2. Surat Terakhir di Ponsel Istriku Membuatku Menyesal Pernah Pulang Lebih Awal Hari Itu
Aku pulang lebih awal karena rindu.
Rumah sepi. Istriku tidur.
Ponselnya bergetar di meja.
Satu pesan terbuka.
“Jika kamu membaca ini, berarti aku sudah tidak ada.”
Tanganku gemetar.
Surat itu bukan untukku.
Tapi tentang aku.
Tentang betapa sering ia sendirian.
Tentang betapa sering aku sibuk, lupa mendengar.
Tentang betapa ia lelah berpura-pura kuat.
Aku berlari ke kamar, mengguncang tubuhnya.
Dingin.
Di rumah sakit, dokter hanya menggeleng.
Aku membaca ulang surat itu di lorong rumah sakit.
“Aku tidak ingin mati. Aku hanya ingin diperhatikan.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari kehilangan itu sendiri.
Hari itu aku belajar:
Pulang lebih awal tidak selalu berarti datang tepat waktu.