"Nad, jangan lupa, ya nanti malam nginap di rumahku. Kita pesta piyama." Alvi mengingatkan sahabatnya, Nadia, tentang kegiatan rutin mereka setiap akhir bulan. Menginap di rumah masing-masing secara bergantian. "Berdua," lanjutnya sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf v.
"Siip!" sahut Nadia. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing setelah saling berpelukan dan cipika-cipiki.
...
___
Nadia dan Alvi, mereka bersahabat sejak tiga tahun yang lalu. Saat mereka masih duduk di bangku kelas dua SMA. Hingga sekarang mereka sudah kuliah semester dua.
Mereka begitu dekat karena mempunyai banyak persamaan. Meskipun begitu, Nadia berpenampilan tomboy layaknya anak laki-laki, dan Alvi lebih feminin. Mereka selalu duduk sebangku.
Malam ini mereka mengadakan pesta piyama lagi di rumah Alvi. Rumah besar dengan dua lantai. Kamarnya berada di lantai dua, dengan balkon menghadap jalan raya. Mereka berdua sedang duduk berpunggungan di teras balkon menikmati langit malam.
"Nad..." panggil Alvi. Dia menyandarkan kepalanya pada punggung Nadia.
"Hmm..." sahut Nadia.
"Sudah tiga tahun kita bersama. Apakah kamu punya perasaan pada seseorang?" tanya Alvi. Merentangkan jemari tangannya di depan wajah. Memperlihatkan kuku-kukunya yang berwarna-warni.
"Ya." Nadia menjawab singkat.
"Siapa orang itu? Apakah aku mengenalnya?" Alvi membalikkan tubuhnya menghadap Nadia karena penasaran dengan jawaban Nadia.
"Hmm... Kamu mengenalnya bahkan dengan sangat baik." Nadia tersenyum. Tangannya bergerak merapikan helaian rambut yang menjuntai di wajah Alvi.
"Oh, ya? Sejak kapan? Kenapa kamu tidak menceritakannya padaku." Alvi mengerucutkan bibirnya.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Itu tidak penting, bukan. Sekarang yang penting adalah kita bersama, menikmati malam ini seperti biasanya. Bagaimana?"
"Ah, ya. Itu tujuan kita. Ayo masuk, Nad. Di sini dingin." Alvi menarik tangan Nadia untuk masuk ke dalam kamar.
Mereka menghabiskan malam dengan menonton drama romantis di laptop, menghabiskan camilan di kulkas, bermain lempar bantal guling, dan berakhir dengan terbaring di atas tempat tidur dengan kondisi berantakan. Telentang dan merentangkan tangan.
"Kita akan terus bersama, kan, Nad?" tanya Alvi, menoleh memperhatikan raut wajah Nadia dari samping.
"Tentu saja. Memangnya kenapa kita tidak bersama?" Nadia menoleh pada Alvi. Kini mereka saling berhadapan.
"Aku takut suatu saat kita harus berpisah. Dan kita tidak ditakdirkan untuk bersama lagi."
"Hey! Jangan bicara begitu. Kita masih bersama, bukan. Jalani saja dulu, jangan berpikir yang tidak-tidak."
Alvi menyurukkan wajahnya ke dalam pelukan Nadia. Nadia menghela napas pelan. Mereka pun berkelana ke alam tanpa batas.
___
Hari berlalu begitu cepat.
Hari ini, Alvi mengajak Nadia ke sebuah butik. Alvi akan memesan sebuah gaun pengantin dan beberapa gaun untuk pengiring pengantin atau bridesmaid.
"Kamu suka yang mana, Nad untuk pernikahanku nanti?" Alvi menunjuk beberapa model gaun untuk Nadia pilihkan.
"Sepertinya yang ini bagus." Nadia memilih sebuah gaun berwarna putih tulang dengan belahan punggung kecil, dan renda-renda menghiasi ujung gaun. Lalu tatapannya tertuju pada mididress berpita biru di sudut ruangan. Dia melangkah mendekati gaun itu dan menyentuhnya karena menyukainya.
"Kamu mau gaun ini untuk bridesmaid?" tanya Alvi.
"Sepertinya manis jika aku memakainya. Hahaha..." ucap Nadia. Ada nada sedih di balik tawa itu.
"Tentu saja, kamu tidak pernah memakai sebuah gaun. Di pernikahanku nanti, kamu harus memakainya. Karena kamu harus mengiringiku ke altar. Tak mungkin kamu memakai tuksedo dan celana, kan."
"Ya. Demi kamu, aku akan memakainya meski terlihat menggelikan."
Mereka saling melempar senyuman. Senyuman yang sarat kepedihan.
Hari pernikahan Alvi pun tiba. Nadia menjadi pengiring, dengan gaun manis pilihannya. Dia terlihat cantik, dengan makeup tipis yang menghiasi wajahnya. Semua orang pangling dengan penampilannya.
Setelah pengucapan janji suci, mereka berpesta kebun. Nadia menghampiri Alvi saat suaminya menyambut teman-temannya. Mereka berbicara di tempat yang agak jauh dari para tamu.
"Nad, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Alvi. Dia tahu Nadia menyembunyikan kemurungannya di balik senyumnya.
"Tentu saja tidak. Kamu tahu, kan kepada siapa perasaanku. Tapi itu tidak mungkin." Nadia menggenggam tangan Alvi.
"Semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu. Terima kasih untuk selama ini. Aku tidak akan melupakan kenangan manis yang pernah kita lewati bersama." Nadia meneteskan air matanya.
"Maafkan aku, Nad. Meskipun kita punya rasa yang sama, tapi kita tidak bisa bersama lagi. Andai boleh dan diijinkan, aku akan memilihmu. Tapi kita tidak bisa menentang hukum Tuhan."
"Ya, aku mengerti."
"Kamu harus membuka hati untuk seorang pria, Nad. Aku pun akan berusaha membuka hatiku untuk suamiku yang dijodohkan oleh orang tuaku. Tapi percayalah, namamu akan selalu berada di sini." Alvi meletakkan tangan Nadia di dadanya.
"Boleh aku memelukmu, sebagai sahabat?"
"Tentu saja."
Nadia memeluk Alvi erat.
___