Lampu kafe yang remang memantul di permukaan kopi latte milik Aris yang sudah dingin. Di depannya, duduk Ghea—gadis yang dulu sering ia gendong di pundak saat merayakan kelulusan SD, gadis yang merupakan anak dari sahabat karibnya yang telah tiada. Kini, Ghea sudah menjelma menjadi wanita muda dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Om, nikahin aku dong."
Kalimat itu meluncur begitu saja di antara suara rintik hujan dan lagu jazz yang mengalun pelan. Aris tersedak. Ia meletakkan cangkirnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Ghe, kamu lagi mabuk kopi atau gimana? Nggak lucu," jawab Aris, mencoba tertawa meski hambar.
"Aku serius," potong Ghea cepat. Matanya yang bulat menatap tajam, tak ada keraguan di sana. "Aku capek ditanya kapan nikah sama keluarga besar Mama. Aku capek dijodoh-jodohkan sama anak teman Mama yang cuma pamer mobil. Aku mau sama Om. Om yang tahu siapa aku, Om yang jaga aku selama ini."
Aris menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis halus di sekitar mata. "Ghe, umur kita beda lima belas tahun. Aku ini sahabat Papa kamu. Aku sudah janji sama almarhum untuk menjaga kamu, bukan untuk... memiliki kamu seperti itu."
"Menjaga itu luas artinya, Om," sanggah Ghea, suaranya kini sedikit bergetar. "Apa Om nggak sadar? Selama ini aku nggak pernah kencan lama sama orang lain karena aku selalu membandingkan mereka sama Om. Nggak ada yang sepintar Om, nggak ada yang sepasrah Om kalau aku marahi, dan nggak ada yang setulus Om."
Aris terdiam. Bayangan wajah sahabatnya, ayah Ghea, melintas di benaknya. Ada beban moral yang menghimpit dadanya, namun di sudut hati yang paling dalam, ia tak bisa menampik bahwa kehadiran Ghea selalu menjadi warna paling terang di hidupnya yang monoton sebagai seorang arsitek lajang.
"Dunia akan menganggap ini aneh, Ghea," bisik Aris.
Ghea menjangkau tangan Aris di atas meja, menggenggamnya erat. "Sejak kapan Om peduli sama dunia? Om selalu bilang padaku untuk jadi diri sendiri. Sekarang aku sedang jadi diriku sendiri. Aku sedang memperjuangkan kebahagiaanku."
Hening merayap cukup lama. Aris menatap jemari Ghea yang melingkar di tangannya—jemari yang dulu kecil, kini terasa pas dalam genggamannya. Ada sebuah rasa hangat yang selama ini ia tekan, sebuah rasa yang ia labeli sebagai 'sayang paman ke keponakan', namun kini label itu terkelupas, menunjukkan warna aslinya.
Aris menatap Ghea dalam-dalam, mencari setitik keraguan, namun yang ia temukan hanyalah harapan.
"Kasih aku waktu," kata Aris akhirnya. "Menikah bukan cuma soal menjawab pertanyaan keluarga kamu, Ghe. Tapi soal bagaimana aku bisa memastikan kamu nggak akan menyesal saat sepuluh tahun lagi aku menua, dan kamu masih di puncak masa mudamu."
Ghea tersenyum tipis, sebuah senyuman kemenangan. "Aku akan tunggu. Tapi jangan lama-lama, ya? Antrean di belakang Om itu banyak, lho."
Aris tertawa kecil, kali ini tulus. Ia tahu perjalanan ini tidak akan mudah, namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa hidupnya bukan lagi sekadar rancangan bangunan yang kaku, melainkan sebuah cerita yang baru saja dimulai babak pertamanya.