Di sebuah desa kecil di lereng bukit, hiduplah dua orang pengrajin yang sering dibanding-bandingkan warga. Yang pertama bernama Wira, seorang pemahat batu. Tangannya kuat, suaranya keras seperti bunyi pahatnya. Patung-patung batunya berdiri tegak di halaman rumah orang-orang kaya.
Yang kedua bernama Sari, pengrajin tanah liat. Tangannya lembut, tutur katanya halus. Ia membuat kendi, gentong, dan periuk yang dipakai sehari-hari oleh warga desa.
Suatu sore, orang-orang berkumpul di balai desa.
“Siapa yang paling hebat?” tanya seorang warga.
“Pemahat batu atau pengrajin tanah liat?”
Wira maju dengan bangga.
“Batu itu kuat. Hasil karyaku bisa bertahan puluhan tahun. Tak mudah hancur.”
Sari tersenyum tenang.
“Tanah liat memang rapuh sebelum dibakar, tapi dari sanalah orang bisa minum, memasak, dan hidup.”
Perdebatan makin ramai. Kepala desa lalu memberi ujian.
Saat musim hujan datang, sungai meluap. Batu-batu pahatan Wira dipakai memperkuat tanggul. Desa selamat dari banjir. Orang-orang memuji Wira.
Namun ketika kemarau panjang tiba, sumur mengering. Kendi dan gentong buatan Sari menyimpan air hujan. Warga bisa bertahan. Kini giliran Sari dipuji.
Wira dan Sari saling memandang. Tak ada lagi kesombongan.
“Batu memang kuat,” kata Wira pelan,
“tapi tanpa wadah, air tak bisa disimpan.”
“Tanah liat memang lembut,” jawab Sari,
“tapi tanpa batu, rumah takkan kokoh.”
Sejak itu, warga desa tak lagi bertanya siapa yang paling hebat. Mereka mengerti, hidup berjalan seimbang bila kekuatan dan kelembutan saling melengkapi.
Tak ada yang paling hebat sendirian. Yang berguna adalah yang tahu perannya.
Tamat.