Dendam di Kelas X-9
Sinar mentari mulai terasa menyengat di kulit. Dua orang sahabat, Aisyah dan Levira, berjalan menyusuri koridor menuju gedung sekolah. Saking asyiknya mengobrol, tak terasa mereka sudah sampai di depan pintu kelas.
Aisyah: "Eh Levira, kamu tahu nggak kisah di sekolah ini sepuluh tahun yang lalu?"
Levira: "Memang ada cerita apa sih?"
Aisyah: "Ini nih... katanya sepuluh tahun lalu ada siswi kelas X-9 yang bunuh diri karena di-bully. Terus katanya, dia sering 'mendatangi' para pembully-nya sebagai bentuk pembalasan dendam."
Levira: (bergidik) "Hah, emang iya? Kelas X-9 kan kelas kita! Ih, kok jadi merinding ya. Pantas aja aura kelas kita sering terasa gelap banget
Flashback: 10 Tahun yang Lalu
Suasana kelas tampak terang, namun sangat berisik. Tawa para murid bercampur dengan suasana yang hangat bagi sebagian orang. Namun, lain dengfan dina. Ia tampak sangat lelah saat memasuki kelas.
DINA masuk kelas dengan wajah lelah. Di bangku sebelahnya , duduk QUIN.
DESKRIPSI KARAKTER (QUIN):
Quin adalah primadona sekolah. Rambutnya hitam panjang, wajahnya sangat cantik, dan selalu menjadi pusat perhatian. Ia melihat Dina masuk,
dina masuk kelas. QUIN duduk di bangkunya, sempat melirik dina dengan tatapan iba, tapi langsung membuang muka saat LIVIA dan gengnya datang.
LIVIA
"Bau kampungan datang lagi. Minggir, jangan dekat-dekat Quin, nanti kumanmu nempel ke dia!"
Livia tiba-tiba menghampiri meja Dina. Tanpa basa-basi, Livia mengambil tas Dina dan membalikkannya hingga seluruh isinya jatuh berserakan di lantai. Intan dan Anna tertawa sambil merekam kejadian itu dengan ponsel mereka.
Intan: "Lihat nih si culun kita! Matanya berbinar banget hari ini, kayak mau nangis!"
Anna: "Aduh, jangan nangis dong! Kita kan cuma mau bantu kamu beresin tas, biar isinya lebih... estetik kalau berantakan di lantai. Iya kan, guys?" (Tawa Anna pecah)
Saat Dina membungkuk memungut bukunya di bawah meja, kamera ponsel masih mengikuti gerakannya. Tiba-tiba, dari
kegelapan di bawah meja, sebuah tangan hitam berkuku panjang mencengkeram pundak Dina. Ia tersentak dan menoleh ke belakang dengan wajah pucat pasi.
(Beberapa hari kemudian di sekolah...)
Caca menghampiri Dina yang sedang termenung.
Caca: "Din, kamu dicari sama geng Livia. Katanya ke WC ujung, buruan!"
Dengan perasaan was-was, Dina berjalan ke WC ujung—area yang sangat jarang dikunjungi orang. Sesampainya di sana, tiba-tiba tangan Dina ditarik paksa ke dalam WC oleh Intan. Mereka mengguyur tubuh Dina dengan air hingga basah kuyup sambil terus merekamnya.
Intan: "Enak gak mandinya? Segar kan, Sayang? Maaf ya, kami nggak bawa sabun."
Tiba-tiba Intan mencengkeram dagu Dina dengan keras.
Intan: "Mau tahu kenapa kami benci lo segitunya? Hah?!"
Anna: "Ya jelas karena kami risih sekelas sama cewek kampungan kayak lo!"
Livia kemudian merenggut kacamata Dina dan menginjaknya hingga hancur berkeping-keping. Dina hanya bisa terdiam. Ia adalah gadis desa yang merantau ke kota demi pendidikan, tinggal bersama kakaknya, Nia.
SCENE: PERGULATAN BATIN ZAHRA
INT. PERPUSTAKAAN – SIANG (FLASHBACK)
Zahra dan Dina duduk di pojok perpustakaan yang sepi. Dina mencoba menutupi lebam di lengannya dengan seragam.
ZAHRA
(Berbisik, suaranya gemetar)
"Din, lapor ke guru ya? Aku temani..."
DINA
(Tersenyum pahit)
"Jangan, Zahra. Nanti kamu malah jadi sasaran mereka juga. Aku nggak mau kehilangan satu-satunya teman yang tersisa."
Zahra terdiam. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia ingin membantu, tapi ia teringat ancaman Livia kemarin. Ketakutannya lebih besar dari rasa empatinya.
Kembali ke Kost
Sore itu, Nia menghampiri adiknya yang baru saja pulang.
Nia :mana kacamatamu dek bukannya kamu gk bisa liat tanpa itu
Nia: "setelah di pikir pikir kok kamu lesu banget ya tiap pulang dari sekolah?"
Dina: "Gak kok, Kak..."
Nia: "Oh iya, Kakak mau bilang kalau Kakak ada urusan bisnis ke luar kota selama dua bulan. Kamu gak apa-apa Kakak tinggalin?"
