Di lereng bukit yang selalu diselimuti kabut, tumbuh sebuah tanaman yang oleh warga disebut Daun Pahit. Batangnya hijau gelap, urat daunnya merah kehitaman, dan getahnya berbau tajam. Tak ada hewan berani memakannya. Sekali salah olah, racunnya bisa merenggut nyawa.
Karena itu, Daun Pahit dijauhi. Anak-anak dilarang mendekat, para petani tak sudi menyingkirkannya. Ia dianggap kutukan yang tumbuh di tanah desa.
Namun di ujung kampung, hiduplah seorang tabib tua bernama Mbah Sura. Rambutnya memutih, tangannya bergetar, tapi matanya jernih seperti air pagi. Ia justru mencari Daun Pahit saat orang lain menghindar.
“Segala yang menyakitkan,” katanya pelan, “tak selalu datang untuk membunuh.”
Suatu musim, wabah datang. Demam membakar tubuh warga, obat biasa tak lagi mempan. Tangis dan doa bercampur di rumah-rumah bambu. Mbah Sura pun memetik Daun Pahit—dengan hitungan yang sangat teliti. Ia menumbuknya, merebusnya, lalu menyaringnya hingga racunnya tinggal setitik.
Ramuan itu pahit luar biasa. Lidah menolak, perut memberontak. Namun perlahan, panas tubuh turun. Nafas yang berat menjadi ringan. Sakit mundur seperti bayangan terkena cahaya.
Desa pun sembuh.
Sejak saat itu, Daun Pahit tak lagi disebut kutukan. Ia disebut Tumbuhan Batas—karena di sanalah garis antara mati dan hidup ditentukan. Salah takaran, ia racun. Tepat ukuran, ia penolong.
Orang-orang pun belajar satu hal:
bahwa yang beracun tak selalu jahat,
dan yang menyembuhkan tak selalu manis.
Seperti hidup—
kadang yang paling menyakitkan justru
menjadi obat yang paling jujur.
Tamat.