Bagi Bima, Jakarta adalah rimba beton yang penuh godaan. Ia bekerja sebagai arsitek di sebuah perusahaan besar. Kehadirannya selalu menarik perhatian, termasuk dari rekan kerjanya, Sinta.
Sinta terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Bima. Ia sering mengajak Bima makan siang bersama, bahkan sesekali mengajaknya keluar di malam hari. Bima selalu menolak dengan halus, ia teringat pada Ratih, istrinya di kampung halaman.
Bima dan Ratih telah berjanji untuk saling setia, meskipun jarak memisahkan mereka. Namun, godaan Sinta semakin hari semakin kuat. Bima mulai merasa bimbang. Ia merindukan Ratih, tapi kehadiran Sinta membuatnya merasa dihargai dan diperhatikan.
Suatu malam, Sinta mengajak Bima ke sebuah bar. Bima menolak, tapi Sinta terus memaksa. Akhirnya, Bima luluh. Di bar itu, Sinta terus merayu Bima. Bima merasa bersalah pada Ratih. Ia berusaha menjauhi Sinta, tapi Sinta terus mengejarnya.
Bima sadar, ia harus membuat keputusan. Ia tidak ingin mengkhianati Ratih. Keesokan harinya, Bima berbicara dengan Sinta. Ia mengatakan bahwa ia mencintai Ratih dan tidak ingin merusak rumah tangganya. Sinta marah dan kecewa, tapi Bima tetap pada pendiriannya. Bima membuktikan bahwa kesetiaannya pada Ratih lebih besar dari godaan apapun.