Dina: "Gak apa-apa kok, Kak."
Nia: "Oh ya sudah kalau gitu. Kamu jaga diri baik-baik ya, Dek. Jaga kesehatan, dan jangan lupa selalu telepon orang tua kita."
KAMAR KOS DINA – MALAM (SUASANA TERAKHIR)
Kamar kos itu terasa sangat dingin. Hanya ada suara detak jam dinding yang terdengar seperti suara palu. Dina duduk di lantai, bersandar pada tempat tidur. Rambutnya berantakan, dan kacamata yang sebelumnya diinjak oleh Livia ada di sampingnya dalam keadaan hancur—simbol harga dirinya yang ikut hancur.
Dina memegang ponselnya. Layarnya retak. Ia mencoba menekan nomor NIA (Kakaknya).
DINA
(Berbisik dengan suara gemetar)
"Kak... angkat, Kak. Aku sendirian... aku nggak kuat lagi."
SUARA OPERATOR
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif..."
Dina melempar ponselnya ke kasur. Ia melihat ke arah cermin. Bayangan VIA muncul di belakangnya, bukan sebagai sosok menyeramkan, tapi sebagai bisikan jahat yang terdengar seperti suara Dina sendiri.
via :"Mereka nggak akan berhenti, Dina. Besok mereka akan datang lagi. Livia akan tertawa, Intan akan merekam, dan si cantik Quin... dia akan kembali diam menontonmu hancur. Dunia ini terlalu bising untuk orang sepertimu."
Dina menutup telinganya. Air matanya mengalir deras. Ia mengambil secarik kertas dan pulpen. Dengan tangan gemetar, ia menuliskan satu kalimat pendek:
"AKU AKAN DIAM SEPERTI YANG KALIAN MAU."
Lampu kamar mulai berkedip cepat. Bayangan Via perlahan menyatu dengan bayangan Dina. Dina berdiri, berjalan ke arah sudut gelap kamar yang tidak terjangkau lampu. Kamera tetap diam menatap pintu kamar yang tertutup rapat dari dalam.
SCENE 4
INT. KELAS – PAGI (HARI BERIKUTNYA)
Febby masuk, tapi gerakannya kaku. Ia melewati meja Quin. Quin mencoba memanggil pelan.
QUIN
"Feb... kamu nggak apa-apa?"
Febby berhenti, menoleh dengan leher yang berderak kaku. Tatapannya kosong.
FEBBY (DATAR): "Kalian senang melihatku diam. Sekarang, aku akan diam selamanya."
Lampu berkedip. Saat menyala, bangku Febby KOSONG.
WC SEKOLAH – SORE (LIVIA)
Livia sedang berdiri di depan cermin. Suasana sepi.
• Efek Syuting: Cukup gunakan lampu yang berkedip (flickering). Livia merasa lehernya gatal. Saat ia melihat ke cermin, ada bekas tangan hitam di lehernya (bisa pakai makeup hitam).
Tiba-tiba, lampu mati total. Terdengar suara air keran terbuka sangat deras secara misterius. Livia berteriak, lalu suara teriakannya terhenti dengan suara "Glek!" seperti orang tersedak air. Saat lampu menyala lagi, Livia sudah tergeletak lemas di lantai dengan mulut mengeluarkan busa air, seolah-olah dia baru saja tenggelam di tempat kering.
BAGIAN 1: INTAN (Hukuman bagi si Tukang Rekam)
INT. KAMAR KOS – MALAM
Intan sedang duduk di kasur, sibuk men-scroll HP-nya (terlihat video-video lama Dina yang masih ia simpan). Tiba-tiba, lampu kamarnya mati-nyala secara tidak beraturan.
Intan panik dan menyalakan fitur Flashlight di HP-nya untuk menerangi kamar. Saat ia mengarahkan cahaya HP ke sudut kamar, ia melihat bayangan Dina berdiri di sana. Intan ketakutan dan mencoba memotret/merekam sosok itu (kebiasaan refleksnya).
Namun, setiap kali ia menekan tombol "Record", HP-nya justru memutar balik suara jeritan Dina saat dibully dengan volume yang sangat kencang.
INTAN
(Menutup telinga)
"Berhenti! Matiin! Siapa sih yang mainin HP gue?!"
HP-nya tiba-tiba melakukan Live Streaming sendiri. Muncul notifikasi di layar: "Dina is watching your live." Intan melihat ke arah layar HP. Melalui kamera depan, ia melihat sosok Dina sedang merangkul lehernya dari belakang. Intan meraba lehernya—kosong, tapi di layar HP, tangan Dina semakin erat mencekik. Intan terjatuh ke lantai, tangannya mencakar-cakar leher sendiri, berusaha bernapas. Kamera HP terjatuh ke lantai, tetap menyala, merekam kaki Intan yang perlahan-lahan ditarik masuk ke kolong tempat tidur yang gelap total.
BAGIAN 1: ANNA (Hukuman Suara)
Anna sedang makan sendirian di kelas. Tiba-tiba, setiap kali ia membuka mulut untuk menyuap makanan, terdengar suara rekaman Dina yang sedang menangis. Anna panik, mencoba bicara, tapi suaranya sendiri hilang. Ia hanya bisa tersedak pelan sambil memegangi tenggorokannya.
