Pagi itu, sinar matahari baru saja menyelinap melalui celah-celah tirai dapur, membentuk garis-garis emas tipis di lantai keramik yang dingin. Jam dinding menunjukkan pukul 06:45. Ayah sudah berangkat ke kantor sejak setengah jam lalu, seperti rutinitasnya setiap hari Senin. Rumah besar ini terasa hening, hanya ada suara samar ketel listrik yang mulai mendidih dan hembusan AC dari ruang tamu.Rina sedang berdiri di depan kompor, punggungnya menghadap pintu masuk dapur. Dia mengenakan kimono satin pendek warna merah tua yang biasa dipakainya untuk tidur. Kainnya sangat tipis, hampir tembus pandang ketika terkena cahaya pagi dari jendela belakang. Aku bisa melihat lekuk pinggangnya yang ramping, garis punggung yang halus, dan samar-samar bayangan payudaranya yang penuh tanpa bra di balik kain itu. Rambut panjang hitamnya tergerai acak-acakan, beberapa helai menempel di lehernya yang masih sedikit berkeringat karena kehangatan pagi.Aku berdiri di ambang pintu, diam-diam memperhatikannya selama beberapa detik. Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Semalam kami bertengkar kecil soal hal sepele — aku lupa membuang sampah dapur, dia kesal karena rumah berantakan. Tapi pertengkaran itu berakhir dengan diam yang aneh, penuh ketegangan yang tak terucapkan. Dan sekarang, melihatnya seperti ini, semua rasa bersalah itu lenyap, digantikan oleh dorongan yang sudah terlalu sering kucoba tekan.Aku melangkah masuk pelan, tanpa suara. Dia pasti sudah mendengar langkahku, tapi tidak menoleh. Malah, gerakannya jadi sedikit lebih lambat, seolah memberi ruang.“Masih ngambek dari semalam?” tanyanya tanpa menoleh, suaranya lembut tapi ada nada menggoda yang terselip.Aku tidak langsung menjawab. Langsung saja melingkarkan kedua tangan di pinggangnya dari belakang. Tubuhnya menegang sejenak, lalu melemas, bersandar ke dadaku. Aroma sabun mandi vanila dan sedikit parfum bunga yang biasa dia pakai langsung memenuhi indraku.“Enggak ngambek,” bisikku di dekat telinganya, napasku menyentuh kulit lehernya. “Cuma… pengen yang kemarin lagi.”Rina tertawa kecil, suara yang serak karena baru bangun. Tapi tawanya cepat berubah menjadi desahan pelan saat tanganku naik perlahan dan meremas payudaranya dari luar kimono. Putingnya langsung mengeras di bawah telapak tanganku, terasa jelas meski masih ada lapisan kain tipis.“Dasar… nakal banget kamu sekarang…” katanya sambil menggeleng pelan, tapi tangannya tidak menolak. Malah, dia memiringkan kepala, memberi ruang lebih banyak untuk bibirku mencium lehernya.Aku menarik ikatan kimono dengan satu gerakan. Kain satin itu langsung melorot ke lantai seperti air yang jatuh. Rina telanjang bulat di hadapanku. Kulitnya putih mulus, payudaranya yang besar dan kencang sedikit bergoyang karena napasnya yang mulai cepat. Putingnya berwarna cokelat muda, sudah tegak sempurna. Perutnya rata, pinggulnya melengkung indah, dan di antara pahanya yang sedikit terbuka, aku bisa melihat kilau kelembapan yang sudah mulai terbentuk.Aku memutar tubuhnya menghadapku. Matanya setengah terpejam, bibirnya sedikit terbuka, napasnya tersengal pendek. Tanpa banyak bicara lagi, aku mengangkat pinggulnya dan mendudukkannya di atas meja dapur. Kakinya otomatis terbuka lebar, memberi ruang untukku berdiri di antara pahanya.Aku menunduk, mencium lehernya dulu, lalu turun ke tulang selangka, kemudian ke dada. Saat lidahku menyentuh puting kanannya, dia langsung mengeluarkan suara yang membuatku semakin keras.