Aku belajar empati dari buku-buku psikologi yang menjelaskan bagaimana memahami tanpa harus tenggelam. Dosenku pernah berkata, empati tidak sama dengan menyelamatkan. Waktu itu aku mengangguk, merasa paham. Tapi ternyata, memahami konsep tidak selalu berarti siap menghadapinya di dunia nyata.
Aku bekerja sambil kuliah. Seorang mahasiswa, daily worker, hidup dengan perhitungan yang hati-hati. Uang bukan sesuatu yang bisa kugunakan tanpa pikir panjang. Setiap rupiah punya tujuan, dan sebagian besar bukan untuk kesenangan. Aku tinggal bersama ibuku, dan entah sejak kapan itu dianggap sebagai tanda bahwa aku aman secara finansial. Seolah-olah tinggal di rumah berarti tidak punya beban.
Permintaan itu datang pelan-pelan. Awalnya sederhana, dibungkus nada sopan dan alasan yang terdengar masuk akal. Aku menolak dengan jujur. Kukira, penolakan adalah batas yang jelas. Aku salah.
Permintaan berikutnya diselipkan dalam candaan. Disusul pertanyaan-pertanyaan yang terasa terlalu personal: aku tinggal di mana, pakai aplikasi apa, masih ditanggung orang tua atau tidak. Aku mulai sadar, ini bukan lagi soal kebutuhan, tapi asumsi. Asumsi bahwa empati harus dibayar. Bahwa kasihan berarti bersedia.
Sebagai mahasiswa psikologi, aku mengenali polanya. Distorsi empati. Ketika rasa kasihan dipelintir menjadi kewajiban moral. Ketika batas pribadi dianggap tidak penting karena ada cerita yang lebih menyedihkan. Aku bisa memahami kesulitan orang lain, tapi itu tidak membuat hidupku otomatis lebih mudah.
Yang paling melelahkan bukan permintaannya, melainkan tekanan halus di baliknya. Seolah-olah menolak adalah tindakan kejam. Seolah-olah aku berutang karena mendengar cerita orang lain. Padahal, aku juga sedang berjuang menjaga hidupku tetap utuh.
Aku berhenti menjelaskan. Penjelasan sering disalahartikan sebagai celah. Aku memilih jawaban singkat, datar, dan konsisten. Tidak karena aku dingin, tapi karena aku belajar: empati tanpa batas adalah kelelahan yang disamarkan sebagai kebaikan.
Malam itu, aku menulis satu kalimat di buku catatanku: Empati bukan kewajiban. Kalimat sederhana, tapi memberiku ruang bernapas. Aku tidak kehilangan hati karena menolak. Aku justru menyelamatkannya.
Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti—menjadi manusia yang peduli tidak berarti harus mengorbankan diri sendiri.