Namaku Alexa. Orang bilang aku gemulai. Jariku selentik penari Bali. Meski tubuhku tak seindah gitar Spanyol. Dan suaraku tak semerdu burung Kutilang.
"Siang, Kak..." sapaku pada Kak Devan yang baru lewat di depanku.
"Siang, Al...." Senyumnya tersungging manis.
"Baru pulang kerja, Kak?" tanyaku.
"Iya, nich. Kok kamu di rumah? Nggak sekolah to?"
"Sudah pulang, Kak. Gurunya rapat."
"Hihihi... Kayak anak SD jaman dulu aja."
"Hehehe...." Aku tersipu malu. Karena nyatanya aku memang bolos sekolah. Karena bangun kesiangan dan terlambat ke sekolah.
Dia berlalu dari hadapanku. Namun dag dig dug di hatiku masih menggebu. Seolah senyumnya tak mau hilang dari pelupuk mata ini.
"Al...." Kudengar Mama memanggilku dari dalam rumah.
"Iya, Ma," sahutku.
"Makanannya sudah dingin ini, Nak. Lagi ngapain, sih lama-lama di luar?"
"Nggak, Ma. Nggak ngapa-ngapain," jawabku sesampainya di hadapan Mama.
"Cepat makan, Nak."
"Iya, Ma. Kok, Mama nggak makan duluan, sih?"
"Tunggu kamu, dong, Sayang. Kita makan sama-sama."
"Yuk, Ma." Kusendok makananku.
"Yuk."
Kami pun makan bersama. Lalu kulanjutkan hayalanku tentang Kak Devan di kamar.
___
Malam itu, pertama kalinya aku bertemu dengan Kak Devan, di pasar malam. Dia bersama teman-temannya tengah duduk di sebuah stand warung bakso.
Aku berjalan sambil melihatnya, tanpa memperhatikan arah jalanku. Tiba-tiba kakiku tersandung batu dan aku hampir terjerembab ke depan. Kalau tidak Kak Devan yang menahan tubuhku, tentu sudah kucium tanah berumput itu.
"Eh, makasih, Kak," kataku gugup. Jujur saja sedekat ini dengan seorang pria membuat hatiku jedag-jedug. Entah apa yang terjadi. Aku tak pernah seperti ini sebelumnya.
Dia tersenyum sambil membantuku berdiri. "Lain kali hati-hati, kalau jalan lihat depan."
"Iya, Kak..." Aku tidak tahu namanya.
"Devan," sahutnya.
"Kak Devan." Aku gegas berlalu darinya. Karena mukaku memanas. Pasti dia keheranan.
Esoknya aku baru tahu, ternyata Kak Devan adalah penghuni baru di kosan Haji Munir. Sebelah kanan rumahku. Setiap hari kami bertemu dan semakin akrab. Dia mahasiswa dari luar pulau.
___
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. Aku segera bangun dan membuka pintu. Ternyata Mama yang mengetuk.
"Kenapa, Ma?" tanyaku.
"Itu, di depan ada Nak Devan cari kamu."
"Eh, kenapa Kak Devan cari aku, Ma?" Hatiku tentu berdebar tak karuan mendengarnya.
"Mama juga nggak tahu. Kamu temuin sana."
"Iya, Ma." Aku pun menemuinya di ruang tamu.
"Al..." panggil Kak Devan setelah melihatku.
"Iya, Kak, ada apa, ya?" Aku duduk di sampingnya.
"Begini, Kakak cuma mau tanya."
"Tanya apa?"
"Emmm... Teman kamu yang sering main ke sini itu namanya siapa?"
"Yang mana, Kak? Kan, banyak."
"Itu yang suka pakai bando telinga kelinci."
"Oh, Kinara. Memangnya kenapa, Kak?" Entah kenapa aku tidak suka saat dia membahas teman perempuanku. Kukira dia ada perlu denganku.
"Oh... Kinara... Kapan dia ke sini lagi?" lanjutnya.
"Nggak tahu, Kak." jawabku sewot.
"Loh, kok gitu jawabnya. Oh, kakak ngerti. Dia pacarmu, ya... Maaf, maaf, Kakak pikir kalian cuma berteman. Jadi kakak mau mengenalnya."
Jawaban Kak Devan meruntuhkan hatiku. Aku tentu tahu kemana arah pembicaraan ini.
"Bukan! Dia bukan pacarku. Kami hanya berteman." Tanpa berkata lagi, aku beranjak dan menuju kamarku. Tak kuhiraukan panggilannya. Aku hanya ingin menangis dan merenungi semua ini. Kudengar dia berpamitan pada Mama.
___
Saat membuka mata, kulihat di luar jendela sudah gelap. Lampu kamarku menyala. Mama duduk di sampingku, membelai kepalaku yang tenggelam dalam lipatan bantal.
"Mama tahu...." Mama menjeda kalimatnya.
"Kamu menyukai Nak Devan, kan, Al," lanjutnya. Aku hanya diam. Karena lelah sehabis menangis sampai ketiduran tadi.
"Tapi Al juga harus sadar. Al tidak mungkin mengatakan dan mengakuinya pada Nak Devan. Al harus membuang jauh-jauh perasaan itu. Jangan sampai Al menyalahi kodrat dari Tuhan. Mama nggak mau Al jadi bahan cemoohan orang kalau sampai orang tahu Al menyukai Nak Devan." Belaian Mama di kepalaku terhenti. Aku mendongak. Kulihat Mama mengusap sudut matanya.
"Mama menangis?" tanyaku. Aku pun duduk dan mengusap air mata Mama. "Maafkan Alexa, Ma. Alexa sadar, kok, siapa Alexa."
"Al... Jangan sebut namamu Alexa lagi. Mama mohon...."
"Iya, Ma, Alexa... Alex akan mencobanya."
Ya... Namaku Alexander. Tak mungkin aku terus menyimpan rasa ini. Benar kata Mama. Aku tak boleh menyalahi kodrat Tuhan. Perlahan aku akan membuang perasaanku pada Kak Devan.
***