Pada zaman dahulu, di sebuah desa terpencil di Kalimantan Barat, hiduplah seorang janda miskin bersama seorang anak perempuan. Sang ibu bekerja keras setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ia mencari kayu bakar, bercocok tanam, dan berjualan hasil kebun ke pasar.
Anak perempuannya memiliki wajah yang sangat cantik. Namun sayangnya, kecantikannya tidak sejalan dengan perangainya. Ia pemalas, manja, dan sombong. Ia tidak pernah mau membantu ibunya bekerja dan selalu ingin hidup enak tanpa usaha.
Suatu hari, sang ibu mengajak anaknya pergi ke pasar. Karena merasa malu berjalan bersama ibunya yang berpakaian lusuh, si anak berjalan beberapa langkah di depan.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan beberapa orang.
“Siapakah wanita tua itu?” tanya orang-orang sambil menunjuk sang ibu.
Dengan angkuh, si anak menjawab,
“Dia bukan ibuku. Dia hanya pembantuku.”
Mendengar itu, sang ibu sangat sedih, tetapi ia hanya diam dan menahan air mata.
Sesampainya di pasar, kejadian serupa terulang kembali. Setiap kali orang bertanya, si anak selalu menyangkal bahwa wanita tua itu adalah ibunya. Hati sang ibu hancur, namun ia tetap sabar.
Dalam perjalanan pulang, hujan turun dengan deras. Di tengah hujan, sang ibu tak kuasa lagi menahan kesedihannya. Ia berdoa kepada Tuhan dengan penuh duka:
“Ya Tuhan, aku telah merawat dan membesarkan anakku dengan penuh kasih. Jika benar dia anakku dan jika ia tetap durhaka kepadaku, hukumlah dia sesuai kehendak-Mu.”
Seketika itu juga, tubuh sang anak terasa kaku. Kakinya tak bisa digerakkan. Perlahan-lahan, tubuhnya berubah menjadi batu. Sang anak menjerit ketakutan dan memohon ampun kepada ibunya, tetapi semuanya sudah terlambat.
Air mata terus mengalir dari wajahnya, bahkan setelah ia sepenuhnya menjadi batu. Batu itu tampak seperti sedang menangis.
Sang ibu memeluk batu tersebut sambil menangis pilu. Ia menyesal telah mengucapkan doa itu, tetapi takdir telah terjadi.
Hingga kini, batu itu dikenal dengan nama Batu Menangis, sebagai peringatan agar seorang anak tidak pernah durhaka kepada ibunya.
Tamat.