“Mmmhh… ahh… gitu… jangan gigit dulu… pelan…”Tapi tubuhnya malah melengkung ke depan, menekan payudaranya lebih dalam ke mulutku. Aku mengulum lebih kuat, lidahku berputar-putar di sekitar puting sambil tangan satunya meremas payudara yang lain.Tanganku yang lain turun perlahan. Jari tengah dan telunjuk langsung membelah bibir memeknya yang sudah sangat licin. Dia basah sekali, cairannya menetes sedikit ke meja. Klitorisnya membengkak, sensitif sekali saat jemariku menyentuhnya.“Aduhh… kamu bikin aku basah dari tadi pagi…” desahnya sambil menggigit bibir bawah sendiri, matanya tertutup rapat.Aku memasukkan dua jari sekaligus, perlahan tapi dalam. Dinding dalamnya langsung mencengkeram erat, panas dan berdenyut seperti memiliki denyut nadi sendiri. Aku menggerakkan jari dengan irama lambat, keluar-masuk, sambil ibu jari menggosok klitorisnya secara melingkar.“Ohhh… Tuhan… dalem lagi… ahhh… ya gitu… jangan berhenti…”Dia mulai menggerakkan pinggulnya mengikuti irama jariku, napasnya semakin cepat dan pendek. Suara basah dari gerakan jari terdengar jelas di dapur yang sepi.Aku menarik jari keluar, membuka celanaku dengan cepat. Kontolku sudah tegak keras, ujungnya mengkilap karena precum yang sudah banyak keluar.Rina menatap ke bawah, matanya membesar sedikit, lalu menelan ludah.“Pelan dulu ya… masih pagi… aku masih kenceng…” pintanya, suaranya bergetar antara malu dan lapar.Aku mengangguk. Aku menggesek-gesekkan kepala kontolku di klitorisnya dulu, setiap gesekan membuatnya menggelinjang hebat.“Aaahh… jangan main-main… masukin sekarang… aku udah nggak tahan…”Aku mendorong perlahan. Kepalanya masuk, meregangkan bibir memeknya. Lalu setengah batang. Dia menarik napas dalam-dalam, tangannya mencengkeram bahuku.“Uhh… besar… pelan… ahhh… ya gitu… pelan-pelan dulu…”Saat aku masuk sampai pangkal, kami berdua diam sejenak. Hanya merasakan. Denyutan di dalamnya terasa jelas sekali, dinding dalamnya memijat batangku berulang-ulang.Lalu aku mulai bergerak. Keluar separuh, masuk lagi dalam-dalam, perlahan tapi penuh.Desahannya langsung keluar tanpa hambatan:“Ahh… ahh… lagi… lebih dalam… mmmhh… enak banget… ya… gitu…”Semakin lama iramanya semakin cepat. Meja dapur bergoyang pelan mengikuti doronganku. Bunyi basah dari pertemuan tubuh kami terdengar semakin kencang, bercampur dengan desahan dan erangannya yang semakin liar.“Ya… ya… gitu… terus… ahhh… aku mau… mau keluar…”Tangannya mencengkeram bahuku kuat, kuku-kukunya meninggalkan bekas merah kecil. Payudaranya bergoyang-goyang setiap dorongan, putingnya bergesekan dengan dadaku.Aku menurunkan salah satu kakinya, mengubah sudut agar bisa masuk lebih dalam lagi. Posisi ini membuat kepala kontolku menggesek titik sensitif di dinding depan dalamnya.Rina tiba-tiba menegang hebat.“Aku… mau… ahhh… jangan berhenti… jangan berhenti… aku—”Tubuhnya bergetar keras. Dinding dalamnya berkontraksi kuat, memeras kontolku berulang-ulang seperti ingin menelannya. Dia orgasme dengan mulut terbuka lebar, suaranya tertahan di tenggorokan, hanya keluar erangan panjang yang terputus-putus.“Aaahhh… keluar… aku keluar… ohhh…”Aku tidak bisa tahan lagi. Beberapa dorongan lagi, aku menyemprotkan dalam-dalam, denyut demi denyut, mengisi ruang di dalamnya sampai terasa penuh dan hangat.Kami berdua terdiam beberapa saat, hanya napas tersengal dan detak jantung yang saling beradu.Rina akhirnya membuka mata, menatapku dengan pandangan yang campur aduk — malu, puas, dan sedikit takut.“Kita… harus hati-hati,” bisiknya pelan, tangannya membelai pipiku. “Tapi… aku suka banget… terlalu suka malah.”Aku hanya tersenyum, masih berada di dalamnya, merasakan kehangatan yang perlahan mereda sambil sinar matahari pagi semakin terang menerangi dapur.Hari itu baru saja dimulai, tapi kami berdua tahu, batas yang selama ini kami jaga sudah runtuh sepenuhnya