti anak rumahan. Kucing itu mendekatkan tubunya di kaki lelaki itu seperti merayu. "Ayo ajak jalan jalan aku lagi tuan". Suara hati kucing.
Kehidupan lelaki feminim terus berjalan dengan berdiam diri diruamah. Kekosongan menghantui rumahnya setiap pintu tertutup, seperti dalam kurungan. Citra rumah lelaki feminim itu seperti berhembus tidak terdengar lagi. Kesan di masyarakat rumah itu seperti rumah yang tak berpenghuni atau mungkin orangnya pemalas.
"Bibb..bibb..bibb...". Nomer tak dikenal.
Getar suara hp lelaki feminim itu. " Haloo, siapa ini".
Bagaimana ia bisa hidup terisolasi, apa ayah dan ibunya terlalu sibuk. Sehingga anak di tinggal kan dalam rumah seorang diri.
"Mati kau". Secarik kertas yang di tempelkan.
Lelaki feminim itu hanya terdiam ketakutan dan meremas kertas itu. "Baatt..jinggg..an".
Berlari ketakutan masuk rumah. Dengan perasaan sedih dan cemas. "Siapa sih yang teror aku".
***
Hari berikutnya, sebuah batu masuk kedalam teras rumahnya. Lelaki feminim itu tidak tau gosip tetangga sebelahnya yang gila.
"Siapa sih yang buat terasku jadi gini". Gumamnya dengan perasaan kesal.
Jelas tidak ada yang tau, karna orang gila itu melakukannya dikondisi yang sepi.
"Aku tidak mungkin telepon ayah dan ibu". Pikir lelaki feminim.
Ia berfikir. "Aku..apa harus keluar sebentar, kalau nanti pulang melihat orang yang misterius itu".
Lelaki feminim itu pergi keluar rumah untuk mencari tahu. Dan sekaligus menghirup udara segar.
"Puss..kamu ikut aku jalan ya".
Sambil berkaca kaca melihat indahnya tempat di desa ini l, lelaki feminim itu duduk terdiam bersama kucing kesayangannya.
"Indah sekali, disini udaranya segar sekali. Tidak ada salahnya aku keluar rumah hari ini".
"Meong...meee..onggg". Ucap kucing yang berada di dekatnya.
Namaku Tony akulah lelaki feminim itu. Aku memang hidup dirumah yang terlihat seperti gudang, kalian liat dari pandangan mata orang yang lewat. "Rumah siapa itu ?, penghuninya kemana ya ?".
Saat kembaliya tony jalan jalan, benar saja ia melihat sesorang anak berusia 23 yang melempar rumahku dengan batu. Ia mengamati sebentar hingga selesai. Kalian tau yang dilakukan tony berikutnya adalah membuat secarik kertas perkenalan lalu di tempelkan ke rumah si pembuat onar itu.
Isi kertas : "Namaku Tony, salam kenal ya. Aku tetangga barumu. Jangan marah padaku, aku ingin berteman denganmu. Kulihat usiamu tidak jauh dariku".
Sepenggal kata yang bisa di tulis tony, ia berharap anak itu membalas pesannya. Tony masuk rumah dan berlari kekamar.
"Tokk...tokkk..tokk".
Tony gemetar saat bertanya. "Ssss..siapa itu ?".
Ia bergegas bangun dari tempat tidur dan membuka pintu. Melihat ada secarik kertas balasan.
Isi kertas : "Jangan macam macam padaku, aku sedikit tidak waras. Atau kau mau mati,...oh ya namaku satrya..aaa..aku usia 23 tahun".
Membuang kertas itu dan sedikit tersenyum. "Orang aneh, sepertinya dia masih sedikit sadar".
Mengambil kertas lagi untuk membalas pesan dari si pembuat onar, kali ini tony memberanikan diri keluar malam untuk menempelkan di pintunya.
Satrya yang keluar rumah pada malam itu menjumpai pesan dari tony.
Tony mengintip dari jendela rumahnya, sepertinya ia sedang membacannya. "Dia tersenyum, apa dia akan membalas pesanku".
Secarik kertas itu memotifasi satrya untuk berdiri di depan rumah pagi itu dan berteriak. "Selamat pagi tetangga".
Tony membuka pintu dan terkejut. Ia sontak ingin kembali masuk, namun hatinya berkata jangan dulu. "Selamat pagi".
"Makasih buat pesanmu yang lucu itu, aku sedikit tertarik denganmu. Apa boleh aku masuk rumahmu".
Merasa terintimidasi, bukan. Merasa bodoh, mungkin. Tony memperbolehkan satrya masuk rumahnya. "Silahkan masuk".
"Namaku satrya".
"Owhh, satrya..tumben kamu sedikit baik hari ini". Merasa sedikit takut, dalam hatinya berkata. "Tolong aku".
Satrya hanya tersenyum dan duduk di ruang tamu. "Kamu sendirian dirumah satrya".
"Iya, aku orangnya sedikit gugup jika bertemu orang asing". Saut tony.
"Tenanglah, aku hari ini masih waras". Serunya satrya.
"Iyalah, kau pikir apa yang ada dalam otakku sekarang". Pikir tony.
"Apa kita bisa berteman tony". Ucap satrya.
"Tentu, menggapa tidak. Apa kita bisa mengobrol sambil jalan jalan di luar rumah". Jawab tony.
"Baiklah kalau kau minta".
Sebuah takdir yang tak terduga yang di dapati lelaki feminim itu. Sebuah permulaan untuk teman baru.