Ada yang patah tapi bukan ranting.
Ada yang sakit tapi tak berdarah.
Cinta tak harus memiliki.
Dan berderet kata-kata mutiara lain untuk hati yang dilanda gundah karena putus cinta.
___
___
Alexa duduk termenung di bangku trotoar dekat perempatan. Matanya menatap kendaraan yang lalu lalang di hadapannya. Sebelah tangannya menopang dagu bertumpu pada lututnya.
Gaun merahnya menjuntai menutupi betis tanpa bulu berbalut stoking warna khaki yang saling menyilang.
Sudah lima belas menit dia duduk di sana tanpa melakukan apa pun. Hanya sesekali matanya tertuju pada layar ponsel di tangannya. Tak ada panggilan satu pun.
"Hhhh..." Alexa menghela nafas berat.
"Padahal gue berharap dia ngehubungin gue lagi. Ternyata... kami nggak sehati," gumamnya.
"Kemarin malam aja dia nyepam chat sampai gue matiin nih ha-pe. Sekarang... boro-boro ngechat, keliatan online aja nggak," lanjutnya bergumam.
"Cakep, sih tapi nggak peka!"
___
Nad membolak-balikkan ponsel di tangannya. Berulang kali dia hendak mengirim pesan pada seseorang yang baru dikenalnya di aplikasi dating online. Tapi diurungkannya.
Semalam dia sudah mengirimkan rentetan pesan basa-basi ke nomor yang baru didapatnya kemarin siang. Berujung janjian bertemu sore ini di sebuah perempatan. Baru lanjut berjalan-jalan di sepanjang trotoar, rencananya. Tapi Nad hanya mondar-mandir di kamar kontrakannya, alih-alih bersiap untuk bertemu teman kencan butanya.
"Aarrghhh..." Nad menyugar rambutnya kasar.
"Kenapa jadi gini sih. Sudah aku bela-belain nyari pasangan di aplikasi, tapi belum bisa move on juga dari kamu. Kenapa sesulit ini, Tuhan..." Nad terduduk di tepi ranjangnya. Meraup wajahnya yang rupawan. Kemeja hijau tosca yang membalut tubuhnya basah oleh keringat. Dilepasnya rompi cokelat yang melapisi kemejanya untuk mengusir gerah.
"Tapi aku tetap harus menemuinya. Seperti yang sudah kami sepakati. Aku bukan pengecut yang mengingkari janji sendiri." Nad bangkit dan bergegas keluar rumah untuk menemui teman kencan butanya. Yang belum pernah bertemu langsung, hanya lewat aplikasi.
___
Alexa melihat seseorang memakai kemeja hijau tosca dibalut rompi cokelat berjalan ke arahnya. Dia pun berdiri karena merasa orang itu adalah sosok yang ditunggunya, sesuai deskripsinya dalam pesan.
Sosok yang ternyata adalah Nad itu berhenti di hadapan Alexa.
"Alexa?" tanya Nad.
"Ya. Gue Alexa. Dan loe, Nad?" tanya balik Alexa.
"Hmmm." Nad mengangguk. Mereka saling berjabat tangan.
"Oke, nggak perlu basa-basi lagi. Gue udah lama nunggu loe di sini. Gue capek, gue bosen, dan gue laper. Kita langsung aja jalan gimana?" usul Alexa seraya mengipasi wajahnya yang berdempul tebal dengan jari-jari tangan.
"Ah, ya, maaf aku terlambat. Tadi ada sedikit urusan mendadak. Oke, kita cari tempat makan dulu, mau?" Nad mengulurkan tangannya pada Alexa.
Karena Alexa tak segera meraih tangan Nad untuk digenggam, Nad pun menarik tangan Alexa untuk beranjak dari sana.
"Eh, eh, eh, apa-apaan nih main tarik-tarik?" ketus Alexa.
"Kelamaan, ah. Katanya lapar?!"
"Iya, iya. Tapi pelan dikit dong. Gue pake heels nih."
"Makanya pakai sendal jepit saja biar enak."
Alexa menggerutu mengikuti langkah Nad. Mereka berjalan berdampingan sepanjang trotoar dan berhenti di depan warung tenda pinggir jalan. Masuk ke dalam dan memesan makanan.
Sambil menikmati makanan, mereka mengobrol.
"Jadi, kamu baru putus sama cowokmu?" tanya Nad.
"Bukan cowok gue. Baru pedekate, tapi udah ketauan hasilnya. Dia sukanya temen gue." jawab Alexa. " Bukannya loe yang barusan putus?" lanjutnya.
"Hmm... Iya. Aku baru putus sama cewekku. Dia nikah sama cowok pilihan orang tuanya. Dan sialnya, aku yang jadi bridesmaidnya. Bayangkan rasanya, menyaksikan mantan kekasih menikah di depan mata." Manik mata Nad berkaca-kaca membayangkan kisah cintanya yang kandas.
"Jadi, apa alasan loe kencan buta sama gue?"
"Ya tentu saja biar bisa move on."
"Kenapa nggak cari cewek lain?"
"Aku ingin mencintai dengan normal. Sesuai kodratku."
"Yach, sama dong. Gue juga pingin bisa move on dan mencintai seseorang dengan normal."
Mereka saling melemparkan senyuman.
"Jadi, kita bisa mencoba saling membuka hati sekarang?" tanya Alexa.
"Kita jalani saja dulu," jawab Nad.
"Oh, ya, Nad. Kita belum berkenalan secara benar. Gue Alexander." Alexander mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Nadia." Nadia meraih tangan Alexander.
"Semoga kita bisa memulai kehidupan kita yang normal dengan cinta yang biasa, ya, Nad."
"Ya, semoga kita bisa saling membantu melupakan cinta masa lalu kita."
Mereka saling menggenggam tangan erat. Berharap bisa saling menyembuhkan. Dan mencintai dengan cinta yang biasa.
___***___