Kami bertemu lagi di sebuah kafe kecil yang nyaris tak berubah sejak sepuluh tahun lalu. Meja kayunya masih sama, dindingnya masih memajang foto-foto hitam putih kota tua, hanya wajah kami yang kini berbeda—lebih dewasa, lebih lelah, dan entah mengapa, lebih hati-hati.
Aku datang lebih dulu. Duduk di sudut dekat jendela, memandangi hujan yang turun pelan. Di kepalaku, kenangan berputar tanpa diminta: masa sekolah, tawa yang mudah pecah, dan janji-janji sederhana yang dulu terasa abadi.
Temanku datang tak lama kemudian. Senyumnya masih sama, tapi matanya menyimpan banyak cerita. Kami saling menatap sejenak, seperti dua orang yang ingin memastikan: apakah ini benar-benar kamu? Lalu tawa kecil keluar, canggung namun hangat. Kami berjabat tangan, lalu tanpa sadar saling berpelukan, seolah jarak bertahun-tahun bisa dipadatkan dalam satu tarikan napas.
“Lama sekali,” katanya.
“Iya,” jawabku. Hanya itu yang mampu keluar, padahal begitu banyak hal ingin kuceritakan.
Tak lama, temanmu datang. Dulu dia adalah bagian dari lingkaran kecil kami, orang yang sering duduk di antara aku dan temanku, penenang saat kami bertengkar, penghubung saat ego kami meninggi. Kini ia datang dengan langkah lebih tenang, membawa senyum yang matang oleh waktu.
Kami bertiga duduk, memesan kopi yang sama seperti dulu. Percakapan mengalir pelan, dimulai dari hal-hal ringan—pekerjaan, keluarga, kota yang kini terasa asing. Lalu, tanpa sadar, kami menyentuh masa lalu: tentang mimpi yang tak semua terwujud, tentang perpisahan yang tak pernah benar-benar dijelaskan.
Ada jeda sunyi di antara kami. Bukan sunyi yang canggung, melainkan sunyi yang penuh pengertian. Kami sadar, waktu telah mengubah kami, tapi tidak menghapus rasa saling memiliki itu.
“Aku kira kita sudah benar-benar jauh,” kata temanmu pelan.
“Jauh, tapi tidak hilang,” sahut temanku.
Aku tersenyum. Di momen itu, aku mengerti: persahabatan sejati tidak selalu tentang hadir setiap hari, melainkan tentang kembali dan tetap merasa pulang.
Hujan di luar mulai reda. Kami berdiri, berpisah lagi dengan janji yang lebih realistis—bukan janji akan selalu bersama, tapi janji untuk tak saling asing. Dan saat melangkah keluar dari kafe itu, aku tahu, pertemuan ini tak sekadar temu lama, melainkan pengingat bahwa beberapa ikatan, meski diregangkan oleh waktu, tak pernah benar-benar putus.