Kita yang Pernah Duduk Sebangku
Aku tidak pernah percaya cinta di sekolah itu nyata.
Menurutku, itu hanya rasa kagum yang dilebih-lebihkan oleh seragam, jadwal istirahat, dan bangku kelas yang terlalu dekat.
Sampai aku duduk sebangku dengan Rani.
Hari pertama dia pindah, wali kelas menunjuk bangku kosong di sampingku. Aku hanya mengangguk, pura-pura sibuk membuka buku, padahal jantungku berdetak tidak wajar. Rambutnya dikuncir sederhana, seragamnya rapi, dan caranya tersenyum sopan—bukan senyum yang ingin menarik perhatian, tapi cukup membuat orang merasa tenang.
“Namaku Rani,” katanya pelan.
“Aku Dika.”
Sesederhana itu awalnya.
Kami tidak langsung akrab. Tidak ada obrolan panjang. Tidak ada tawa berlebihan. Hanya saling meminjam pulpen, saling mengingatkan PR, dan sesekali mengeluh soal ulangan mendadak. Tapi dari hal-hal kecil itulah, aku mulai menunggunya datang ke kelas.
Aku mulai datang lebih pagi.
Takut dia duduk dengan orang lain.
Aku mulai memperhatikan hal-hal sepele—cara dia menggigit ujung pulpen saat berpikir, kebiasaannya mencoret-coret buku tulis, dan caranya menghela napas setiap kali pelajaran matematika dimulai.
Teman-teman mulai menggoda.
“Kalian cocok tuh.”
Aku hanya tertawa. Rani juga.
Tapi setelah itu, suasana jadi berbeda.
Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi takut merusak semuanya.
Kami mulai sering belajar bersama sepulang sekolah. Kadang di perpustakaan, kadang di kantin dengan segelas es teh yang dibagi berdua karena uang kami pas-pasan. Kami bercerita tentang banyak hal—guru favorit, mimpi setelah lulus, juga ketakutan yang jarang kami ceritakan pada siapa pun.
“Aku takut gagal,” katanya suatu sore.
“Takut bikin orang tua kecewa.”
Aku mengangguk. Aku juga takut.
Hari-hari itu terasa sederhana tapi penuh.
Tak ada janji. Tak ada status. Tapi rasanya hangat.
Sampai suatu hari, gosip masuk ke kelas.
Rani katanya dekat dengan kakak kelas.
Anak basket. Populer. Punya motor.
Aku tidak bertanya.
Aku hanya diam.
Dan sejak hari itu, jarak muncul di antara kami. Rani masih duduk di sampingku, tapi obrolan kami pendek. Tawa kami jarang. Aku ingin bertanya, tapi gengsiku lebih besar dari keberanianku.
Saat aku akhirnya memberanikan diri, semuanya sudah terlambat.
“Aku mau fokus sekolah,” katanya pelan.
“Aku nggak mau ribet.”
Aku mengangguk, pura-pura mengerti.
Padahal dadaku terasa kosong.
Kami lulus.
Berpisah tanpa kata perpisahan yang layak.
Beberapa tahun kemudian, aku melihat namanya muncul di media sosial. Dia kuliah di kota lain. Tersenyum di foto-foto yang tidak lagi menyertakanku. Aku menutup layar, merasa bodoh karena masih mengingatnya.
Suatu hari, secara tak sengaja kami bertemu di reuni kecil. Tidak ada pelukan canggung. Hanya senyum singkat.
“Kamu kelihatan beda,” katanya.
“Kamu juga.”
Kami duduk berhadapan. Membicarakan hidup, pekerjaan, dan hal-hal yang dulu terasa jauh.
“Aku pernah nunggu kamu ngomong,” katanya tiba-tiba.
Aku terdiam.
“Aku pikir kamu nggak mau,” lanjutnya.
“Aku juga nunggu kamu jujur,” jawabku lirih.
Kami tertawa kecil. Bukan tawa bahagia, tapi tawa orang yang sama-sama paham: waktu tidak bisa diulang.
Saat pulang, aku sadar satu hal penting yang tidak pernah diajarkan di sekolah.
Bahwa cinta bukan tentang berani menyukai,
tapi berani mengatakannya—sebelum terlambat.
Dan aku akan selalu mengingat Rani,
sebagai seseorang yang pernah duduk sebangku denganku,
dan diam-diam mengajarkanku arti kehilangan pertama.