Rahasia Malam yang Terlarang – Saat Aku Hamil, Di Tiduri Omku
(Cerita lengkap sekitar 1000 kata – Tamat)Aku, Sari, waktu itu hamil tujuh bulan. Perutku sudah bulat besar, kulitnya mengkilap karena hormon, payudara bengkak penuh susu hingga puting cokelat gelap selalu mengeras dan netes-netes kolostrum kalau tersentuh angin sepoi. Suamiku, Andi, lagi dinas ke Kalimantan selama dua minggu. Rumah kecil kami di pinggiran Jakarta terasa sepi dan panas, meski AC menyala sepanjang hari.Om Budi, adik ayahku yang berusia 48 tahun, datang hampir setiap malam. Katanya “nggak enak ninggalin keponakan lagi hamil sendirian”. Badannya masih kekar, otot lengan tebal, dan tatapannya selalu punya kekuatan yang bikin aku gelisah sejak kecil. Awalnya biasa saja—dia masak, mijat punggung yang pegel, beliin buah kesukaan. Tapi malam ketujuh, semuanya berubah.Hujan deras mengguyur atap seng sejak sore. Aku lagi mandi air hangat, berusaha redakan sakit payudara yang terasa seperti mau meledak. Aku remas sendiri, susu putih kental menyemprot kecil-kecil ke dinding keramik, campur air. Tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka pelan. Om Budi masuk, sudah telanjang dada, celana pendeknya menonjolkan tonjolan tebal di depan.“Sari… Om denger kamu mendesah-desah dari tadi. Payudaramu sakit ya?” suaranya serak, mata langsung tertuju ke payudaraku yang basah dan mengkilap.Aku tidak menutup badan. Malah aku angkat payudara kiriku, biarkan susu netes ke lantai. “Iya Om… penuh banget. Susunya nggak keluar banyak kalau cuma diremas sendiri. Om… mau bantu?”Om Budi mendekat tanpa ragu. Tangannya meraih payudara kananku, remas kuat hingga susu muncrat ke dadanya. Jempolnya memilin puting, memeras seperti ingin mengeluarkan semua.“Ahh… Om… sakit tapi enak… hisap dong… aku pengen mulut Om nyedot semuanya…” desahku, suara bergetar.Dia menunduk, mulutnya langsung melahap puting kiri. Dia hisap kuat, lidahnya berputar di areola, giginya menggigit pelan. Susu kental mengalir deras ke mulutnya, dia telan sambil mendengus.“Mmmph… enak banget susu keponakan Om… manis kental… Om haus dari tadi,” katanya sambil berganti puting, tangan satunya turun ke selangkanganku.Jari-jarinya langsung menyusup ke memekku yang sudah becek. Dua jari masuk dalam-dalam, gerak keluar-masuk cepat, bunyi ‘crot crot’ basah terdengar jelas di kamar mandi sempit.“Om… jari Om tebal… ahh… masukin tiga… aku pengen diregangin… memekku lagi ngidam keras dari kemarin…”Dia tambah jari ketiga, dorong dalam-dalam sampai buku jarinya nabrak dinding dalam. Aku langsung orgasme pertama, air memek muncrat ke tangannya, membasahi lantai.“Aaaahhh fuck… Om… aku squirt… jangan berhenti… terus… ahhh… lagi… aku keluar lagi… ssshhhiiiittt!”Tubuhku gemetar hebat, kaki lemas. Om Budi angkat aku seperti boneka, bawa ke kamar tidur, lempar pelan ke ranjang. Aku langsung berbalik, angkat pantat tinggi, doggy style hati-hati dengan bantal di bawah perut.“Dari belakang Om… masukin kontol Om yang gede itu… aku pengen ngerasain kontol Om nabrak rahimku… dorong pelan dulu tapi dalem banget…”Om Budi pegang pinggulku, kepala kontolnya yang tebal berurat nempel di lubang memekku yang menganga.“Siap ya… Om masukin pelan… kontol Om gede, takut robek memek keponakan…”Dia dorong kepala dulu. Aku jerit kecil. “Aaaahhh… gede banget… pelan Om… ohhh… masuk lagi… setengah… ya… gitu… dalem lagi… fuck… penuh banget… kontol Om nabrak ujung memekku…”Saat masuk habis, dia diam sejenak. Memekku mencengkeram erat kontolnya, denyutan dalam terasa jelas.“Om… gerak pelan… tarik keluar hampir semua… lalu sodok dalem lagi… aku mau ngerasain setiap urat kontol Om gesek dinding memekku…”Dia mulai gerak lambat. Tarik keluar pelan sampai cuma kepala yang tinggal, lalu dorong masuk kuat tapi terkontrol sampai buku pinggulnya nabrak pantatku. Bunyi ‘plok… plok… plok…’ pelan tapi dalam terdengar setiap dorongan.“Aaaahhh… ya Om… dalem banget… kontol Om nabrak serviks… ahh… enak… terus… lebih dalem lagi… aku suka diginiin lama… jangan cepet keluar ya…”Kami lanjut irama lambat selama hampir setengah jam. Setiap dorongan penuh, aku desah vulgar.“Om… kontol Om tebal banget… memekku diregangin lebar… susuku netes ke seprai… remas payudaraku dari belakang… cabut susunya…”Dia condong, tangan meraih payudaraku, remas kuat sambil hisap puting dari samping. Susu muncrat ke tangannya.“Enak banget susu kamu… Sari… memekmu ketat meski lagi hamil… Om pengen keluar di dalem… isi rahim keponakan Om…”“Aku juga mau Om… semprotkan sperma Om di dalem… aku pengen ngerasain kontol Om berdenyut panjang… keluarin semua… ahh… aku lagi mau orgasme… dorong dalem terus… jangan berhenti…”Aku orgasme lagi, memek berkontraksi kuat memijat kontolnya. Cairan memek muncrat ke paha kami.“Aaaahhhh… fuck… aku squirt lagi… Om… keluar sekarang… isi memek aku… semprotkan dalam-dalam… ahhh!”Om Budi dorong dalam sekali lagi, lalu meledak. Sperma panasnya menyemprot kuat demi kuat di ujung rahimku. Aku merasakan setiap denyutan, cairan hangat memenuhi dalam.“Ohhh… banyak banget… Om… sperma Om panas… penuh… aku suka rasanya… tetep di dalem ya… biarin meleleh pelan-pelan…”Kami tetap begitu lama, kontolnya masih di dalam, pelan-pelan melunak. Om Budi peluk aku dari belakang, tangannya membelai perutku.“Sari… ini rahasia kita selamanya ya? Jangan sampai Andi tahu.”Aku tersenyum lelah, memejamkan mata. “Iya Om… rahasia kita… tapi besok malam lagi ya? Aku puas.dan aku tahu, ini nggak akan berhenti di sini. Tamat