Lara selalu merasa hidupnya seperti lorong sempit tanpa jendela.
Tak gelap sepenuhnya, tapi juga tak pernah benar-benar terang.
Di rumah kecil mereka, Lara bukan siapa-siapa.
Santi,kakaknya adalah matahari. Cantik, berprestasi, selalu tahu cara membuat ayah dan ibu tersenyum. Setiap piala di lemari kaca seolah berteriak bahwa Santi adalah alasan keluarga mereka berjalan baik-baik saja.
Satria, adiknya adalah bulan. Manja, rapuh, dan terlalu berharga untuk disentuh kasar oleh dunia. Ia sering sakit sejak kecil, membuat perhatian orang tua terpusat padanya seperti gravitasi.
Dan Lara?
Lara adalah bayangan di antara keduanya.
“Lara, ngalah sama kakakmu.”
“Lara, kamu kan lebih dewasa, jaga adikmu.”
“Lara, jangan bikin masalah.”
Sejak kapan menjadi anak tengah berarti harus menghilang?
Usianya enam belas tahun, tapi rasanya seperti memikul usia tiga puluh. Ia belajar mengikat luka sendiri, menelan tangis di malam hari, dan tersenyum ketika hatinya remuk tanpa suara.
Di sekolah, Lara dikenal pendiam. Nilainya cukup baik, tapi tak pernah cukup untuk dipuji. Ketika ia membawa pulang peringkat lima besar, ibu hanya berkata,
“Santi dulu selalu peringkat satu.”
Ketika Lara menang lomba menulis cerpen tingkat kota, ayah berkata,
“Bagus. Tapi jangan lupa Satria besok kontrol ke rumah sakit.”
Tak ada yang salah dengan mereka.
Yang salah hanya Lara yang berharap didengar.
Suatu malam, Lara pulang terlambat. Seragamnya basah, tasnya kotor. Ia baru saja membantu temannya yang pingsan di halte, menunggu ambulans datang.
Alih-alih bertanya apakah ia baik-baik saja, ibu langsung membentak,
“Kamu tahu Satria nyariin kamu? Kakakmu capek bantuin di rumah!”
Santi berdiri di belakang ibu, wajahnya lelah.
“Kenapa sih kamu selalu nyusahin, Ra?”
Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada tamparan.
Lara ingin berteriak bahwa ia juga capek.
Bahwa ia juga ingin dipeluk.
Bahwa ia juga anak mereka.
Tapi yang keluar hanya,
“Maaf.”
Malam itu, Lara menulis di buku kecilnya tempat satu-satunya ia diakui.
Kalau aku hilang, apakah mereka akan mencariku?
Atau rumah ini tetap berjalan seperti biasa?
Beberapa hari kemudian, hujan turun deras. Lara tidak pulang. Tasnya ditemukan di tepi sungai, bersama buku kecil yang halamannya basah oleh air dan tinta.
Tulisan terakhirnya berbunyi:
Aku lelah menjadi yang selalu di tengah.
Tak cukup dicintai, tak cukup dibutuhkan.
Kalau aku pergi, semoga dunia kalian lebih seimbang.
Pemakaman berlangsung sunyi.
Ibu menangis histeris, memeluk buku kecil itu seolah bisa memeluk Lara kembali. Ayah berdiri kaku, matanya kosong. Santi menatap tanah tanpa berani mengangkat kepala, sementara Satria bertanya dengan suara polos,
“Kak Lara ke mana?”
Tak ada yang menjawab.
Kini lemari kaca itu masih penuh piala.
Rumah itu masih berdiri.
Keluarga itu masih lengkap—secara jumlah.
Tapi ada ruang kosong yang tak pernah bisa diisi kembali.
Ruang bernama Lara.
Anak tengah yang akhirnya benar-benar menghilang.