Di sebuah padang luas yang jarang dilewati orang, terbentang tanah berpasir yang tampak kering dan tenang. Angin bertiup pelan, dan jejak kaki mudah tercetak di atasnya. Penduduk desa menyebut tempat itu Pasir Penghisap.
Konon, pasir itu tidak berbahaya bagi orang yang berjalan dengan sabar. Namun, bagi mereka yang tergesa, sombong, dan tak mau mendengar peringatan, pasir itu akan menelan perlahan.
Suatu hari, seorang pemuda bernama Raga melintasi padang itu. Ia dikenal kuat dan berani. Sebelum berangkat, orang-orang tua desa berpesan,
“Jika kakimu terasa tenggelam, jangan panik. Berhentilah, rebahkan tubuhmu, dan merayaplah pelan.”
Raga tertawa.
“Aku tidak butuh nasihat orang tua,” katanya.
Saat matahari tepat di atas kepala, Raga melangkah ke tengah padang. Tiba-tiba kakinya terasa berat. Pasir di bawahnya bergerak seperti air. Ia terkejut dan berusaha melompat. Semakin ia melawan, semakin dalam kakinya tenggelam.
Panik, Raga berteriak. Tangannya mengibas-ngibas, pasir naik sampai lutut, lalu pinggang. Ingatannya pada nasihat orang tua datang terlambat.
Tak jauh dari situ, seorang penggembala tua melihatnya. Dengan tenang, ia berteriak,
“Berhenti melawan! Tenangkan dirimu!”
Raga mengikuti. Ia berhenti meronta, merebahkan tubuhnya, dan perlahan pasir berhenti menarik. Dengan bantuan tongkat dan tali, sang penggembala menariknya keluar.
Tubuh Raga penuh pasir, wajahnya pucat, dan suaranya gemetar.
“Aku hampir hilang,” katanya lirih.
Sejak hari itu, Raga berubah. Ia belajar mendengar, melangkah pelan, dan tidak meremehkan peringatan. Pasir penghisap tetap ada, diam dan menunggu—bukan untuk yang berhati-hati, tetapi untuk mereka yang sombong dan terburu nafsu.
Bahaya sering tampak tenang. Yang menyelamatkan bukan tenaga, melainkan kesabaran dan kebijaksanaan.
Tamat.