Aku mati dengan cara yang biasa saja—kelelahan, tertidur, lalu tak pernah bangun lagi. Tidak ada cahaya putih, tidak ada malaikat. Yang ada justru… rasa sakit.
Saat membuka mata, aroma darah dan besi menyergap hidungku. Tubuhku terasa berat, asing. Di sekelilingku berdiri para ksatria dengan baju zirah hitam, berlutut sambil menunduk.
“Yang Mulia Pangeran Raviel,” ucap salah satu dari mereka.
Nama itu membuat jantungku berhenti sesaat.
Raviel.
Tokoh antagonis utama dalam novel fantasi Cahaya di Ujung Pedang—novel yang pernah kubaca sampai tamat. Seorang pangeran kejam, pengkhianat kerajaan, dan… mati mengenaskan di tangan tokoh utama pada akhir cerita.
Dan sekarang, aku berada di tubuhnya.
Aku berlari ke cermin besar di ruangan itu. Rambut hitam panjang, mata merah dingin, dan bekas luka di pipi kiri—semuanya persis seperti deskripsi di novel.
“Tidak… ini tidak mungkin,” bisikku.
Namun ingatan Raviel mengalir deras ke kepalaku. Pengkhianatan. Ambisi. Rencana pembantaian. Dan yang paling jelas—takdir kematian yang menunggunya.