Di sebuah desa yang tenang, hiduplah dua pemuda yang sering disebut-sebut oleh warga. Yang satu bernama Raka, terkenal pintar. Ia cepat memahami pelajaran, lidahnya tajam saat berdebat, dan sering merasa paling benar. Yang satunya lagi Bagas, kerap dianggap bodoh karena lambat berbicara dan jarang mengemukakan pendapat.
Suatu hari, kepala desa memanggil keduanya.
“Aku ingin kalian menemaniku ke hutan mencari mata air yang baru,” katanya.
Raka berjalan paling depan. Ia yakin dengan ingatannya tentang peta dan arah. Ia memilih jalan yang menurutnya benar, meski jarang bertanya. Bagas mengikuti di belakang, memperhatikan jejak tanah, suara burung, dan arah angin.
Saat hari mulai terik, Raka kebingungan. Jalan yang ia pilih berakhir di tebing buntu. Ia kesal dan menyalahkan keadaan.
Bagas mendekat pelan.
“Aku melihat rumput selalu lebih hijau ke arah timur,” katanya.
“Biasanya di sana ada air.”
Mereka mengikuti petunjuk Bagas dan menemukan mata air yang jernih.
Dalam perjalanan pulang, Raka terdiam lama.
“Aku pintar, tapi mengapa aku yang salah?”
Bagas tersenyum.
“Pintar itu soal tahu banyak hal. Tapi bijak itu soal tahu kapan mendengar.”
Kepala desa menutup perjalanan dengan nasihat,
“Orang pintar yang merasa paling tahu akan berhenti belajar.
Orang yang dianggap bodoh, tapi mau mengamati dan rendah hati, sering kali menemukan kebenaran.”
Sejak hari itu, Raka belajar merendahkan diri. Bagas belajar percaya diri. Warga desa pun mengerti:
Pintar bukan tentang mengalahkan orang lain,
dan bodoh bukan tentang kurangnya akal,
melainkan tentang sikap terhadap pengetahuan.
Tamat.