Bagi kebanyakan orang, Lebaran adalah titik akhir dari sebuah perjalanan panjang menahan haus dan lapar. Namun bagi Yudi, Lebaran tahun ini terasa seperti sebuah adegan looping dalam film yang tak kunjung menemukan kata "Selesai".
Sudah tiga tahun sejak ibunya tiada, namun Yudi tetap pulang ke rumah tua di pinggiran kota itu. Di atas meja makan, masih ada toples kaca berisi rengginang yang sudah melempem dan sisa sirup merah yang warnanya memudar.
Yudi duduk di ambang pintu, mengenakan sarung pemberian terakhir ibunya. Di punggung kaki kanannya, luka kecil di kaki yang ia dapat saat syuting minggu lalu masih berdenyut. Luka itu tertutup plester, namun tiap kali ia bersila untuk salat Id, perihnya mengingatkan Yudi bahwa ia masih hidup, meski hatinya terasa mati.
Dulu, setiap Lebaran, ibunya selalu sibuk membalut luka-luka Yudi—baik luka karena jatuh dari sepeda saat kecil, maupun luka karena gagal audisi saat ia mulai dewasa.
"Luka kecil jangan dibiarkan, Yudi. Nanti masuk angin hati kamu," bisik suara ibunya dalam ingatan.
Di rumah itu, televisi menyiarkan suasana mudik. Yudi menatap kursi kayu di sudut ruangan. Kursi itu kosong, namun di mata Yudi, ibunya masih duduk di sana, menjahit kancing baju koko Yudi yang lepas.
Tetangga sebelah rumah, Pak RT, datang berkunjung. "Yud, belum balik ke Jakarta? Lebaran sudah lewat seminggu, lho."
Yudi tersenyum getir. "Belum, Pak. Rasanya Lebaran di sini belum selesai."
Bagaimana bisa selesai? Ketupat yang ia beli di pasar memang sudah habis, tapi rasa bersalah karena tidak sempat pulang di tahun terakhir ibunya masih bernapas, terus mengembang seperti ragi. Yudi merasa ia sedang memerankan karakter "anak yang berbakti" di sebuah panggung sunyi, mencoba menggantikan kehadirannya yang absen bertahun-tahun lalu.
Yudi berdiri, berjalan menuju dapur. Ia mengambil sebotol obat merah untuk mengobati luka di kakinya yang mulai sedikit bernanah karena ia biarkan. Saat cairan dingin itu menyentuh kulitnya, ia meringis.
Rasa sakit itu nyata. Dan di detik itulah, Yudi sadar.
Ia tidak bisa terus menjadi "pemeran ganti" untuk dirinya yang dulu. Ia tidak bisa berpura-pura bahwa waktu berhenti di hari kemenangan. Lebaran memang telah usai secara kalender, namun ia sadar bahwa memaafkan diri sendiri adalah kemenangan yang sesungguhnya sedang ia perjuangkan.
Ia mengambil tas ranselnya, memasukkan sarung pemberian ibunya dengan rapi. Yudi menatap luka di kakinya yang kini sudah bersih. Ia memutuskan untuk pulang ke Jakarta besok.
"Lebarannya sudah usai, Bu. Yudi pamit kerja lagi," bisiknya pada ruang kosong.
Yudi melangkah keluar, mengunci pintu rumah tua itu. Luka di kakinya masih ada, tapi langkahnya tidak lagi seberat tadi. Karena terkadang, cara terbaik merayakan Lebaran yang tak pernah usai adalah dengan membawa doa-doa itu ke mana pun kita melangkah, bukan dengan terjebak di masa lalu.