Senja itu, Riana duduk di tepi pantai, menatap ombak yang memecah. Di tangannya tergenggam ponsel, layarnya menampilkan foto Arya, suaminya. Sudah seminggu Arya bertugas di luar kota. Seminggu pula Riana dihantui keraguan.
Bisikan-bisikan itu datang dari teman-temannya. Arya, dengan pesonanya, banyak digandrungi wanita. Riana tahu Arya mencintainya, tapi jarak seringkali membuat hati ragu. Ia teringat janji mereka di bawah langit senja, saat Arya melamarnya. Janji untuk selalu bersama, dalam suka maupun duka.
Namun, badai keraguan terus mengamuk. Riana mulai membayangkan hal-hal yang tidak-tidak. Apa Arya merindukannya seperti ia merindukannya? Apa Arya tergoda oleh wanita lain di sana?
Malam itu, Riana memutuskan untuk menelepon Arya. Suara Arya terdengar lelah, tapi hangat. Mereka bercerita tentang hari masing-masing. Riana menahan diri untuk tidak bertanya tentang hal-hal yang membuatnya ragu. Ia takut merusak suasana.
Setelah telepon berakhir, Riana merasa sedikit lega. Ia menyadari bahwa keraguannya hanya berasal dari pikirannya sendiri. Arya mencintainya, dan ia harus percaya pada cintanya. Riana berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih percaya pada Arya dan hubungan mereka. Badai memang datang, tapi cinta mereka harus lebih kuat dari badai itu.