BAGIAN 3: QUIN (Penyesalan si Gadis Cantik)
Quin sedang duduk di bangkunya, menatap meja Dina yang kosong. Ia melihat sebuah kacamata retak di atas meja itu (kacamata Dina). Quin mengambilnya.
Tiba-tiba, lampu kelas redup. Sosok Dina (Via) berdiri di ambang pintu, hanya diam menatap Quin. Dina tidak menyerang. Ia hanya menunjuk ke arah pintu, seolah menyuruh Quin pergi.
QUIN
(Menangis tersedu-sedu)
"Dina... maaf. Aku pengecut. Aku cuma peduli sama diriku sendiri."
Dina menghilang tertiup angin. Quin tetap cantik, wajahnya tidak berubah, tapi matanya menunjukkan kesedihan yang tak akan hilang. Ia sadar, kecantikannya tidak ada gunanya jika ia tidak punya keberanian untuk menolong teman.
SCENE 5: PENUEMUAN JASAD DINA
INT. KORIDOR KOS – PAGI
FAHRI dan ARYA berdiri di depan pintu kamar Dina. Suasana sunyi, hanya ada suara lalat yang berdengung pelan.
FAHRI
"Din? Dina? Kamu di dalam? Ini sudah jam masuk sekolah."
Fahri mencoba memutar knop pintu. Terkunci. Arya mencium sesuatu yang aneh.
ARYA
"Ri, bau apa ini? Kok kayak bau amis..."
Fahri mendobrak pintu. BRAKK! Pintu terbuka. Kamera tidak masuk ke dalam, tapi tetap di koridor menunjukkan wajah Fahri dan Arya yang mendadak pucat pasi. Arya langsung menutup mulutnya, matanya berair karena kaget.
FAHRI
(Suara bergetar)
"Dina..."
Di lantai, terlihat kacamata Dina yang pecah dan sebuah surat terakhir yang tertiup angin.
SCENE 6: PENGUMUMAN DI KELAS
INT. KELAS X-9 – SIANG
IBU GURU masuk dengan mata sembab. Seluruh kelas yang tadinya bising mendadak hening.
IBU GURU
"Anak-anak... Ibu punya berita duka. Teman kita, Dina... sudah meninggalkan kita semua."
Seketika kelas mencekam. LIVIA, INTAN, dan ANNA saling lirik dengan wajah tegang. Sementara QUIN tertunduk lesu, air matanya jatuh ke atas meja. ZAHRA hanya diam mematung, menatap bangku kosong Dina dengan tatapan kosong.
SCENE 5.1: PENYESALAN TERBESAR (SETELAH PENEMUAN MAYAT)
INT. KAMAR ZAHRA – MALAM
Zahra duduk di meja belajarnya. Di depannya ada sebuah kado kecil berisi kacamata baru yang ia beli dengan uang tabungannya untuk Dina. Kado itu tidak pernah sempat ia berikan.
Zahra menangis tersedu-sedu sambil memeluk kado itu. Tiba-tiba, lampu kamarnya meredup. Suasana menjadi dingin. Zahra melihat bayangan Dina di jendela.
ZAHRA
(Bicara sendiri melalui tangisannya)
"Maafin aku, Dina... Aku pengecut. Aku lihat mereka siram kamu, aku lihat mereka injak kacamata kamu, tapi aku cuma diam di sana..."
Tiba-tiba, terdengar suara bisikan lembut Dina di telinganya: "Nggak apa-apa, Zahra. Terima kasih sudah tetap jadi temanku."
Zahra tersentak. Sejak saat itu, Zahra berjanji tidak akan pernah diam lagi.
EXT. PEMAKAMAN – SENJA (ENDING)
Peti jenazah Dina baru saja diturunkan. NIA (Kakak Dina) berlutut, mencengkeram tanah makam adiknya.
NIA
(Histeris)
"Maafin Kakak, Din! Seharusnya Kakak nggak ninggalin kamu sendirian buat bisnis itu! Seharusnya Kakak ada di sini jagain kamu!"
Nia memeluk ponselnya yang berisi banyak panggilan tak terjawab dari Dina. Di sampingnya, QUIN berdiri layu. Ia tetap cantik dengan baju hitam, tapi matanya bengkak karena terus menangis. Quin meletakkan bunga mawar putih di atas nisan Dina.
QUIN
(Menangis lirih)
"Maaf, Din... aku terlalu takut kehilangan popularitasku kalau aku belain kamu. Aku pengecut..."
Di bawah pohon kamboja yang gelap, sosok "DINA" berdiri memperhatikan mereka. Saat angin bertiup, bayangannya memanjang dan berubah menjadi sosok
VIA.
VIA
"Orang baik selalu sendirian. Dan kebisuan kalian adalah senjataku."
KEMBALI KE MASA SEKARANG:
Aisyah dan Levira masuk ke kelas X-9. Di sudut kelas yang paling gelap, bayangan Via masih berdiri, menunggu siapa saja yang berani diam saat melihat penindasan.