1. Aku Mengira Tetanggaku Musuh… Sampai Aku Tahu Dia Alasan Istriku Berubah
Sejak Pak Arman pindah ke rumah sebelah, istriku berubah.
Lebih sering diam. Lebih sering menatap ponsel. Senyumnya seperti ditahan.
Aku membencinya tanpa alasan yang jelas.
Cara dia menyapaku terlalu sopan. Cara dia menatap rumahku terlalu lama.
Aku yakin—dia sumber masalahku.
Suatu malam, aku mengikutinya.
Kupikir aku akan menemukan perselingkuhan.
Tapi yang kutemukan justru lebih menyakitkan.
Di pemakaman kecil pinggir kota, Pak Arman berlutut di depan sebuah nisan.
Nama di batu itu… sama dengan nama anak kami yang meninggal lima tahun lalu.
“Ibumu sering datang ke sini,” katanya saat menyadari kehadiranku.
“Dia tak sanggup ke makam ini sendirian. Jadi aku menemaninya.”
Ternyata Pak Arman adalah ayah dari sopir truk yang menabrak anak kami.
Ia tinggal di sebelah rumah kami… bukan untuk mengganggu,
tapi untuk menebus dosa yang tak bisa ditebus apa pun.
Malam itu aku pulang, memeluk istriku lebih lama dari biasanya.
Musuhku bukan tetangga.
Musuhku adalah luka yang tak pernah sembuh.