Jas itu telah kehilangan masanya.
Warna abu-abunya kini serupa langit Jakarta yang tertutup polusi; kusam, mati, dan menyimpan beban yang tak sanggup diurai. Kancingnya hanya tersisa dua, bergantung pada benang-benang rapuh yang seolah mencibir usaha Suparmo untuk tetap terlihat manusiawi. Bagian sikunya mengilap karena terlalu sering bergesekan dengan realitas yang kasar. Namun, bagi Suparmo, jas itu adalah satu-satunya benteng yang tersisa antara dirinya dan kehinaan yang mutlak. Kain itu adalah sisa-sisa nama yang pernah ia miliki sebelum dunia memutuskan untuk meludahinya.
Dahulu, kain itu pernah duduk di kursi-kursi kulit ruang rapat yang dingin. Ia pernah mencium aroma parfum mahal, mendengar bisikan strategi bisnis, dan dipanggil "rapi" oleh orang-orang yang kini pura-pura lupa cara mengeja namanya.
Kini, kota tidak lagi mengenalinya. Gedung-gedung kaca yang menjulang di sepanjang protokol tampak seperti hakim-hakim bisu yang memandangnya dengan jijik. Suparmo berjalan di trotoar yang dulu sering ia lintasi dengan mobil dinas berwarna hitam mengilap. Ia adalah hantu yang berjalan di siang bolong, sebuah anomali di tengah arus manusia yang terburu-buru mengejar angka.
Kejatuhannya tidak dimulai dengan dentuman, melainkan dengan bunyi goresan pena di atas kertas. Sebuah tanda tangan di atas materai, sebuah pengkhianatan dari rekan bisnis yang ia panggil "saudara", dan dalam semalam, dunia Suparmo terbalik. Hartanya membeku di rekening yang kuncinya telah berganti. Istrinya, perempuan yang dulu menjanjikan setia sampai mati, memilih untuk membawa anak mereka ke pelukan sang pengkhianat. Bukan karena cinta, barangkali, tapi karena hidup jauh lebih mudah jika kita berdiri di samping pemenang.
Hari itu, rasa lapar bukan lagi sekadar getaran di perut, melainkan pisau yang menyayat lambung. Suparmo masuk ke sebuah restoran menengah, tempat yang dulu sering ia gunakan untuk menjamu klien. Ia tidak meminta uang. Ia hanya menginginkan sisa-sisa; nasi yang tak habis, sup yang telah mendingin di piring porselen. Namun, kehadirannya dianggap sebagai polusi visual. Seorang pelayan muda memandang jas lusuhnya dengan kebencian yang murni. Dorongan kasar mendarat di bahunya, disusul pukulan yang membuat Suparmo tersungkur di atas lantai licin.
Darah di bibirnya terasa asin dan pahit. Ia bangkit, bukan dengan tangisan, melainkan dengan kesadaran yang mengerikan bahwa kota ini telah menutup pintu sepenuhnya bagi orang-orang sepertinya.
Langkahnya membawanya ke sebuah kerumunan besar. Peresmian gedung baru. Ada pita merah yang membentang gagah. Di sana, para lelaki "terhormat" turun dari mobil mewah dengan perut-perut kenyang yang tersembunyi di balik jas bermerek. Meja-meja prasmanan berderet, memamerkan kerakusan yang dibalut tata krama. Suparmo mendekat, tangannya gemetar, suaranya pecah seperti kaca yang diinjak.
"Makan saja. Saya hanya ingin makan."
Jawabannya adalah seragam satpam dan bogem mentah. Massa menyorakinya seolah-olah ia adalah hewan buas yang tersesat di pesta kebun. Di tengah hujan pukulan, sesuatu di dalam dada Suparmo patah. Ia berteriak, sebuah tuduhan yang keluar dari lubuk keputusasaannya yang paling dalam.
"Kalianlah gelandangan yang sesungguhnya! Kalian gelandangan yang memakai jas mahal! Rakus, kosong, dan tidak akan pernah merasa kenyang sampai kalian memakan nyawa orang lain!"
Mereka membuangnya ke tepi jalan, di dekat tumpukan sampah yang membusuk. Di sanalah, di tengah bau amis sisa kehidupan, gadis itu muncul.
Ia tampak terlalu suci untuk tempat sebusuk itu. Matanya teduh, suaranya lembut seolah mampu membalut luka tanpa perlu menyentuhnya. Ia membawa Suparmo ke sebuah kontrakan sempit di pinggiran kota yang tak tercatat di peta wisata. Di sana, Suparmo dimandikan dengan air hangat, diberi makan yang layak, dan dirawat dengan kesabaran yang nyaris terasa seperti pengampunan Tuhan.
Namun, di sela-sela keintiman yang tenang itu, sang gadis mulai menanamkan benih-benih kebenaran barunya.
"Dunia ini sudah terlanjur busuk, Pak Parmo," bisiknya suatu malam, jemarinya membelai bekas luka di wajah Suparmo. "Dan sesuatu yang busuk tidak bisa dibersihkan hanya dengan air. Darah adalah sabun terakhir untuk menyucikan kota ini."
Suparmo, yang jiwanya telah lama compang-camping, adalah tanah subur bagi ideologi semacam itu. Kata-kata gadis itu memberinya apa yang selama ini hilang darinya: sebuah peran. Sebuah makna. Ia merasa dipilih, bukan lagi dibuang.
Hari penugasan tiba.
Gadis itu memberikan jas baru untuknya. Hitam, mahal, dan pas di bahu. Suparmo tampak seperti dirinya yang dulu, gagah dan berwibawa. Ia diberi sebuah koper berat yang harus ia bawa ke pusat keramaian para pejabat. Sebelum berangkat, gadis itu mencium keningnya, sebuah janji tentang surga yang lebih nikmat dari segala penderitaan di bumi.
Suparmo melangkah masuk ke dalam gedung megah itu. Di ambang pintu, sekelebat bayangan masa kecilnya muncul; wajah ibunya yang menyisir rambutnya, ayahnya yang mengajarinya cara berjabat tangan dengan tegas. Namun, bayangan itu segera tertutup oleh cahaya yang sangat terang.
Panas yang luar biasa. Suara yang memekakkan telinga.
Koper itu meledak. Tubuh Suparmo tercerai-berai bersama dengan jas barunya. Dalam detik-detik terakhir kesadarannya yang memudar, sebuah pertanyaan menggantung tanpa jawaban: apakah ia benar-benar menuju pintu surga, atau ia hanya sekadar alat paling murah bagi keputusasaan yang dimanfaatkan dengan rapi?
Asap mulai menipis. Jeritan mereda. Di sana, jas-jas lain tetap berdiri terpaku, masih mengilap, masih lapar, dan masih siap untuk melupakan kejadian hari itu secepat mungkin. Kota, seperti biasa, tidak punya waktu untuk berduka bagi mereka yang salah alamat saat mengirimkan doa.