Aku, Rina, lagi hamil delapan bulan. Perut sudah bulat besar, payudara bengkak penuh susu hingga puting cokelat gelap selalu mengeras dan netes-netes kalau tersentuh sedikit saja. Suamiku lagi lembur malam itu, ninggalin aku sendirian di rumah. Hormon hamil lagi naik-turun gila-gilaan, bikin aku nggak tahan dari siang. Memekku basah terus, klitorisku bengkak sensitif, dan aku cuma bisa tahan sampai malam, lalu akhirnya menyerah di kamar tidur.Jam 11 malam, pintu kamar aku kunci (pikirku), lampu meja kuning temaram menyala pelan. Aku rebahan telentang di ranjang, daster tipis naik sampai dada, celana dalam sudah dilepas sejak tadi. Payudaraku terbuka, susu netes-netes ke perutku sendiri. Jari tengahku sudah bergerak di klitorisku yang bengkak, gosok pelan dulu lingkaran-lingkaran, lalu semakin cepat. Memekku becek banget, cairan bening menetes ke pantatku, seprai sudah basah di bawah."Ahh… enak… lagi… lebih dalam…" gumamku sendiri, sambil masukin dua jari ke dalam lubang memekku yang sudah licin dan panas. Aku gerakkan jari keluar-masuk cepat, bunyi crot-crot basah terdengar jelas, ibu jari menggosok klitoris berulang-ulang. Payudaraku bergoyang setiap gerakan tanganku, susu muncrat kecil-kecil ke perutku yang bulat.Aku hampir orgasme, tubuh mulai tegang, pinggul naik-turun sendiri seperti minta kontol sungguhan. "Aku… mau keluar… ahh… cepat lagi… fuck… dorong dalam… aaaahhh!"Cairan memekku muncrat deras, memek berkontraksi kuat seperti memijat jari sendiri, tubuhku gemetar hebat, kaki mengejang, napas ngos-ngosan. Aku lemas total, mata terpejam, masih menikmati sisa denyutan di memek yang masih kedut-kedut. Tubuhku basah keringat, perut naik-turun cepat, dan aku pikir aku aman sendirian.Tapi tiba-tiba, aku ngerasain sentuhan dingin di bibir memekku yang masih basah dan terbuka. Jari asing—tebal, kasar—menggesek pelan di klitorisku, lalu menyusup masuk ke lubang memekku yang masih sensitif."Aaahhh… apa itu…?" gumamku, mata langsung terbuka lebar. Aku sadar sekarang: adekku, Dika, 18 tahun, sudah duduk di pinggir ranjang, mata gelap penuh nafsu, tangannya sudah di selangkanganku. Dia pakai kaus oblong dan celana pendek, kontolnya sudah tegang menonjol di depan."Dika… kamu… dari kapan… jangan!" aku berusaha dorong tangannya, tapi tubuhku lemah banget setelah orgasme tadi. Kaki terasa berat seperti lumpuh sementara, tangan gemetar nggak ada tenaga, napas masih tersengal-sengal. Aku coba nutup paha, tapi Dika malah dorong kaki ku lebih lebar, jarinya masuk lebih dalam, gerak keluar-masuk pelan tapi kuat."Kak… aku denger suara kakak dari kamar sebelah. Pintu nggak terkunci bener. Aku… nggak tahan liat kakak masturbasi gini. Memek kakak becek banget, panas, dan masih berkedut… aku cuma mau bantu kakak rileks," bisiknya, suara serak penuh nafsu, jarinya tambah satu lagi, dorong dalam-dalam sampe nabrak dinding dalam memekku."Dika… stop… ini salah… aku kakakmu… hamil lagi… ahh… jangan masukin lagi… sensitif… ohhh…" aku berusaha melawan, tangan coba dorong dadanya, tapi tenagaku hilang total. Orgasme tadi bikin tubuhku seperti jeli, pinggul malah naik sendiri menyambut jarinya. Memekku becek semakin banyak, bunyi crot-crot basah semakin kencang.Dika nggak berhenti. Dia malah percepat gerakan jarinya, ibu jarinya gosok klitorisku kasar. "Kak… santai aja… aku tahu kakak lagi butuh. Suami kakak nggak ada, hormon kakak lagi gila. Biar adek puasin… memek kakak ketat banget meski lagi hamil… basah seperti banjir… aku pengen ngerasain lebih dalam…"Aku mau jerit, tapi suara cuma jadi desah. "Dika… jangan… tolong… aku nggak kuat… ahh… enak… tapi salah… ohhh… aku lagi… mau keluar lagi…"Dia tambah jari ketiga, dorong cepat dalam-dalam. Tubuhku nggak bisa lawan lagi. Aku orgasme ketiga, memek muncrat deras ke tangannya, tubuh bergetar hebat seperti kesetrum."Aaaahhhh… Dika… aku keluar… lagi… fuck… aaaahhh! Jangan… hentikan…"Dika tarik jarinya, menjilat cairanku pelan sambil tatap aku. "Kak… enak banget rasanya… sekarang giliran aku yang puasin kakak beneran…"Aku masih lemas, napas tersengal, tubuh nggak bisa gerak. Dika lepas celananya sendiri, kontolnya loncat keluar—tebal, panjang, urat-urat menonjol, kepalanya sudah basah precum. Dia naik ke atas, angkat kakiku lebar, arahkan kontolnya ke lubang memekku yang masih kedut-kedut."Dika… jangan… aku kakakmu… ini incest… tolong…" aku bisik lemah, tangan coba dorong dadanya, tapi nggak ada tenaga. Tubuhku seperti lumpuh pasca-orgasme, perut hamil naik-turun cepat, memek masih lapar meski sadar ini salah.Dia dorong pelan kepala kontolnya masuk. "Kak… memek kakak panas… ketat… aku cuma mau bantu… santai… aku pelan…"Aku jerit kecil. "Aaaahhh… gede… Dika… jangan… keluarin… aku nggak kuat… ohhh…"Tapi dia dorong lagi, setengah masuk, lalu habis. Kontolnya penuh banget, nabrak ujung rahimku. Aku coba lawan, tapi tubuh lemah, malah pinggulku naik menyambut."Dika… stop… aku… ahh… enak… tapi salah… ohhh… pelan aja…"Dia mulai gerak, keluar-masuk pelan tapi dalam. Bunyi plok-plok basah terdengar, memekku mencengkeram erat kontolnya."Kak… memek kakak enak banget… basah seperti pelacur… aku pengen keluar di dalem… isi kakak lagi…"Aku nggak bisa lawan lagi. Tubuhku menyerah, orgasme keempat datang cepat. "Aaaahhhh… Dika… aku keluar lagi… fuck… semprotkan di dalem… aaaahhh!"Dia meledak, sperma panas menyemprot dalam-dalam. Kami berdua gemetar, tubuh saling menempel.Tamat