Di utara benua tua, terdapat sebuah kerajaan dingin bernama Ravenmoor, tempat matahari jarang bersinar penuh. Di sana hidup seorang gadis bangsawan bernama Isolde, yang cantik namun selalu merasa kurang. Ia percaya cinta, kekuasaan, dan keselamatan hanya dimiliki oleh mereka yang paling rupawan.
Di balik hutan terlarang Ravenmoor tumbuh semak beri hitam legam. Orang-orang desa menyebutnya Beri Noctis. Konon, beri itu dapat membuat siapa pun menjadi cantik tanpa cela—namun tidak seorang pun yang memetiknya kembali dengan selamat.
Suatu malam, Isolde menyelinap ke hutan. Kabut menelan langkahnya, dan di bawah pohon cemara mati, ia menemukan semak beri itu. Buahnya kecil, hitam mengilap, seolah menyerap cahaya.
Saat Isolde memakannya, darahnya terasa panas. Keesokan paginya, wajahnya berubah sempurna—kulit pucat bak porselen, mata berkilau, rambut hitam jatuh seperti bayangan malam. Seluruh istana terdiam kagum.
Namun sejak itu, sesuatu menghilang dari dirinya. Ia tak lagi tersenyum tulus. Ia tak lagi merasakan iba. Setiap hari kecantikannya semakin memukau, tetapi tubuhnya semakin dingin. Burung enggan bernyanyi di dekatnya. Bayangannya di cermin bergerak terlambat, seolah memiliki kehendak sendiri.
Rakyat mulai berbisik:
“Cantiknya bukan milik manusia.”
Pada malam ke tujuh, Isolde terbangun oleh rasa nyeri di dada. Ia melihat kulitnya mulai mengeras seperti batu gelap. Dari sela-sela jarinya, tumbuh tunas kecil—semak beri hitam.
Ia berlari ke hutan, berharap menemukan penawar. Namun hutan hanya membalasnya dengan sunyi. Tubuhnya berhenti di bawah pohon tempat ia pertama kali memetik beri itu.
Saat fajar menyingsing, Isolde telah berubah sepenuhnya menjadi patung hitam, dengan buah beri tumbuh dari dadanya. Buah itu meneteskan cairan seperti air mata.
Sejak hari itu, siapa pun yang memetik Beri Noctis akan melihat bayangan seorang gadis cantik berdiri di antara pepohonan—diam, menunggu pengganti.
Dan orang-orang Ravenmoor percaya:
kecantikan yang direnggut dari alam akan selalu meminta jiwa sebagai gantinya.
Tamat.