Di sebuah negeri bernama Balairung Kata, kata-kata memiliki kekuatan yang aneh. Apa pun yang dipercaya banyak orang akan perlahan menjadi nyata, sementara kebenaran yang tak dipercaya akan memudar seperti kabut pagi.
Di negeri itu hiduplah Arsa, seorang penulis muda yang gemar berkata jujur. Ia menulis tentang panen yang gagal, tentang sungai yang tercemar, tentang pemimpin yang lupa janji. Tulisan-tulisannya benar, namun pahit. Orang-orang menutup telinga.
Di sisi lain ada Nira, seorang pencerita ulung. Ia pandai merangkai kata indah. Ia berkata panen melimpah, sungai jernih, pemimpin bijak—meski semua itu belum terjadi. Orang-orang menyukainya. Mereka ingin percaya.
Lama-kelamaan, sesuatu yang ganjil terjadi.
Sawah yang sering disebut Nira sebagai “emas hijau” mulai benar-benar menghijau. Sungai yang ia puji perlahan dibersihkan oleh warga, karena mereka ingin ceritanya nyata. Kebohongan yang diulang dengan harapan berubah menjadi kenyataan.
Sementara itu, tulisan Arsa disebut dusta.
“Kau hanya menyebar ketakutan,” kata orang-orang.
Kebenaran yang ia tulis tak lagi dipercaya. Ia dituduh berbohong, meski faktanya tepat.
Suatu hari, kekeringan besar datang. Nira menulis bahwa hujan akan turun esok hari. Orang-orang percaya dan menunggu. Mereka tak menyiapkan apa-apa. Hujan tak pernah datang.
Arsa menulis peringatan, namun kali ini suaranya tenggelam.
Barulah saat lumbung kosong dan sumur mengering, orang-orang tersadar. Mereka mencari Arsa, membaca ulang tulisannya, dan menemukan kebenaran yang lama mereka sebut dusta.
Nira berdiri di alun-alun, menunduk.
“Aku tak bermaksud menipu,” katanya.
“Aku hanya memberi apa yang ingin mereka dengar.”
Arsa menjawab pelan,
“Kata-kata bisa membangun, tapi juga bisa membutakan.”
Sejak hari itu, Balairung Kata belajar pelan-pelan. Mereka tak lagi menelan cerita hanya karena indah, dan tak menolak kebenaran hanya karena pahit.
Karena pada akhirnya,
kebohongan bisa menjadi kenyataan jika dipercaya tanpa pikir,
dan kebenaran bisa menjadi dusta jika ditolak tanpa dengar.
Tamat.