Di sebuah sungai jernih yang mengalir perlahan menuju laut, hiduplah Ikan Air Tawar. Ia terbiasa dengan air yang tenang, batu-batu licin, dan akar pohon yang menjulur ke dasar sungai. Baginya, sungai adalah seluruh dunia.
Suatu hari, arus pasang membawa seekor tamu dari arah muara: Ikan Air Asin. Sisiknya berkilau terkena cahaya matahari, tubuhnya kuat oleh ombak, namun geraknya tampak berat saat memasuki air sungai.
“Kau berasal dari mana?” tanya Ikan Air Tawar heran.
“Airmu terasa asing bagiku.”
Ikan Air Asin tersenyum lemah.
“Aku datang dari laut yang luas. Air di sini berbeda, namun tenang.”
Mereka berenang bersama menyusuri sungai. Ikan Air Tawar menunjukkan tempat-tempat aman untuk berlindung. Ikan Air Asin bercerita tentang gelombang besar, angin kencang, dan cakrawala tanpa batas. Keduanya saling mendengar, meski tubuh mereka perlahan merasa tak nyaman.
Air sungai membuat tubuh Ikan Air Asin melemah. Sebaliknya, rasa asin yang terbawa arus membuat Ikan Air Tawar pusing.
“Kita tak diciptakan untuk tinggal di tempat yang sama,” kata Ikan Air Tawar dengan sedih.
“Namun aku senang pernah bertemu.”
Ikan Air Asin mengangguk.
“Perbedaan bukan untuk dipaksa, melainkan dipahami.”
Saat arus surut, Ikan Air Asin kembali ke laut. Ikan Air Tawar mengantar hingga batas muara. Mereka berpisah dengan damai.
Sejak hari itu, Ikan Air Tawar tahu bahwa dunia lebih luas dari sungainya. Dan Ikan Air Asin membawa pulang ketenangan yang ia pelajari dari sungai.
Perbedaan bukan penghalang untuk saling menghargai.
Tamat.