Di tepi hutan yang berbatasan dengan ladang, berdirilah sebuah gubuk kecil milik seorang petani tua. Setiap pagi, petani itu menanak nasi dan menyimpan pisang serta ubi di sudut gubuknya.
Di atas pohon dekat gubuk, hiduplah seekor monyet bernama Kiko. Kiko terkenal cerdik, tetapi juga nakal. Ia sering turun diam-diam saat petani pergi ke ladang.
“Manusia punya banyak makanan,” pikir Kiko.
“Mengambil sedikit tentu tak apa.”
Hari demi hari, Kiko mencuri. Kadang nasi, kadang pisang, kadang ubi. Ia semakin berani. Bahkan ketika petani ada di dekat gubuk, Kiko tetap nekat masuk.
Suatu hari, petani tua itu berkata pelan,
“Jika kau lapar, mintalah. Jangan mencuri.”
Namun Kiko hanya menertawakan kata-kata itu dan kembali ke pohon.
Karena hasil panennya terus berkurang, petani membuat jebakan sederhana—bukan untuk menyakiti, hanya untuk memberi pelajaran. Ia meletakkan tempurung berisi nasi ketan di gubuk.
Aroma nasi membuat Kiko tergoda. Ia meraih ketan itu dan memasukkan tangannya ke tempurung. Namun saat ia mengepal nasi, tangannya tak bisa ditarik keluar. Semakin ia berusaha, semakin sakit pergelangannya.
Kiko menjerit ketakutan.
Petani datang dan berkata,
“Lepaskan apa yang kau genggam, maka kau akan bebas.”
Dengan susah payah, Kiko membuka tangannya dan melepaskan nasi itu. Barulah ia bisa menarik tangannya keluar dan lari kembali ke hutan.
Sejak hari itu, Kiko tak pernah mencuri lagi. Jika lapar, ia menunggu petani memberinya sisa pisang di luar gubuk.
Keserakahan mengikat diri sendiri. Melepaskan lebih ringan daripada menggenggam terlalu erat.
Tamat.